Fate & Future

Vitri Dwi Mantik
Chapter #16

Hari Keberangkatan

Fajar bahkan belum benar-benar menyingsing ketika Rania membuka pintu rumahnya.

Udara dini hari masih dingin. Jalanan di depan rumah tampak lengang, hanya sesekali terdengar suara kendaraan yang melintas di kejauhan. Lampu teras memantulkan cahaya kekuningan ke atas koper yang berdiri tegak di samping pintu.

Hari itu akhirnya datang.

Hari yang selama bertahun-tahun hanya hidup sebagai doa.

Hari yang selama berbulan-bulan berubah menjadi sumber ketakutan.

Hari keberangkatan.

Rania berdiri beberapa saat di ambang pintu.

Tatapannya menyapu ruang tamu yang kini kosong. Sofa tempat ia biasa menyunting naskah. Rak buku yang dipenuhi novel dan kamus. Jendela tempat ia sering memandangi hujan sambil menunggu datangnya déjà vu.

Di atas meja masih ada secangkir teh yang belum sempat disentuh.

Rumah itu akan ditinggalkannya selama beberapa hari.

Ia menarik napas panjang.

"Assalamu'alaikum."

Kalimat itu diucapkannya pelan, seolah berpamitan kepada rumah yang telah menemaninya melewati begitu banyak musim kehilangan.

Kemudian ia menarik koper keluar.

Pintu ditutup perlahan.

Kuncinya diputar dua kali.

Selesai.

Tidak ada lagi yang bisa ia persiapkan.

Mobil biro perjalanan tiba tepat waktu.

Beberapa calon jemaah sudah berada di dalam.

Mereka menyambut Rania dengan wajah cerah.

"Alhamdulillah, akhirnya berangkat juga."

"Sudah tidak sabar melihat Ka'bah."

"Semoga semuanya lancar."

Rania membalas senyum mereka.

"Insya Allah."

Ia duduk di dekat jendela.

Kota masih tertidur ketika mobil mulai bergerak.

Lampu-lampu jalan membentuk garis-garis panjang di balik kaca.

Sesekali ia memandang langit yang perlahan berubah dari hitam menjadi biru tua.

Biasanya, perjalanan seperti ini sering memicu datangnya déjà vu.

Terutama ketika pikirannya sedang tenang.

Namun pagi itu...

Tidak ada apa-apa.

Tidak ada pandangan yang membeku.

Tidak ada suara yang menghilang.

Tidak ada potongan masa depan.

Hanya perjalanan yang terus bergerak ke depan.

Di tengah perjalanan, salah seorang jemaah mulai melantunkan talbiyah dengan suara lirih.

"Labbaikallahumma labbaik..."

Beberapa orang mengikutinya.

Suara itu perlahan memenuhi kabin mobil.

Tidak keras.

Tidak pula serempak.

Namun cukup untuk membuat suasana berubah.

Rania ikut menggerakkan bibirnya.

Sudah lama ia menghafal kalimat itu.

Berkali-kali ia melafalkannya di rumah.

Namun pagi ini terasa berbeda.

Untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak lagi sekadar latihan.

Perjalanan menuju rumah Allah benar-benar telah dimulai.

Entah mengapa, dadanya justru terasa lebih ringan.

Bandara mulai terlihat dari kejauhan.

Gedung kaca yang luas itu perlahan membesar.

Mobil memasuki area keberangkatan.

Para petugas sibuk mengatur lalu lintas kendaraan.

Troli koper berbaris rapi.

Orang-orang berlalu-lalang membawa tas dan koper dengan berbagai ukuran.

Semuanya tampak seperti hari-hari biasa di sebuah bandara.

Tidak ada tanda-tanda kekacauan.

Tidak ada kepanikan.

Tidak ada kejadian luar biasa.

Rania turun dari mobil.

Tangannya menggenggam gagang koper.

Lihat selengkapnya