Malam masih menyelimuti langit Makkah ketika rombongan bersiap melaksanakan tawaf.
Udara terasa lebih sejuk daripada siang hari. Cahaya lampu memantul lembut pada lantai marmer Masjidil Haram yang dipenuhi ribuan manusia. Dari berbagai penjuru dunia, orang-orang datang dengan pakaian ihram dan doa yang mungkin berbeda-beda, tetapi langkah mereka mengarah ke satu titik yang sama.
Ka'bah.
Rania berdiri beberapa saat sebelum memasuki pelataran tawaf.
Jantungnya berdegup pelan.
Bukan lagi karena cemas.
Melainkan karena rasa hormat yang begitu dalam.
Ia memandang bangunan suci itu dengan mata yang kini jauh lebih tenang dibandingkan hari pertama.
Hari ini ia tidak datang sebagai seseorang yang mencari jawaban.
Hari ini ia datang sebagai seorang hamba yang ingin bersyukur.
Pembimbing rombongan mengingatkan agar seluruh jemaah menjaga kekhusyukan.
"Kalau nanti terpisah, jangan panik."
"Fokuslah kepada ibadah."
"Allah yang mempertemukan kita di sini, Allah pula yang akan memudahkan."
Rania mengangguk pelan.
Dulu, kalimat seperti itu mungkin tidak akan cukup menenangkan dirinya.
Ia akan memikirkan kemungkinan tersesat.
Kemungkinan tertinggal.
Kemungkinan terjadi sesuatu.
Sekarang, ia hanya menarik napas perlahan.
Kemudian melangkah.
Arus manusia membawa mereka mendekati Ka'bah.
Semakin dekat.
Semakin jelas.
Kiswah hitam itu tampak begitu sederhana, namun begitu agung.
Tidak ada seorang pun yang dapat memandangnya tanpa merasakan sesuatu di dalam hati.
Rania ikut larut dalam arus itu.
Pelan.
Teratur.
Mengikuti putaran yang telah dilakukan jutaan manusia selama berabad-abad.
Satu langkah.
Lalu langkah berikutnya.
Dan berikutnya lagi.
Pada putaran pertama, pikirannya masih dipenuhi kekaguman.
Matanya berkali-kali memandang Ka'bah.
Sesekali ia menunduk.
Sesekali ia mengangkat tangan untuk berdoa.
Air mata masih mengalir tanpa ia sadari.
Namun perlahan, ketika langkah demi langkah mulai menemukan iramanya, pikirannya mulai berjalan ke arah yang berbeda.
Ke belakang.
Ke hidup yang telah ia tinggalkan di Indonesia.
Ia teringat rumah kecilnya.
Meja kerja yang selalu dipenuhi naskah.
Cangkir teh yang sering menemaninya hingga larut malam.
Jendela tempat ia duduk memandangi hujan.
Begitu banyak hari yang tampak biasa.
Namun kini terasa begitu berharga.
Ia dulu sering menganggap hidupnya berhenti setelah Arif meninggal.
Padahal ternyata...
Allah tidak menghentikan hidupnya.
Allah hanya mengubah jalannya.
Putaran kedua dimulai.
Rania teringat pada Arif.
Wajah suaminya hadir begitu jelas di dalam ingatannya.
Bukan sebagai kenangan yang menyakitkan.
Melainkan sebagai seseorang yang pernah berjalan bersamanya sejauh yang Allah izinkan.