FILOSOFI RUMAH

Rayasa Kherta
Chapter #4

RUMAH DI TEPI BARAT

Banyak orang yang pulang namun belum sampai. Yang sampai hanya raganya sedangkan pikirannya masih tertinggal di kantor, simpang jalan atau tempat tongkrongan. Sesunguhnya tidak ada bedanya dengan rumah kosong tanpa manusia di dalamnya. Bergesernya nilai-nilai itu, kemudian diikuti oleh angan-angan rumah impian dengan sudut-sudut yang estetik, taman rindang hingga kasur berlapis-lapis. Sesungguhnya itu tidak pernah menyelesaikan masalah sehingga yang dibangun lebih dulu adalah esensi dari rumah.

Esensi dari rumah adalah penghuni yang nyaman, obrolan yang hangat serta teras berfungsi dengan baik yakni bercengkrama. Banyak teras di rumah-rumah mewah itu disalahartikan sebagai tempat bersedih dan merenung. Banyak kasur kualitas nomor satu tapi bangun dini hari dengan ini-itu yang tidak pernah habis. Kondisi dingin lalu berendam di air hangat dengan semberawutnya isi kepala. Jika seperti itu definisi rumah idaman maka sesungguhnya seseorang tidak akan pernah sampai kemanapun.

Hal itu hanya sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat berikutnya dengan keresahan yang sama. Ada kalanya kehidupan yang nyaman itu ditemukan pada pelosok-pelosok yang ambisi di rawat sewajarnya. Lalu kebahagiaan dirayakan kecil-kecilan namun setiap saat. Memang hidup ini paradoks namun semua itu bisa diredam tergantung niat dan kemauan. Maka sesungguhnya rumah impian dasarnya adalah keyakinan dan kehangatan selebihnya hanya pernak-pernik yang berfungsi ketika dasarnya telah kokoh. Seseorang harus tahu bahwa rumah di tepian barat masih kokoh hingga saat ini karena keyakinan dan cinta yang kian bertambah setiap detik berubah menjadi waktu kemudian mengakar sepanjang masa.


Lihat selengkapnya