Fati Mort

Voidham Kreator
Chapter #1

Prolog: Kemewahan Mordavia

Di awal waktu, The One menciptakan dua jiwa pertama yaitu Hercules dan Freya. Mereka bertahta di Valhalla, sebuah surga di mana harmoni menjadi napas dan cahaya adalah hukum. Namun, segala keabadian itu runtuh saat mereka melanggar perjanjian suci. Sebagai hukumannya, mereka diusir dan dicampakkan ke Terran, sebuah dunia fana yang dingin dan kejam.

Tak hanya kehilangan rumah, mereka mewariskan kutukan bagi seluruh keturunan mereka: tidak akan ada lagi berkah dan perlindungan dari The One. Terran berubah menjadi neraka di atas tanah. Kemiskinan menjadi takdir, sementara keserakahan menjadi satu-satunya hukum yang berlaku.

Di tengah puing-puing peradaban yang membusuk, seorang pengembara bernama Victor melangkah dengan ambisi mengubah dunia. Legenda kuno berbisik tentang seorang putri yang terkurung di kastil di ujung dunia. Konon, siapa pun yang berhasil menyelamatkannya akan diberikan satu permintaan yang dikabulkan oleh takdir.

Perjalanan itu membawa Victor ke Mordavia, kerajaan yang berdiri di atas puncak kemakmuran namun menyimpan kezaliman. Di sudut pasar, Victor melihat seorang ksatria dengan pongah memeras seorang anak kecil.

"Bayar upeti sekarang, tikus kecil, atau kau akan merasakan ujung pedangku!" teriak sang ksatria.

Saat ksatria itu mengayunkan pedang, Victor bergerak kilat. Dengan sentakan pedang yang gesit, ia menghalau serangan itu lalu melumpuhkan seluruh ksatria dalam hitungan detik.

"Pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran," ucap Victor dingin.

Anak itu menarik jubah Victor dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Tuan. Kau telah menyelamatkanku dari orang jahat itu. Rumahku ada di atas gunung, maukah kau ikut bersamaku? Aku ingin berterima kasih dengan memberikan apa yang kami miliki meski itu tidak seberapa."

Di sebuah gubuk reyot, mereka disambut oleh seorang nenek tua. "Perkenalkan Tuan, ini nenekku Maria," ujar anak itu. "Namaku Leon."

Setelah menyajikan semangkuk sup tipis dan roti keras, mereka menghabiskan waktu makan dalam keheningan yang canggung. Victor duduk di depan gubuk saat matahari mulai terbenam, memandangi lembah Mordavia yang samar tertutup kabut. Leon mendekatinya, langkahnya ragu namun matanya penuh tekad.

"Tuan," panggil Leon.

Lihat selengkapnya