Selain cinta, rumah juga paradoks. Pergi untuk kembali. Kembali namun hanya sebentar. Mungkin terkesan kerinduan itu tipis sebab hanya sebentar dirayakan. Beberapa orang harus tahu bahwa seseorang yang jauh dari rumah, mereka tidak pernah menginginkan hal itu terjadi. Menurutku ada dua hal yang menyiksa di dunia ini, kerinduan oleh cinta dan kerinduan untuk pulang. Kerinduan yang membahagiakan itu lahirnya dari cinta. Kerinduan yang mengharukan itu kadang terbawa hingga ke relung hati paling dalam. Bahkan laki-laki menjadi rapuh olehnya terbenam menjadi penyesalan yang tidak termaafkan.
Bagaimana bisa haru membuat tangis dan bahagia larut menjadi satu sedangkan pada kesempatan lainnya mereka adalah dua hal yang sangat berbeda. Ibarat api dan air, mereka tidak pernah bersepakat apalagi bermuara yang sama. Mungkin begitulah cara Tuhan mengatakan bahwa setinggi apapun pencapaian di dunia ini, manusia tidak sanggup meredam kerinduan. Sudah jutaan manusia yang menyesal dan mengerti arti kehilangan. Apa mesti kau merasakan dulu hal itu? Jika jarak dan doa-doa itu masih terbenam diantara langit nan jauh maka melangkahlah. Kau tahu jalan pulang. Kau sudah tidak sanggup bertahan tanpa cinta. Apa yang kau perjuangkan di kota yang dinamis itu. Apa kerlap-kerlip lampu gedung itu sebaya dengan nyala lampu kuning di ruang tamu rumahmu? Lalu apa lantai yang bertingkat-tingkat itu pernah memberimu pangkuan paling ikhlas seperti ibumu? Bahkan disana tidak ada cinta! yang ada hanya kata-kata dan satuan angka-angka semu.
Percayalah sejauh kakimu melangkah, seluas daratan bumi, setara debit air samudra tidak akan pernah kau temui nostalgia kehangatan seperti rumah. Terkadang bepergian mengajarkan arti kembali dengan perasaan yang lebih penuh. Maka jika demikian telah terjadi hiduplah untuk cinta, kasih sayang serta kehangatan itu. Semasih Tuhan memberikan kesempatan untuk bersamanya. Mengenang adalah urusan yang tidak pernah berkesudahan maka sebelum itu cintailah rumah dan seisinya. Sesekali merenunglah lalu tanyakan dari mana kebahagiaan itu bersumber. Apakah dari langkah-langkah kecil yang kini telah menjadi langkah panjang, lelah dan dewasa? Pulanglah semoga segala pertanyaan akan mendapatkan jawaban di teras yang telah lama sunyi itu.