Fate & Future

Vitri Dwi Mantik
Chapter #25

Fitrah

Musim hujan kembali datang.

Pagi itu, rintik-rintik air membasahi halaman rumah kecil Rania. Suara hujan mengetuk genting dengan irama yang pelan, mengingatkannya pada begitu banyak pagi yang pernah ia lewati seorang diri.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Dulu, hujan sering menjadi awal dari kecemasan.

Kini, hujan hanya menjadi hujan.

Indah.

Tenang.

Apa adanya.

Sudah hampir enam bulan sejak ia kembali dari Tanah Suci.

Rutinitas hidup kembali mengalir seperti semula.

Pekerjaan menyunting naskah memenuhi sebagian besar harinya.

Sesekali ia menerima undangan berbicara dalam kelompok kecil pengajian tentang pengalaman umrah. Bukan untuk menceritakan kemampuan déjà vu yang pernah dimilikinya—rahasia itu tetap ia simpan rapat-rapat—melainkan untuk berbagi tentang penantian, kesabaran, dan bagaimana Allah sering menjawab doa dengan cara yang tidak pernah dibayangkan manusia.

Orang-orang mendengarkan kisahnya.

Sebagian menangis.

Sebagian tersenyum.

Sebagian datang menghampirinya setelah acara selesai hanya untuk berkata,

"Saya juga sedang menunggu sesuatu dari Allah."

Setiap kali mendengar kalimat itu, Rania selalu menggenggam tangan mereka sambil tersenyum.

"Jangan berhenti berharap."

"Tapi jangan lupa, Allah lebih tahu bentuk jawaban yang paling kita perlukan."

Kalimat itu dahulu tidak mungkin keluar dari mulutnya.

Karena dahulu ia sendiri belum mempercayainya sepenuhnya.

Kemampuan déjà vu masih sesekali datang.

Tidak sering.

Hanya sesekali.

Kilasan yang sangat singkat.

Tentang telepon yang akan berdering.

Tentang hujan yang turun beberapa menit lagi.

Tentang seseorang yang akan mengetuk pintu.

Lalu semuanya benar-benar terjadi.

Persis seperti dahulu.

Bedanya, kini setiap kali penglihatan itu datang, Rania hanya mengangguk kecil.

Seperti seseorang yang menyapa seorang teman lama.

Lalu melanjutkan pekerjaannya.

Ia tidak lagi mengejarnya.

Tidak pula menolaknya.

Ia menerimanya sebagaimana seseorang menerima hujan atau cahaya matahari.

Datang ketika Allah menghendaki.

Pergi ketika Allah menghendaki.

Suatu sore, setelah menyelesaikan sebuah naskah novel, Rania berdiri di depan rak buku.

Tangannya berhenti pada sebuah kotak kayu kecil.

Kotak itu sudah lama berada di sana.

Perlahan ia membukanya.

Di dalamnya tersimpan Buku Catatan Takdir.

Buku yang selama bertahun-tahun menjadi saksi hidupnya.

Ia mengeluarkannya dengan hati-hati.

Sampulnya mulai memudar.

Sudut-sudutnya sedikit terlipat.

Kertas-kertasnya mulai menguning.

Usia memang meninggalkan jejaknya pada segala sesuatu.

Lihat selengkapnya