Suatu ketika bapak sakit sehingga aku sebagai anak tunggal sangat memiliki kewajiban untuk mengantar ke rumah sakit. Mengendarai motor, kami sampai kira-kira dua puluh menit. Kebetulan telah di bangun rumah sakit milik pemerintah daerah pada salah satu periode kepemimpinan bupati. Menurutku hal ini sangat bijak sebab di atas kebutuhan pokok lainnya seperti makan, minum serta mensejahterakan masyarakat, urusan pelayanan orang sakit adalah hal darurat. Tentu aku sebagai masyarakat kecil merasa sangat terbantu dengan adanya fasilitas ini serta tidak membayar sepeser pun biaya pengobatan. Melalui tulisan ini aku berterima kasih atas sikap politik pemerintah daerah tersebut. Bukannya aku ingin kampanye atau mempromosikan tokoh tertentu. Tidak! aku hanya masyarakat kecil yang kemudian merasakan dampak langsung atas fasilitas kesehatan ini. Mungkin begitu kira-kira jika negara yang besar ini mampu mengelola segala sumber daya yang dimiliki dengan baik dan bijak.
Bapak opname tiga hari lamanya, sementara aku menjaganya seorang diri. Diantara tirai-tirai kamar nomor 207 terhampar luas sawah-sawah yang memisahkan realitas dunia luar dengan rumah sakit. Aku dan bapak seperti tidak diajak oleh semesta untuk merayakan kesenangan di luar sana. Dalam hati aku berkata mungkin ini cara lain dari semesta agar aku menepi sejenak. Namun kalau soal menepi harusnya dia paham bahwa setiap hari aku adalah pribadi yang menghabiskan malam hanya untuk bertanya kepada diri sendiri. Tentang apa hakikat hidup ini, bagaimana bentuk kebahagiaan hingga belajar tidak menaruh ekspektasi berlebih terhadap apapun yang kulakukan. Bagiku mungkin itu renungan filsafat permukaan yang selalu bergejolak setiap kali Tuhan memberi cobaan kepadaku. Di satu sisi keinginan membuat adrenalin terpacu namun pada sisi yang lainnya keinginan menjadi duri yang menikam dirinya sendiri. Oh manusia sungguh malang nasibmu.
Pada kesempatan lainnya, aku menyaksikan beberapa update story dunia luar begitu gegap gempita merayakan pertemuan dengan tawa-tawa nostalgia bahkan tongkronganku seperti biasa-biasa saja atas apa yang terjadi kepadaku. Tentu aku tidak apa-apa dengan kondisi itu, namun aku mendapatkan perspektif lain atas hal ini. Apakah etis ketika seorang teman, saudara, kelurga bahkan kolega sekalipun sedang tertimpa cobaan sementara aku ketawa-ketawa dan asik menikmati duniawi. Mungkin hal ini yang akan aku pertimbangkan dalam kehidupan selanjutnya. Tentu aku tidak munafik suasana kebahagiaan selalu memunculkan euforia namun sebisa mungkin akan kuredam, cukup aku dan beberapa orang di sekitar saja yang tahu. Mudah-mudahan dengan begitu, sabahat, keluarga serta teman-teman merasa tidak disisihkan atas cobaan yang sedang menimpanya.
Aku hanya duduk di sudut kamar 207 sambil memandang bapak yang tidur. Beberapa derap Langkah kecil-kecil itu tiba lalu aku buka pintu kamar ternyata yang datang adalah adik dari bapak. Kami mengobrol beberapa hal tentang kondisi bapak, kapan menikah serta situasi pekerjaan saat ini. Tentu aku paham bahwa itu hanya topik obrolan agar suasana tidak hening seperti malam pertama opname. Yang ingin aku sampaikan adalah saat aku berada pada titik terendah ternyata orang-orang di sekitar akan mengerucut menjadi peduli atau tidak bergantung karakter bawaannya. Kebetulan atas kejadian ini aku bisa mengelompokkan siapa saja yang peduli terhadapku. Jadi hal tersebut setidaknya menjadi pembelajaran bahwa kepada siapa saja kita bersikap sewajarnya lalu kepada siapa kita harus peduli sepenuhnya.
Bagiku sekarang menjenguk orang sakit bukan tentang membawa buah-buahan, memberi uang atau sekadar formalitas saja. Lebih dari itu, untuk menunjukkan sikap simpati dan empati maka dari itu lekaslah kembali kepada hari-hari biasanya. Aku selalu berdoa kepada siapapun tulisan ini sampai, mudah-mudahan keluarga, sahabat serta teman sekalipun dalam keadaan baik-baik saja. Kalau pun sakit mudah-mudahan ada banyak yang peduli sebagaimana dia mengisi hari-harimu saat sedia kala.