Langit Makkah masih gelap ketika Rania kembali memasuki pelataran Masjidil Haram.
Ia sengaja datang lebih awal.
Bukan karena ada jadwal rombongan.
Bukan pula karena ingin mencari tempat yang lebih dekat.
Ada sesuatu di dalam hatinya yang memanggilnya untuk datang sebelum fajar menyingsing.
Pelataran masjid sudah dipenuhi manusia.
Namun suasananya jauh lebih tenang dibandingkan siang hari.
Suara langkah kaki berpadu dengan lantunan ayat suci.
Sesekali terdengar isak tangis seseorang yang sedang berdoa.
Di antara ribuan manusia itu, Rania merasa dirinya hanyalah satu titik kecil.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa cukup menjadi titik kecil.
Ia memilih duduk di salah satu sisi yang menghadap langsung ke Ka'bah.
Bangunan itu berdiri dalam keheningan yang agung.
Tidak berubah.
Tidak bergerak.
Namun jutaan hati terus bergerak menuju arahnya.
Rania memandangnya lama.
Beberapa hari yang lalu, setiap kali memandang Ka'bah, air matanya selalu jatuh karena rasa haru.
Hari ini, air matanya tetap mengalir.
Tetapi ada rasa yang berbeda.
Ia tidak lagi menangis karena akhirnya sampai.
Ia menangis karena akhirnya mengerti.
Tangannya perlahan terangkat.
Bertahun-tahun lamanya, setiap kali berdoa, selalu ada satu permintaan yang diam-diam menguasai hatinya.
"Tunjukkan kepadaku apa yang akan terjadi."
Atau setidaknya,
"Berikan kepastian bahwa semuanya akan baik-baik saja."
Ia tidak pernah mengucapkannya secara langsung.
Namun seluruh hidupnya membuktikan bahwa itulah yang sebenarnya ia cari.
Setiap kali déjà vu datang, ia merasa sedikit lebih tenang.
Setiap kali penglihatan itu menjadi kenyataan, ia semakin bergantung kepadanya.
Dan ketika penglihatan tentang Umrah tidak pernah datang...
Ia mengira Allah sedang menjauhkannya.
Kini ia tahu.
Yang Allah jauhkan bukan dirinya.
Melainkan ketergantungannya pada kepastian.
Rania menarik napas panjang.
Lalu mulai berdoa.
Tidak tergesa-gesa.
Tidak pula dengan kalimat yang rumit.
"Ya Allah..."
"Terima kasih..."
Hanya dua kata itu terlebih dahulu.
Karena ia merasa rasa syukur harus mendahului segala permintaan.
Terima kasih karena Engkau mempertemukanku dengan rumah-Mu.
Terima kasih karena Engkau tidak menyerah terhadap hamba-Mu yang begitu sering salah memahami-Mu.
Terima kasih karena Engkau tetap mengundangku, bahkan ketika aku hampir kehilangan harapan.
Air mata kembali mengalir.
Namun kali ini ia tidak menyekanya.
Doanya berlanjut.
Ia mendoakan kedua orang tuanya.
Saudara-saudaranya.
Tetangga-tetangganya.