Fate & Future

Vitri Dwi Mantik
Chapter #22

Sa'i

Usai menyelesaikan tawaf dan salat di belakang Maqam Ibrahim, rombongan bergerak perlahan menuju bukit Safa.

Langkah Rania terasa lebih ringan dibandingkan beberapa hari sebelumnya.

Tubuhnya memang mulai lelah.

Betisnya terasa pegal.

Namun hatinya justru semakin tenang.

Ia berjalan mengikuti arus jemaah dari berbagai penjuru dunia. Ada yang menggandeng pasangan, ada yang mendorong kursi roda orang tua, ada pula yang menggendong anak kecil yang mulai mengantuk.

Semua berjalan ke arah yang sama.

Semua membawa cerita yang berbeda.

Ketika tiba di dekat Bukit Safa, pembimbing rombongan mengingatkan kembali makna sa'i.

"Bukan sekadar berjalan tujuh kali."

"Ini adalah mengenang ikhtiar Hajar."

"Beliau berlari mencari air untuk putranya, Ismail."

"Beliau tidak tahu dari mana pertolongan akan datang."

"Tetapi beliau tetap berusaha."

Rania mendengarkan dengan saksama.

Kisah itu telah berkali-kali ia dengar.

Sejak kecil.

Di sekolah.

Di pengajian.

Saat manasik.

Namun baru hari itu ia merasa benar-benar memahami kisah tersebut.

Ia berdiri menghadap Ka'bah yang masih tampak dari kejauhan.

Kemudian memulai langkah pertamanya dari Safa.

Lorong sa'i begitu luas.

Lantainya mengilap.

Cahaya putih menerangi seluruh jalan.

Di kanan dan kiri, manusia terus bergerak tanpa henti.

Rania ikut berjalan.

Pelan.

Teratur.

Tidak terburu-buru.

Pada langkah-langkah pertama, pikirannya kembali kepada Hajar.

Seorang ibu.

Sendirian.

Di padang pasir.

Tidak ada bekal yang cukup.

Tidak ada mata air.

Tidak ada kepastian.

Yang ada hanya seorang bayi yang kehausan.

Dan sebuah perintah Allah yang belum ia pahami sepenuhnya.

Betapa besar keberanian itu.

Bukan keberanian karena mengetahui akhir cerita.

Melainkan keberanian untuk tetap melangkah tanpa mengetahui bagaimana cerita itu akan berakhir.

Rania menundukkan kepala.

Bukankah selama ini justru itulah yang gagal ia lakukan?

Ia selalu ingin mengetahui akhir.

Selalu ingin memastikan.

Selalu ingin melihat lebih dahulu.

Kalau ada satu hal yang dipelajarinya selama perjalanan ini, itu adalah bahwa iman tidak bertumbuh dari kepastian.

Iman bertumbuh ketika seseorang tetap berjalan meski tidak mengetahui apa yang menunggu di depan.

Langkah demi langkah membawa Rania mendekati Marwah.

Di bagian yang ditandai lampu hijau, para laki-laki berlari kecil mengikuti sunah.

Para perempuan tetap berjalan.

Rania memperhatikan pemandangan itu sambil tersenyum.

Ia membayangkan Hajar yang berlari dengan hati dipenuhi kecemasan.

Tidak ada jaminan bahwa di balik bukit berikutnya akan ada air.

Lihat selengkapnya