FILOSOFI RUMAH

Rayasa Kherta
Chapter #19

TERSERAH TUHAN SAJA

Suatu ketika bapak rawat inap lalu keluarga berbondong-bondong datang menjenguk. Mereka kebanyakan mengatakan setelah ini akan ada kebaikan atas hal-hal yang terjadi. Bagiku, itu sama sekali bukan urusanku entah setelah ini berjuta-juta kabar baik datang, terserah bagaimana Tuhan saja. Aku lebih kepada menjalani saja, memisahkan yang mana kapasitasku untuk meminimalkan kekecewaan. Berkaca pada pengalaman yang lalu, harapan itu paradoks membahagiakan sekaligus menghancurkan. Lalu sampailah aku di titik ini membuatku menjadi pribadi yang apa adanya, menjalani hari ini lalu bagaimana hari selanjutnya terserah.

Dunia ini tentang ketidakpastian, manusia adalah salah satu korban tetap. Entah berapa banyak manusia yang telah jatuh dalam lingkaran ini tentu bisa diperdebatkan. Lalu yang ingin aku sampaikan adalah memilah sangat penting agar bisa membedakan mana kapasitasmu dan mana yang sama sekali bukan urusanmu. Banyak yang mengumpat hingga marah-marah sebab menuntut atas hal yang bukan miliknnya.

Atas banyak yang terjadi belakangan ini, membuatku menjadi seseorang yang lebih berdamai. Tidak ingin mengejar dunia sebab pasti tidak ada ujungnya. Jika seseorang mengatakan dunia ini menyenangkan maka aku akan percaya. Bahkan seseorang yang tidak pernah pontang-panting bekerja mengatakan nikmatilah hidup ini maka akan akan percaya juga. Aku tidak ingin berdebat soal apapun dengan siapapun yang tidak merasakan getirnya berada di fase bawah. Bagi mereka mungkin dunia ini berpihak kepadanya sementara pada diriku sendiri dunia ini seakan runtuh tepat di wajahku. Pada akhirnya aku tidak ingin GR (gede rasa) atas hal baik yang datang seusai cobaan ini, mutlak itu urusan Tuhan. Aku akan menjalani sebaik mungkin lalu di suatu perjalanan nanti jika aku lelah maka akan istirahat secukupnya. Bilamana menangis tentu itu hal yang wajar-wajar saja.

 


Lihat selengkapnya