Perjalanan dari Madinah menuju Makkah dimulai selepas Subuh.
Bus melaju perlahan meninggalkan kota yang selama beberapa hari terakhir telah mengisi hati Rania dengan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Di dalam bus, suasana jauh lebih hening dibandingkan saat keberangkatan dari Indonesia.
Sebagian jemaah membaca Al-Qur'an.
Sebagian melafalkan talbiyah.
Ada pula yang hanya memandang keluar jendela, menikmati hamparan padang pasir yang membentang tanpa ujung.
Rania termasuk yang terakhir.
Ia menyandarkan kepala pada kaca jendela.
Memandang langit yang bersih.
Bukit-bukit batu berwarna kecokelatan.
Sesekali pohon-pohon kecil yang berdiri sendirian di tengah padang.
Perjalanan itu terasa panjang.
Namun bukan perjalanan yang melelahkan.
Melainkan perjalanan yang perlahan membersihkan isi hatinya.
Di miqat, seluruh rombongan berhenti untuk mengambil miqat dan mengenakan ihram sesuai tuntunan.
Suasana menjadi lebih khusyuk.
Talbiyah mulai terdengar dari berbagai arah.
"Labbaikallahumma labbaik..."
Suara itu bergema memenuhi ruangan.
Rania ikut melafalkannya.
Setiap kalimat terasa berbeda.
Kini ia tidak lagi sekadar mengucapkannya.
Ia sedang menjawab panggilan.
Panggilan yang dahulu hanya menjadi impian dirinya dan Arif.
Panggilan yang sempat ia kira tidak akan pernah sampai kepadanya.
Air matanya mulai menggenang.
Namun ia mengusapnya pelan.
Masih ada perjalanan yang harus dilalui.
Bus kembali melaju.
Semakin mendekati Makkah, talbiyah semakin sering terdengar.
Tidak hanya dari rombongannya.
Bus-bus lain yang melintas juga dipenuhi suara yang sama.
Ratusan.
Mungkin ribuan.
Manusia dari berbagai penjuru dunia sedang menuju satu tempat yang sama.
Rania memandang mereka dengan hati yang bergetar.
Begitu banyak manusia.
Begitu banyak kisah.
Begitu banyak doa.
Namun tujuan mereka hanya satu.
Menjadi tamu Allah.
Menjelang sore, pembimbing rombongan berdiri di bagian depan bus.
"Insya Allah beberapa menit lagi kita memasuki Kota Makkah."
Semua jemaah spontan menoleh ke arah jendela.
Rania ikut menegakkan badan.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Namun kali ini bukan karena ketakutan.
Melainkan karena kerinduan yang bahkan belum pernah ia pahami sebelumnya.
Bus terus melaju.
Papan-papan penunjuk jalan mulai menunjukkan nama yang selama ini hanya ia baca di dalam buku.
Makkah.
Ia menatap tulisan itu lama.
Lalu tersenyum.
Begitu sederhana.
Namun cukup membuat matanya kembali basah.
Hotel tempat mereka menginap berada tidak terlalu jauh dari Masjidil Haram.
Setelah beristirahat sejenak dan bersiap, rombongan mulai berjalan bersama menuju masjid.
Matahari mulai condong ke barat.
Langit berwarna keemasan.
Jalanan dipenuhi manusia.