FILOSOFI RUMAH

Rayasa Kherta
Chapter #13

TUHAN HANYA BERCANDA

Aku pernah meminta tolong kepada manusia bahkan manusia terdekat sekalipun namun kurasa masih saja ada sekat yang memisahkan. Semisal pertolongan ini harus dibayar ‘tunai’ dikemudian hari mungkin dengan bentuk dan hal yang lain. Tentu aku tidak keberatan sama sekali namun jika aku berhalangan akan menimbulkan tafsiran yang berbeda semisal perkataan tidak tahu terima kasih, kacang lupa kulitnya hingga manusia tidak bermoral. Aku tidak lari dari balas budi hanya saja akan mengganti pada keesokan harinya sebab aku hanya orang bawahan yang tidak memiliki kebijakan spesial apapun pada lingkungan kerja. Sebenarnya yang ingin aku sampaikan adalah pertolongan manusia masih dilandasi pamrih yang begitu kental. Aku tidak mengatakan semuanya namun ada saja yang begitu.

Lalu aku minta tolong kepada Tuhan saja berhubung Tuhan tidak pernah berprasangka buruk kepada manusia. Tentu aku tidak terbebani utang budi yang menyiksa perasaan. Singkat cerita datanglah pertolongan itu melalui manusia yang tidak kukenal sama sekali. Datang dengan berbagai bentuk dan waktu yang tepat. Anehnya dia tidak meminta balas budi sebagaimana manusia yang kukenal dekat itu. Aku sangat yakin tangan-tangan Tuhan menjamah semua sudut di bumi ini maka dari itu aku cukup berpasrah pada-Nya. Atas kejadian yang kulalui ini, aku menjadi bersikap sewajarnya kepada mereka yang kukenal. Demikian juga berprasangka baik kepada orang-orang yang tidak kukenal. Mungkin suatu saat nanti merekalah yang dikirim Tuhan untuk membantuku atau mungkin aku dijadikan alat oleh Tuhan untuk membantu mereka. Tidak ada yang tahu perihal itu sebab Tuhan adalah perencana sekaligus eksekutor yang baik. Terima kasih orang-orang baik yang kutemui setiap perjalanan hidup ini semoga senantiasa dikelilingi kebahagiaan.


 

Lihat selengkapnya