Suatu ketika aku berada di dataran tinggi Kintamani. Tentu aku telah akrab dengan daerah ini sebab jaraknya kurang lebih tiga puluh menit dari rumah. Kintamani oleh banyak orang dijadikan tempat rekreasi, liburan, memancing dan jalan-jalan saja. Namun bagiku, Kintamani telah terbentuk menjadi satu kesatuan dengan perenungan, keindahan serta dirayakan dengan tegukan kopi. Dingin yang menyengat itu tentu menjadi hal yang aku nanti sebagaimana perenungan atas apa yang terjadi di dunia ini. Beberapa hal yang di takdirkan telah terjadi tanpa bisa di bendung oleh peradaban itu sendiri. Sehingga banyak yang mesti dirayakan baik senang atau sekalian dukanya.
Sebenarnya yang ingin aku sampaikan adalah suasana dingin yang berkabut sering kali adalah kefanaan atas tingkah laku semesta. Dia yang menemaniku kesana selalu bertanya jaket tebal, kaos kaki serta penutup kepala yang dilapisi kain-kain tebal, tentu itu wajar untuk meredam rasa pada kulit. Namun sebagaimana yang aku sampaikan di atas bahwa sesungguhnya cinta itu menghangatkan obrolan, memberi banyak kejutan serta membuat perjalanan menyenangkan. Bayangkan jika tidak ada cinta, perjalanan yang setiap hari dilalui akan sangat membosankan. Misal, perjalanan dari tempat kerja ke rumah, sekolah, atau kampus jika tanpa cinta maka hanya menjadi perjalanan formalitas saja. Itulah sebabnya cinta abadi!
Cinta itu berada pada porsi yang tepat tidak dingin sebagaimana suasana di Kintamani atau tidak panas seperti di perkotaan. Dia tidak mudah didefinisikan namun selalu menjelma dalam setiap perbuatan, perkataan hingga doa-doa paling serius. Maka beruntunglah manusia yang memiliki cinta dan dicintai oleh pasangannya sebab apapun yang terjadi di dunia ini mereka akan abadi hingga menembus ruang dan waktu. Suatu saat nanti jika manusia itu mati maka tubuhnya akan di kubur namun perasaannya tidak akan pernah mati.