Dulu ketika baru pertama kali mengenal musik, angan-angan ini selalu beterbangan menjadi seseorang yang populer terutama di lingkungan sekolah. Lebih jauh lagi ketika masa kuliah, manggung sana-sini merasa paling keren dan gampang mendapatkan lirikan perempuan. Semua itu adalah candu ketika patah hati terhebat dengan seorang perempuan. Kisah-kisah itu dibuat lagu lalu dinyanyikan berulang kali sehingga seusai manggung yang tersisa hanya kehampaan dan kesunyian.
Aku hampir membenci musik sebagaimana membenci mie ayam kesukaan mantan kekasih. Namun segala hal di dunia ini adalah konsekuensi yang harus diterima maka perlahan kujalani sebagaimana mestinya. Patah hati terhebat mengubah semuanya yakni aku tidak menggebu-gebu lagi soal populer bahkan sangat tidak peduli lagi! Tugasku hanya bermain musik seusai itu aku pulang lalu berdamai dengan diri sendiri. Pada akhirnya semua ini paradoks yakni cinta yang memberi semangat, cinta juga yang mematahkan semangat.
Aku pernah mendengarkan seseorang bijak berkata perihal menjadi seniman adalah menceritakan kembali kesedihan itu dalam bentuk karya. Bila sastrawan akan menuliskan buku-buku dan bila musisi akan membuat lagu-lagu. Jika tidak demikian lalu apa yang dia sampaikan? Bahwa menjadi bintang panggung itu ada sedihnya yakni dianggap sempurna pada seluruh aspek kehidupan. Namun dibelakang itu coba saksikan kehidupan pribadinya penuh lika-liku yang bertolak belakang dengan kehidupan populernya. Meskipun tidak semua begitu namun ada saja yang demikian.
Kini aku lebih kepada menjalani saja takdir ini. Bermusik dan masa bodoh dengan hal-hal duniawi itu. Pelajaran ini aku terapkan dalam sendi-sendi kehidupan lainnya sehingga aku menjadi nyaman. Aku tidak diburu ekspektasi, tidak dikecewakan harapan sebab telah memberi ruang kecewa tentang apapun itu termasuk percaya dengan manusia. Ini bukan perihal bermusik saja namun menerima adalah takdir manusia.