Komedian itu mungkin lucu dan di nanti dalam sebuah pergelaran atau pementasan. Namun aku selalu bertanya-tanya dimana mereka menyimpan sedih itu, apakah sama meledak seperti tawa-tawa penonton yang demikian bahagia menertawakan kisah-kisah yang disampaikan. Apakah mungkin mereka punya ruang tangis di rumahnya masing-masing yang tidak boleh seorangpun masuk ke ruangan tersebut kecuali dia dan sedihnya. Salut dengan para komedian sebab menyajikan lautan tawa dari lautan tangis dirinya sendiri. Jika ada pekerjaan paling melelahkan di dunia ini mungkin itu komedian yang tiada henti menertawakan dirinya sendiri.
Termasuk aku yang selalu di nanti oleh teman tongkrongan, perkumpulan rekan kerja hingga lingkungan keluarga sebab katanya tanpaku tongkrongan itu tidak asik. Aku selalu mampu memantik tawa-tawa itu dengan apapun yang ada disekitarnya. Mereka harus tahu untuk menceritakan satu kisah itu saja aku mesti mati-matian berdamai dengan diri sendiri. Ketika itu dunia seakan sangat tidak berpihak kepadaku. Tanpa perhatian oleh siapapun aku menjelma menjadi sosok yang humoris dalam setiap tongkrongan sebab aku tidak mau hidup ini menjadi membosankan dan serius. Meskipun sesampainya di kamar rasa sunyi itu semakin lirih bahkan dominan menguasai perasaanku. Benar kata orang-orang bahwa siapapun dalam tongkrongan tawanya paling keras sejatinya mereka adalah pribadi yang kesepian.
Semenjak saat itu aku meredam tawa menjadi secukupnya. Berusaha menerima kenyataan bahkan mati-matian berdamai dengan diri sendiri. Meskipun efek samping yang ditimbulkan menjadi pasrah akan kehidupan ini, menyerahkan bahagia dan duka kepada Tuhan sementara aku hanya menjalani hidup ini sebagaimana mestinya. Semoga Tuhan telah berencana akan kebaikanku kelak maka akan kurayakan dengan secukupnya saja sebab hidup ini terlalu tipis antara suka dan duka.