Fate & Future

Vitri Dwi Mantik
Chapter #20

Jawaban yang Tidak Pernah Dicari

Malam pertama di Makkah terasa berbeda.

Setelah menyelesaikan rangkaian ibadah hari itu, Rania kembali ke kamar hotel dengan langkah yang perlahan. Tubuhnya lelah, tetapi bukan kelelahan yang memberatkan. Ada rasa ringan yang sulit dijelaskan, seolah-olah selama ini ia membawa beban yang diam-diam telah diangkat oleh Allah tanpa ia sadari.

Ia membuka jendela kamar.

Dari kejauhan, sebagian menara Masjidil Haram masih terlihat diterangi cahaya putih yang lembut.

Lautan manusia belum juga berkurang.

Malam seolah tidak pernah benar-benar datang di kota itu.

Selalu ada orang yang sedang berjalan.

Selalu ada yang sedang berdoa.

Selalu ada yang sedang menangis.

Dan selalu ada yang sedang pulang dengan wajah yang lebih tenang daripada saat datang.

Rania duduk di dekat jendela.

Sudah lama sekali ia tidak menikmati diam.

Dulu, setiap keheningan selalu dipenuhi pertanyaan.

Apa yang akan kulihat berikutnya?

Apa yang akan terjadi nanti?

Apakah déjà vu akan datang?

Kini pertanyaan-pertanyaan itu telah menghilang.

Keheningan tidak lagi terasa kosong.

Keheningan justru terasa penuh.

Penuh syukur.

Penuh kedamaian.

Penuh kehadiran Allah.

Ia kembali mengingat saat pertama kali melihat Ka'bah beberapa jam sebelumnya.

Sampai sekarang, dadanya masih bergetar setiap kali mengingatnya.

Ia mencoba mengulang kembali momen itu di dalam pikirannya.

Lorong yang panjang.

Langkah yang semakin pelan.

Jantung yang berdebar.

Lalu...

Ka'bah.

Tidak ada satu pun bagian dari momen itu yang pernah ia lihat sebelumnya.

Tidak ada potongan gambar.

Tidak ada kilasan.

Tidak ada firasat.

Semuanya benar-benar baru.

Dan justru karena itulah setiap detiknya terasa begitu hidup.

Rania menutup mata.

Tiba-tiba ia teringat satu kebiasaan lamanya.

Setiap kali sebuah déjà vu menjadi kenyataan, ia selalu berusaha mengingat seberapa mirip penglihatan itu dengan kenyataan.

Hari ini ia tidak bisa melakukan itu.

Karena memang tidak ada yang bisa dibandingkan.

Pertemuan pertamanya dengan Ka'bah hanya memiliki satu versi.

Versi kenyataan.

Bukan versi bayangan.

Perlahan, sebuah pemahaman mulai tumbuh.

Begitu tenang hingga nyaris seperti bisikan.

Selama ini ia terus bertanya,

"Mengapa, ya Allah?"

Mengapa semua hal diperlihatkan kepadanya?

Lihat selengkapnya