Ada harga yang harus dibayar dari setiap keinginan. Sialnya harga itu bukan nominal tapi merenggut bahagia sedikit demi sedikit. Lucunya keinginan yang dimaksud adalah bahagia yang telah ia dapatkan hari ini. Sangat lucu dan paradoks, banyak orang yang ‘gila’ karena ini. Seseorang bahkan telah bahagia dengan kondisi hari ini, namun keinginan bersekongkol dengan ambisi untuk bepergian lebih jauh dari biasanya. Tujuannya unntuk mencari bahagia yang sesungguhnya telah mereka pegang erat-erat.
Apakah bahagia bisa ditakar, semisal sebuah rumah diperbaiki dan dipercantik dengan banyak hal impian? Jawabnya sangat bisa namun harga yang harus dibayar adalah dengan cara menyebrang ke negeri orang mencari lebih banyak uang. Kemudian pulang pada hari-hari besar dengan keadaan kursi-kursi telah lapuk sebab penghuninya berkurang satu-persatu. Bagaimana dengan rumah impian apakah masih terus berlanjut? Ya pasti, maka sesi selanjutnya adalah membuat pondasi lebih kuat dari sebelumnya. Memasang pernak-pernik hiasan lebih estetik di setiap sudut dengan kesepian pada diri itu sendiri. Singkat cerita, rumah impian selesai dengan segala sudut kamar dan ruangan tersusun rapi namun yang berantakan adalah perasaan yang tinggal sebab ditinggal satu persatu penghuninya.
Taman belakang rumah yang di tata sedemikian rupa yakni bangku-bangku taman warna putih, bunga-bunga bermekaran, dan batu-batu alam ternyata tidak bisa bicara sebagaimana rumah sederhana dulu. Akhirnya segala tempat di rumah itu menjadi hampa, sunyi, dan tidak bicara. Hanya menjadi tempat tinggal bukan menjadi tempat nyaman. Bangun pagi pergi mencari penghidupan lalu pulang entah kapan. Bahkan jika kursi yang dibuat untuk menikmati sore terbenam itu bisa ngomong alangkah menderita nasibnya, ada namun tidak digunakan sebagaimana keinginan dulu. Ada harga yang mesti dibayar pada setiap keinginan dan ambisi.