Fate & Future

Vitri Dwi Mantik
Chapter #15

Malam Penuh Keraguan

Malam itu adalah malam terakhir sebelum Rania berangkat menuju kota tempat seluruh rombongan akan berkumpul.

Rumahnya begitu sunyi.

Koper telah berdiri di dekat pintu sejak sore. Tas kecil berisi paspor, visa, tiket, dan dompet diletakkan di atas meja ruang tamu. Pakaian yang akan dikenakan esok pagi telah digantung rapi di balik pintu kamar.

Tidak ada lagi yang perlu dipersiapkan.

Semua sudah selesai.

Justru karena semuanya telah selesai, tidak ada lagi yang bisa digunakan Rania untuk mengalihkan pikirannya.

Kini ia harus berhadapan dengan dirinya sendiri.

Selepas salat Isya, ia duduk sendirian di ruang tamu.

Lampu hanya dinyalakan satu.

Cahayanya redup.

Bayangan perabot memenuhi sudut-sudut ruangan.

Sudah berbulan-bulan ia menunggu malam ini.

Dulu ia membayangkannya dengan penuh sukacita.

Malam terakhir sebelum menjadi tamu Allah.

Malam terakhir sebelum mimpi yang ia bangun bersama Arif akhirnya menjadi kenyataan.

Namun kenyataannya berbeda.

Yang menemaninya malam itu bukan rasa syukur.

Melainkan rasa takut yang perlahan berubah menjadi putus asa.

Ponselnya berbunyi beberapa kali.

Grup rombongan dipenuhi pesan.

"Sampai bertemu besok pagi."

"Jangan lupa istirahat."

"Semoga perjalanan kita dimudahkan Allah."

Beberapa jemaah mengirim foto koper yang telah ditempeli label.

Ada yang mengirim gambar Ka'bah disertai doa.

Ada pula yang menulis,

"Tidak sabar menjadi tamu Allah."

Rania membaca semuanya.

Lalu mematikan layar ponsel.

Ia tidak sanggup ikut membalas.

Ia takut memberi harapan kepada dirinya sendiri.

Ia berjalan menuju kamar.

Di atas lemari masih tergantung foto kecil dirinya dan Arif.

Foto itu diambil bertahun-tahun lalu.

Saat mereka masih sibuk menabung sedikit demi sedikit.

Kala itu Arif pernah bercanda,

"Nanti kalau kita sudah di depan Ka'bah, jangan lupa doakan rumah kecil kita."

Rania masih ingat bagaimana mereka tertawa.

Mereka begitu yakin akan pergi bersama.

Takdir ternyata memilih jalan lain.

Kini Arif telah tiada.

Dan Rania justru tidak yakin dirinya akan mampu menyusul impian itu seorang diri.

Ia mengambil bingkai foto tersebut.

Mengusap debu tipis di sudutnya.

"Mas..."

"Aku sudah sampai sejauh ini."

"Tapi kenapa rasanya justru semakin jauh?"

Air mata mulai mengalir.

Sudah lama ia tidak menangis seperti ini.

Selama berbulan-bulan ia selalu berusaha tampak kuat.

Di depan tetangga.

Di depan biro perjalanan.

Di depan peserta manasik.

Bahkan di depan dirinya sendiri.

Malam itu seluruh kepura-puraan itu runtuh.

Ia menangis seperti anak kecil yang kehilangan arah.

Setelah beberapa lama, ia mengambil Buku Catatan Takdir.

Buku itu terasa lebih berat daripada biasanya.

Tangannya membuka halaman-halaman yang telah dipenuhi tulisan.

Ratusan catatan.

Tanggal.

Jam.

Tempat.

Lihat selengkapnya