Tuhan, sesunguhnya hatiku terbuat dari apa? mengapa aku jadi flat begini soal merayakan suka ataupun duka. Apa karena aku tidak jago bercerita sebab menikmati semua hal itu sendirian. Kebetulan lingkungan sejak kecil telah membentukku menjadi pribadi yang sangat mandiri sehingga lupa bagaimana cara menyampaikan semua hal. Akhir-akhir ini aku telah jatuh cinta dengan salah satu penduduk di bumi maka dia menuntut keterbukaan kepadaku. Berulang kali dia menganggapku tidak mau terus terang, tidak mau cerita hingga bertengkar urusan yang menurutku sepele. Yang ingin aku sampaikan adalah bahwa sesungguhnya aku tidak pintar bercerita tentang hari-hariku bahkan itu telah terjadi sejak lama sebelum bertemu dengannya. Tapi kalau soal mencintainya tentu tidak usah diragukan lagi.
Aku hanya berpesan kepadanya beginilah aku dengan lebih dan kurangnya. Mungkin kurangnya itu kamu temukan dalam sifatku yang tidak pandai menceritakan apa yang terjadi dalam hidup ini. Maafkanlah aku kekasih oleh karena kehidupanku sebelum bertemu denganmu memang benar-benar pribadi yang menyendiri, terlibat banyak perenungan dan terbiasa mencari jalan keluar itu sendirian. Meskipun ribuan kesalahan menghampiri terhadap keputusan itu lebih baik ketimbang lari dari kenyataan.
Tuhan, bisakah aku bahagia semisalnya suatu saat nanti berkesempatan merasakannya? ataukah aku telah mati rasa akibat gempuran hidup ini. Mereka mengenalku menjadi sosok paling humoris dalam tongkrongan, kumpul keluarga dan perkumpulan sebaya untuk kembali mengingat riak-riak kesedihan itu. Namun kini telah menjadi bahan tawa mungkin aku telah berdamai dengan diri sendiri sehingga menyampaikan duka itu menjadi anekdot keresahan masa lampau. Tentu proses berdamai dengan diri sendiri menyita sebagian kehidupan untuk berinteraksi dengan orang lain, termasuk menghindari kebisingan kota yang kadang membuatku iri dengan cara orang merayakan hidup ini.
Tapi tidak apa-apa Tuhan, aku terima sebagaimana jalan takdir. Semoga nanti pada lingkungan baru, keluarga sederhana serta riak anak-anak mungil, aku pastikan tidak berada pada suasana yang begini. Semoga kelak kehidupan itu tidak menyisakan sunyi begitu dalam terutama dalam relung batin. Sebab tidak enak rasanya tidak punya siapa-siapa di dunia yang dinamis ini. Keluarga sederhana dengan kasih sayang banyak tentu menjadi barang langka bagiku. Teruntuk bapak dan ibu, tidak usah khawatir soal rezekiku yang kemudian kelak menyusahkanmu. Aku bisa mandiri bahkan sangat mandiri namun yang aku minta hanya kasih sayang kalian agar dunia ini tidak begitu congkak kepada manusia yang minim kasih sayang sepertiku. Yang belum aku sampaikan adalah Aku selalu menyayangi kalian dalam diam sebagaimana lingkungan itu membentukku dari dulu.