Finito?

Difta Putri Maylinda
Chapter #1

SELAMAT DATANG JUBIN

"°°°°°"

Berdiri sambil berpose,terlihat ia sangat profesional. Kamera dipencet mengeluarkan kilat cahaya sering ia temui. Membuat ekspresi sealami mungkin yang adem dipandang mata. Memakai gaun indah yang sangat pas di tubuhnya,tetap cantik meskipun sedang berbadan dua.

"Sudah selesai." Si Photografer memerhatikan hasil potretnya. Ia mengacungkankan jempol untuk Jean,model yang tak pernah mengecewakan. "Seperti biasa,selalu perfect!"

Jean mengangguk sambil mengulum senyum tak lupa mengucapkan terima kasih. Berjalan menghampiri seseorang yang rela menunggunya selama empat jam.

"Bin!" Menepuk pundak Bintang. Pria itu tidur dengan posisi duduk. Jean merasa bersalah karena membiarkan Bintang menunggunya padahal lusa suaminya akan terbang ke AS untuk membahas bisnis. Seharusnya hari ini untuk Bintang istirahat,lalu besok untuk mengemas dan lusa tinggal berangkat.

"Udah selesai?"

"Udah,yuk pulang." Jean mengapit lengan suaminya. Mereka menuju parkiran dan mobil langsung melaju.

Jean menatap koper kecil yang berada di sudut kamar lalu beralih menatap suami yang sedang selonjoran di lantai. Mulut Bintang sibuk mengunyah buah anggur tapi pandangan fokus menonton drama Fight For May Way. Ada Kim Ji Won soalnya. Aktris yang menginspirasi Bintang membuat lagu-lagu galau. Kenapa nggak Jean? Karena kata Bintang,Jean nggak pernah bikin dia galau. Berbeda dengan Kim Ji Won,Bintang galau berhari-hari setelah melihat kiss scene di setiap drama yang aktris itu perankan. Bahasa anak mudanya,potek.

"Mau kemana,Bin?"

Bintang menoleh. Memerlihatkan mangkok yang sudah kosong. "Isi ulang anggur."

"Aku aja yang ambil-"

"No!" Bintang mendudukkan kembali Jean. "Kamu kan lagi hamil,nanti si Jubin capek naik turun tangga."

Jean menghela napas. Selalu seperti ini saat ia hamil. Sikap protektif Bintang level maksimal. Nggak boleh ini itu,jemput Yaga sekolah aja nggak boleh nanti Jubin capek padahal Jean nggak jalan kaki loh. Asal usul Jubin itu:junior Bintang,aslinya Bintang junior tapi kalau disingkat jadi Binju sama kayak nama tukang sayur yang suka keliling komplek. Calon anaknya kan calon sultan biar kayak keluarga Jean Bintang,bukan calon tukang sayur. Jadi,papa muda itu menukar penempatan kata. Jadilah si Jubin. Sebenarnya Bintang juga tidak mengizinkan Jean bekerja model saat hamil. Alasannya karena baju yang Jean pakai untuk pemotretan itu bagus,bagus banget malah,tapi gombor-gombor,nanti kesrimpet terus jatuh kan gak lucu. Padahal kan kebutuhan keluarga bisa tercukupi tanpa Jean harus kerja. Royalti terus mengalir di rekening Bintang,bro. Tapi Jean suka bantah dan bilang:

"Aku bukan tipe orang yang bisa santai-santai,Bin. Kalau leye-leye di rumah malah badanku sakit semua."

Ya udah. Bintang setuju Jean tetep jadi model,asalkan kalau pas pakai baju gombor-gombor harus ada yang pegangin biar nggak nyrimpeti. Dan nggak boleh duduk di properti yang tinggi,nanti kepleset terus jatuh.

"Bin udah jam dua." Ingat Jean yang kini ikut menonton drama,tapi ia duduk di ranjang. Nggak dibolehin duduk di lantai,nanti Jubin kedinginan. Padahal lantainya dilapisi karpet berbulu.

Bintang menoleh ke jam dinding. "Oh iya. Tapi ini lagi seru nih."

"Ya udah,aku aja yang jemput Yaga."

Cepat-cepat Bintang beranjak. "Biar aku aja! Jalanan ke tempat les Yaga itu ada tanjakan curam. Nanti ngeglundung!"

"Kamu jangan bilang gitu,Bin! Pamali tau." Jean menatap Bintang tajam.

"Maaf. Aku jemput Yaga dulu." Bintang memakai jaketnya. "Jangan gerak berlebihan! Kalau mau apa-apa telpon Rose aja,dia lagi di rumah. Atau mau aku suruh Rose temenin kamu?"

"Nggak perlu. Dia lagi cuti,biar istirahat di rumah. Jangan ngerepotin orang."

"Ih dia kan suka direpotin."

"Udah sana!"

"Ini otw. Jagain Jubin!"

"Iya bawel."

"°°°°°"

5 April 2004.

Juna pamit pulang dulu karena ada urusan kantor. Rose juga nggak bisa temenin soalnya lagi ngajar. Jadilah cuma Bobby Raya yang menemani bini Bintang lahiran. Orang tua Jean kebetulan lagi di Jerman,jadi nggak bisa jenguk dulu.

Bobby menggelengkan kepala,bosan melihat Bintang yang membenturkan pelan kepalanya di tembok. "Kurang banter,Bin!"

"Diem lo."

"Lebih keras lebih seru."

Bintang melototi Bobby. "Mau sohib lo ini moek terus Jubin lahir nggak ada bapak!?"

"Kan ada gue,bisa dong jadi bapak baru Jubin?"

Kini Bobby mendapat pelototan dari dua orang sekaligus. Pria itu cengengesan sambil mengelus pundak Raya. "Cuma bercanda."

"Lo mau gue sunat?"

"Eh jangan dong,Sayang! Nanti habis."

Raya membuang muka. Bisa-bisanya bercanda disuasana seperti ini. Pinggul Jean terlalu kecil,daritadi ditanyain diam aja. Jean ngambek karena terus dipaksa untuk caesar,Jean masih keukeuh lahir normal. Bintang udah bujuk dia nggak bakal larang ini itu kalau Jean hamil lagi,tapi nggak ngaruh. Anak pertama kan udah caesar,yang kedua harus normal,itu kata Jean. Dan kalau Bintang ngotot meminta Jean setuju caesar,wanita itu mengancam minta cerai. Nah gimana kalau jadi Bintang? Serba salah.

Bintang pergi ke taman rumah sakit,tidak tega mendengar tangisan Jean yang menahan sakit. Dibilangin ngeyel. Yaga dititipkan ke Rose,anaknya Rose itu temen deket Yaga dan anak itu tidak akan rewel jika disatukan dengan Bian.

Lihat selengkapnya