Fate & Future

Vitri Dwi Mantik
Chapter #13

Pertemuan yang Mengubah Cara Pandang

Tiga hari sebelum keberangkatan.

Rumah Rania telah lebih rapi daripada biasanya. Koper berdiri di dekat pintu, map berisi paspor dan tiket tersimpan di dalam tas kecil yang tak pernah lepas dari pengawasannya, sementara daftar perlengkapan yang ia buat telah dicentangi seluruhnya.

Secara lahiriah, tidak ada lagi yang perlu dipersiapkan.

Namun batinnya justru semakin berantakan.

Ia masih terbangun beberapa kali setiap malam.

Masih membuka tas untuk memastikan paspor ada di tempatnya.

Masih mengecek tiket elektronik meski sudah hafal nomor penerbangannya.

Dan yang paling melelahkan, ia masih berharap setiap déjà vu berikutnya akhirnya memperlihatkan satu potong kecil perjalanan menuju Baitullah.

Harapan yang selalu berakhir dengan kecewa.

Hari itu biro perjalanan mengadakan pertemuan singkat sebelum keberangkatan. Bukan manasik lagi, melainkan doa bersama dan pembagian tanda pengenal rombongan.

Suasananya hangat.

Beberapa calon jemaah saling bertukar cerita.

Ada yang pertama kali naik pesawat.

Ada yang baru pertama kali keluar negeri.

Ada pula pasangan suami istri yang sudah menunggu belasan tahun untuk bisa berangkat.

Rania duduk di barisan belakang.

Ia tidak banyak berbicara.

Sesekali ia tersenyum ketika diajak mengobrol, tetapi pikirannya terus melayang pada halaman kosong di dalam Buku Catatan Takdir.

Usai acara, sebagian peserta mulai pulang.

Rania sengaja tetap duduk.

Entah mengapa, ia belum ingin kembali ke rumah.

Di sudut ruangan, seorang perempuan sepuh sedang merapikan beberapa mushaf Al-Qur'an yang digunakan selama pertemuan.

Rambutnya telah memutih seluruhnya, tertutup kerudung krem sederhana. Wajahnya dipenuhi keriput, tetapi sorot matanya teduh.

Beliau adalah Ustazah Maryam, pembimbing manasik yang sejak awal lebih banyak berbicara tentang hati daripada tata cara ibadah.

Ketika peserta lain sibuk bertanya tentang koper, cuaca, atau oleh-oleh, beliau justru sering mengingatkan,

"Yang paling berat dibawa ke Tanah Suci bukan koper. Yang paling berat adalah hati yang belum selesai berdamai."

Kalimat itu tiba-tiba teringat kembali oleh Rania.

"Belum pulang, Bu?"

Suara lembut itu membuyarkan lamunannya.

Rania tersenyum.

"Belum, Ustazah."

"Duduk sebentar."

Ustazah Maryam mengambil tempat di sampingnya.

"Kelihatannya ada yang sedang dipikirkan."

Rania refleks menggeleng.

"Tidak apa-apa."

Ustazah hanya tersenyum.

"Kalau tidak apa-apa, biasanya wajah orang tidak seberat itu."

Kalimat sederhana itu membuat pertahanan Rania mulai runtuh.

Sudah berminggu-minggu ia menyimpan semuanya sendirian.

Ia tidak pernah menceritakan tentang déjà vu kepada siapa pun.

Takut dianggap aneh.

Takut dianggap mengada-ada.

Namun hari itu, untuk pertama kalinya, ia merasa ingin didengarkan.

"Boleh saya bertanya sesuatu, Ustazah?"

"Tentu."

"Bagaimana kalau..."

Rania berhenti.

Ia mencari kata-kata yang tepat.

"Bagaimana kalau seseorang terlalu takut pada sesuatu yang bahkan belum terjadi?"

Ustazah Maryam memandangnya beberapa saat.

"Lalu?"

"Semakin dekat waktunya... semakin besar rasa takut itu."

"Karena ada alasan?"

Rania terdiam.

"Ada."

"Tapi saya tidak bisa menjelaskannya."

Ustazah mengangguk pelan.

"Kalau begitu, jangan jelaskan alasannya."

"Ceritakan saja ketakutannya."

Kalimat itu membuat bendungan di hati Rania perlahan retak.

Ia tidak menceritakan tentang kemampuan melihat masa depan.

Ia tidak menceritakan buku catatan.

Ia tidak menceritakan ratusan prediksi yang selalu benar.

Lihat selengkapnya