Fate & Future

Vitri Dwi Mantik
Chapter #24

Fate & Future

Pesawat yang membawa rombongan umrah lepas landas meninggalkan Jeddah menjelang dini hari.

Di balik jendela, lampu-lampu kota Makkah telah lama menghilang.

Yang tersisa hanyalah hamparan langit gelap dengan bintang-bintang yang perlahan memudar.

Rania duduk di kursinya sambil memandang keluar.

Beberapa hari sebelumnya, pemandangan seperti ini mungkin akan membuatnya bertanya-tanya.

Apa yang akan terjadi setelah aku pulang?

Apakah kemampuan itu akan kembali?

Apakah semuanya akan seperti dulu?

Kini pertanyaan-pertanyaan itu tidak lagi memenuhi pikirannya.

Ia hanya mengucapkan satu doa.

"Ya Allah..."

"Terima kasih karena Engkau telah mengizinkanku datang."

Di sampingnya, Ustazah Maryam tersenyum.

"Sedih meninggalkan Tanah Suci?"

Rania mengangguk.

"Iya."

"Rasanya seperti meninggalkan rumah."

Ustazah Maryam tersenyum lebih lebar.

"Itu pertanda baik."

"Semoga kerinduan itu membuat kita terus memperbaiki diri sampai Allah memanggil lagi."

Rania mengaminkan pelan.

Ia sadar.

Yang dibawanya pulang bukan hanya oleh-oleh.

Bukan air Zamzam.

Bukan tasbih.

Bukan sajadah.

Yang paling berharga justru sesuatu yang tidak dapat dimasukkan ke dalam koper.

Cara memandang hidup.

Perjalanan pulang berlangsung panjang.

Sebagian besar penumpang tertidur.

Namun Rania tetap terjaga.

Ia membuka mushaf kecil yang selama di Makkah selalu menemaninya.

Beberapa ayat ia baca perlahan.

Setiap kali selesai membaca, ia menatap kosong ke depan.

Bukan karena pikirannya melayang.

Melainkan karena ia menikmati ketenangan yang dahulu begitu sulit ia temukan.

Ia tidak sedang menunggu sesuatu.

Ia hanya hadir.

Sesampainya di Indonesia, udara yang lembap langsung menyambut mereka.

Suara bahasa Indonesia kembali terdengar dari berbagai arah.

Bandara terasa akrab.

Namun Rania merasa dirinya bukan lagi orang yang sama ketika meninggalkan tempat itu beberapa minggu lalu.

Saat berjalan melewati lorong kedatangan, ia sempat berhenti.

Di tempat inilah dahulu ia berdiri dengan hati penuh ketakutan.

Takut gagal berangkat.

Takut ada sesuatu yang terjadi.

Takut karena halaman Umrah di buku catatannya tetap kosong.

Kini ia berdiri di tempat yang sama.

Dengan hati yang penuh syukur.

Rumahnya masih sama.

Pintu kayu yang sama.

Jendela yang sama.

Rak buku yang sama.

Meja kerja yang sama.

Namun keheningan rumah itu tidak lagi terasa menyakitkan.

Ia membuka jendela ruang tamu.

Udara sore masuk perlahan.

Cahaya matahari jatuh tepat di atas meja tempat ia biasa bekerja.

Di sudut ruangan masih ada tanaman kecil yang dulu dirawat Arif.

Daunnya tumbuh semakin rimbun.

Rania menyentuh salah satu daunnya dengan lembut.

Lalu tersenyum.

"Kita sudah pulang."

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun di dalam hati, ia juga sedang berbicara kepada dirinya sendiri.

Malam harinya, ia membuka laci meja.

Laci yang telah ditinggalkannya sebelum berangkat.

Di dalamnya masih tersimpan Buku Catatan Takdir.

Sampulnya masih sama.

Sudut-sudutnya mulai sedikit usang.

Ia mengusapnya perlahan.

Lihat selengkapnya