Lima hari lagi.
Hanya lima hari lagi sebelum keberangkatan.
Untuk pertama kalinya sejak semua déjà vu itu muncul, Rania tidak lagi menunggu setiap kilasan dengan rasa ingin tahu.
Ia justru membencinya.
Setiap kali pandangannya tiba-tiba membeku, ia merasa seolah sedang menerima vonis baru.
Bukan karena kejadian yang dilihatnya selalu buruk.
Sebagian besar justru sangat sepele.
Namun setiap kejadian yang menjadi kenyataan adalah pengingat bahwa satu-satunya masa depan yang tidak pernah ia lihat tetaplah Umrah.
Dan semakin banyak bukti yang terkumpul, semakin sulit baginya mempertahankan harapan.
Pagi itu Rania sedang menyapu halaman ketika sensasi itu kembali datang.
Ia melihat ember biru di dekat keran akan terguling.
Air mengalir ke jalan.
Seekor ayam tetangga berlari ketakutan.
Selesai.
Kilasan itu begitu singkat hingga ia nyaris tidak menghiraukannya.
Begitu kesadarannya kembali, ia segera mengambil ember tersebut.
Ia mengosongkannya.
Lalu menyimpannya di dalam gudang.
"Sudah."
"Tidak mungkin terjadi."
Beberapa menit kemudian, Bu Siska datang meminjam ember.
Rania memberikannya.
Tak lama setelah itu terdengar suara benda jatuh.
Ember yang sama terguling ketika Bu Siska mengisinya di halaman rumah.
Air tetap mengalir ke jalan.
Seekor ayam tetap berlari ketakutan.
Persis seperti yang ia lihat.
Rania menundukkan kepala.
"Aku tidak mau percaya lagi..."
Bisiknya lirih.
Siang harinya ia menerima kilasan lain.
Anak kecil di depan rumah akan menjatuhkan layang-layang ke atap tetangga.
Begitu déjà vu selesai, Rania memanggil anak itu.
"Mainnya di lapangan saja, ya."
"Iya, Bu."
Anak itu menurut.
Rania merasa lega.
Namun satu jam kemudian angin bertiup cukup kencang.
Layang-layang anak lain putus.
Benangnya tersangkut pada gulungan milik bocah yang tadi ia nasihati.
Keduanya jatuh bersama di atap tetangga.
Hasil akhirnya tetap sama.
Rania mengembuskan napas panjang.
Semakin keras ia berusaha menyangkal, semakin cepat kenyataan datang membantahnya.
Malamnya ia tidak membuka Buku Catatan Takdir.
Untuk pertama kalinya sejak buku itu dibuat, ia membiarkannya tetap berada di dalam laci.
"Aku tidak mau mencatat lagi."
Kalimat itu diucapkannya sambil menutup laci.
Kalau buku itu tidak dibuka...
Kalau kejadian-kejadian itu tidak ditulis...
Mungkin semuanya akan terasa lebih ringan.
Namun keesokan paginya déjà vu tetap datang.
Ia melihat gelas kaca di dapur akan pecah.
Lima menit kemudian terdengar suara pecahan.
Ia tidak mencatatnya.
Tetapi ia tetap mengingatnya.
Siang harinya ia melihat seorang kurir salah mengantar paket.