Pagi pertama di Madinah dimulai dengan suara azan yang menggema lembut di antara bangunan-bangunan berwarna krem.
Rania terbangun sebelum alarm di telepon genggamnya berbunyi.
Beberapa detik ia hanya berbaring sambil memandangi langit-langit kamar hotel.
Ia tidak langsung mengingat jadwal hari itu.
Tidak memikirkan koper.
Tidak memikirkan paspor.
Tidak memikirkan halaman kosong di dalam Buku Catatan Takdir.
Yang pertama kali ia sadari justru sesuatu yang sangat sederhana.
Dadanya terasa ringan.
Ia membuka jendela.
Udara pagi yang sejuk menyambut wajahnya.
Di kejauhan, pelataran Masjid Nabawi mulai dipenuhi orang-orang yang berjalan dengan tenang.
Laki-laki dan perempuan dari berbagai negara.
Berbagai warna kulit.
Berbagai bahasa.
Namun semua melangkah menuju tempat yang sama.
Rania memandang mereka cukup lama.
Biasanya, pada jam-jam seperti ini, ia mulai bertanya dalam hati.
"Apa yang akan terjadi beberapa menit lagi?"
"Apakah déjà vu akan datang?"
Hari ini pertanyaan itu tidak muncul.
Bukan karena ia sengaja menahannya.
Melainkan karena ia benar-benar lupa.
Di ruang makan hotel, para jemaah menikmati sarapan bersama.
Suasananya hangat.
Ada yang bercerita tentang salat Subuh di Masjid Nabawi.
Ada yang kagum melihat kebersihan kota.
Ada yang tertawa karena masih bingung menghafal jalan kembali ke hotel.
Rania ikut mendengarkan.
Sesekali tersenyum.
Sesekali menjawab pertanyaan.
Tanpa sadar, satu jam berlalu.
Lalu dua jam.
Tidak ada satu pun sensasi yang selama ini begitu akrab.
Tidak ada pandangan yang membeku.
Tidak ada suara yang menjauh.
Tidak ada potongan masa depan.
Ia baru benar-benar menyadarinya ketika sedang berjalan menuju masjid.
Langkahnya tiba-tiba melambat.
"Bukankah..."
Ia berhenti.
Sudah hampir sehari penuh.
Tidak ada déjà vu.
Rania berdiri di bawah payung raksasa yang mulai membuka perlahan.
Ia memejamkan mata.
Menunggu.
Tidak ada apa-apa.
Ia membuka mata kembali.
Masih tidak ada.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
Keheningan memenuhi pikirannya.
Dulu, keheningan seperti itu pasti membuatnya panik.
Ia akan bertanya-tanya apakah kemampuan itu hilang.
Apakah sesuatu akan terjadi.
Apakah ini pertanda lain.
Namun kali ini berbeda.
Yang muncul bukan kepanikan.
Melainkan rasa damai yang belum pernah ia rasakan.
Seolah-olah seseorang telah mengangkat beban yang selama ini tanpa sadar ia pikul setiap hari.
Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali déjà vu datang.
Di bandara?
Tidak.