FILOSOFI RUMAH

Rayasa Kherta
Chapter #2

RUMAH SESUNGGUHNYA

Bila akhirnya jalan pulang telah diingat maka selanjutnya adalah urusan bertegur sapa dengan penghuninya. Jangan seadanya, seperlunya apalagi sewajarnya sebab hal itu hanya sapaan basa-basi. Seharusnya pulang dirayakan dengan gurat ceria hingga beberapa kejutan selayaknya telah mengerti satu sama lain. Jutaan orang pontang-panting pergi lalu pulang namun dengan suasana yang telah berbeda. Tentu jika di bedah lebih dalam lagi ada ribuan pembenaran dan milyaran alasanan. Terkadang rumah tidak memerlukan itu, dia hanya tahu tuannya telah pulang.

Beri dia kasih sayang sebagaimana perkenalan dulu. Jangan pernah pudar apalagi berkurang seharusnya cinta makin kesini makin erat bukan sebaliknya. Tentu peradaban telah mengajarkan arti kehilangan, apakah kita mesti mengalami dulu agar sedih? Jangan itu terlalu bercanda!

Kekasih, bila akhirnya jalan pulang itu kamu maka aku akan menjelma kehangatan suatu pagi bersamamu. Menerka-nerka arah angin, mengira-ngira turun hujan hingga menebak bentuk awan agar hidup ini tidak terlalu serius. Andai kata serius berarti itu cintaku kepadamu. Perjalanan ini sebenarnya sebentar bagi kita yang merayakan cinta namun begitu panjang bagi siapa saja yang tidak merayakannya. Hidup ini sebagaimana tersirat mungkin tentang fase-fase saja, mereka saja yang berlebihan menamainya cobaan. Entahlah bagaimana orang menyebutnya, aku hanya ingin pulang menerima kenyamanan darimu. Selebihnya jika ada yang menghalangi mohon diredam agar tidak mendominasi perasaan masing-masing. Kekasih, sebenarnya rumah bukan perkara isi, perabotan, dan kamar namun banyak ceria, tawa hingga kasih sayang. Akhir-akhir ini banyak orang yang lupa perihal itu, melalui halaman buku ini aku ingatkan agar kita tidak salah berangan-angan lalu kecewa dalam rumah yang megah itu.


Lihat selengkapnya