Ada yang patah hati sebelum pacaran. Ada juga yang patah hati setelah resmi berpisah. Maka patah hati sebenarnya tidak mengenal status, tidak mengenal dirimu dan tidak peduli urusanmu. Apa jangan-jangan ekspektasimu telah ugal-ugalan sejak awal atau karena harapanmu yang tidak terbendung ketika itu. Sebab dunia ini paradoks dan dualisme pandangan selalu terjadi akan sesuatu hal. Bagi orang yang mungkin baru saja jatuh cinta mungkin menggebu-gebu seperti dunia ini milik mereka. Namun bagi mereka yang telah patah hati, kecewa hingga mengikhlaskan tentu telah menerka-nerka bahkan membatasi kekecewaan itu.
Tidak ada yang menjamin soal perasaanmu di dunia ini, termasuk dengan orang yang kamu sayangi pun harus menyisakan ruang untuk kecewa. Seseorang yang telah memberi ruang kepada kekecewaan dan kehilangan sesungguhnya telah mengurangi rasa patah hati itu sejak awal. Mengingat semua ini fana, mengingat dunia ini sebentar jadi jangan menyayangi melebihi diri sendiri.
Perkara cinta sebenarnya candu, perkara keinginan juga demikian. Salah-salah kamu bisa tertikam perasaan sendiri. Bagi penyair, patah hati adalah hujan kata-kata dan metamorfosis prosa yang sama sekali tidak terbendung. Bagi mereka yang mengikhlaskan, patah hati adalah petualangan menuju gunung-gunung tertinggi dan perjalanan menemui hakikat hidup. Semua sah-sah saja, manusia tidak terhindar dari patah hati, kecewa hingga mengikhlaskan kecuali mereka tidak berharap dan tidak mencintai. Namun siapa yang bisa hidup tanpa harapan dan cinta?