Dua hari sebelum keberangkatan.
Untuk pertama kalinya sejak mengikuti seluruh rangkaian persiapan Umrah, telepon dari biro perjalanan datang lebih pagi daripada biasanya.
Rania sedang menyeduh teh ketika ponselnya berdering.
Nama petugas travel muncul di layar.
Dadanya langsung berdebar.
Entah mengapa, ia selalu takut menerima panggilan itu.
"Assalamu'alaikum, Bu Rania."
"Wa'alaikumussalam."
"Ada sedikit perubahan jadwal."
Kalimat itu membuat jemarinya menegang.
"Perubahan?"
"Iya, Bu. Jadwal berkumpul dimajukan satu jam karena maskapai mengubah waktu check-in rombongan."
Rania terdiam beberapa detik.
Hanya itu.
Tidak ada pembatalan.
Tidak ada masalah.
Namun entah mengapa, jantungnya tetap berdegup lebih cepat.
"Baik, Pak."
"Nanti kami kirimkan jadwal terbaru."
Telepon ditutup.
Rania masih berdiri memandangi layar ponselnya.
Perubahan kecil itu semestinya bukan masalah.
Tetapi bagi seseorang yang selama berminggu-minggu hidup dalam bayang-bayang ketakutan, perubahan sekecil apa pun terasa seperti awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Siang harinya, pesan demi pesan masuk ke grup rombongan.
"Mohon perhatian, jadwal keberangkatan mengalami penyesuaian."
"Mohon seluruh jemaah hadir lebih awal."
"Jangan lupa membawa dokumen asli."
Percakapan grup menjadi ramai.
Sebagian bertanya tentang koper.
Sebagian lagi tentang batas bagasi.
Ada yang mengirimkan doa-doa.
Ada yang membagikan foto koper yang sudah siap.
Rania membaca semuanya tanpa ikut menulis.
Di kepalanya hanya ada satu pikiran.
"Kenapa harus berubah?"
Kalimat itu terus berputar.
Padahal perubahan jadwal penerbangan adalah hal yang biasa.
Namun pikirannya tidak lagi mengenal kata biasa.
Sore itu déjà vu datang lagi.
Ia melihat seorang pria mengenakan jaket biru duduk sambil memegang dadanya.
Orang-orang mengerumuninya.
Seorang petugas memanggil ambulans.
Kilasan itu berakhir begitu cepat.
Rania mengusap wajahnya.
"Siapa dia?"
Ia tidak mengenali wajah pria itu.
Mungkin orang asing.
Mungkin seseorang yang tak akan pernah ditemuinya.
Ia mencoba melupakannya.
Keesokan paginya, grup rombongan kembali ramai.
Seorang peserta laki-laki yang berusia sekitar enam puluh tahun mendadak dilarikan ke rumah sakit karena nyeri dada saat sedang berkemas.
Belum diketahui apakah ia masih bisa ikut berangkat.
Foto yang dikirim keluarganya memperlihatkan seorang pria...
...mengenakan jaket biru.
Tubuh Rania mendadak dingin.
Kilasan itu.
Benar lagi.
Beberapa anggota grup segera mengirim doa.
"Semoga lekas sembuh."
"Semoga Allah mudahkan."
"Semoga tetap bisa berangkat."
Rania ikut mengetik doa.
Namun jemarinya gemetar.
Satu masalah telah muncul.
Padahal keberangkatan tinggal hitungan hari.
Belum selesai kegelisahan itu, siang harinya datang kabar lain.
Salah seorang jemaah perempuan menemukan kesalahan penulisan satu huruf pada nama di dokumen penerbangannya.
Biro perjalanan segera menghubungi maskapai.