Fate & Future

Vitri Dwi Mantik
Chapter #17

Negeri yang Tidak Pernah Ia Lihat

Pesawat menyentuh landasan dengan lembut.

Suara roda yang bergesekan dengan aspal terdengar sesaat, diikuti tepuk tangan kecil dari beberapa penumpang. Sebagian jemaah langsung mengucapkan hamdalah. Ada yang menitikkan air mata. Ada pula yang memeluk pasangannya dengan wajah penuh syukur.

Rania hanya memejamkan mata.

Alhamdulillah.

Satu kalimat itu memenuhi seluruh dadanya.

Ia telah tiba.

Bukan di dalam sebuah penglihatan.

Bukan di dalam déjà vu.

Melainkan di dunia nyata.

Ketika pintu pesawat dibuka, udara yang berbeda langsung menyambut mereka.

Hangat.

Kering.

Tidak sama dengan udara lembap yang setiap hari ia hirup di Indonesia.

Rania menarik napas panjang.

Ada aroma yang sulit dijelaskan.

Bukan aroma bunga.

Bukan pula aroma hujan.

Melainkan aroma tanah yang telah lama menyimpan sejarah.

Selama ini ia hanya mengenal negeri ini melalui foto, video, dan cerita orang-orang.

Kini ia benar-benar berdiri di atasnya.

Dan yang paling mengejutkan adalah satu hal.

Tidak ada sedikit pun rasa bahwa ia pernah berada di sini.

Selama berbulan-bulan, Rania hidup bersama kejadian-kejadian yang selalu terasa familiar sebelum benar-benar terjadi.

Suara.

Wajah.

Lorong.

Langkah kaki.

Semuanya pernah ia alami lebih dahulu melalui déjà vu.

Namun sekarang...

Tidak ada.

Lorong bandara yang panjang itu benar-benar asing.

Tulisan Arab di dinding terasa baru.

Suara petugas imigrasi terdengar baru.

Bahkan langkahnya sendiri terasa seperti langkah pertama seorang anak kecil yang sedang belajar mengenal dunia.

Ia berhenti sejenak.

Menyentuh dinding kaca di dekat lorong.

Dingin.

Nyata.

Tidak ada bayangan masa depan yang mendahuluinya.

"Bu Rania..."

Ustazah Maryam berjalan di sampingnya.

"Bagaimana rasanya?"

Rania tersenyum pelan.

"Seperti..."

Ia mencari kata-kata.

"...seperti benar-benar hidup."

Ustazah tersenyum tanpa berkata apa-apa.

Proses imigrasi berlangsung tertib.

Satu per satu jemaah menyerahkan paspor.

Petugas memindai sidik jari.

Memberikan cap masuk.

Selesai.

Ketika paspor Rania dikembalikan, ia memandang cap itu beberapa detik.

Tanggal.

Nama negara.

Semuanya nyata.

Berkali-kali ia membayangkan momen ini.

Namun ternyata kenyataan jauh lebih sederhana daripada semua bayangan yang pernah ia ciptakan.

Di luar bandara, deretan bus telah menunggu.

Langit Madinah tampak biru cerah.

Lihat selengkapnya