Kemunculan semburat merah peach di langit sore kala itu lebih mirip seperti tanda peringatan; bahwa satu lagi hari telah lewat tanpa aku menjadi siapa-siapa—atau milik siapa. Orang-orang melihat fotoku mengenakan toga di dinding ruang tamu sebagai garis finis, padahal bagiku, itu hanyalah gerbang menuju penantian yang bahkan belum nampak hilalnya.
Di kotaku ini menyimpan banyak sekali kenangan. Tapi belakangan ini, atmosfernya terasa jauh lebih berat dan melelahkan. Lamaran pertama yang kuterima dua tahun lalu—persis setelah aku menyelesaikan masa kuliahku—tidak pernah kulanjutkan. Kemudian silih berganti laki-laki datang. Entah sudah berapa kali niat baik itu mampir; mulai dari ajakan lamaran formal yang kaku, basa-basi perkenalan santai yang dipaksakan, hingga prosedur ta’aruf yang terasa seperti seleksi administrasi pegawai negeri. Semuanya kuhentikan langkahnya tepat di ambang pintu.
Tumpukan biodata asing—CV yang penuh data statistik tentang tinggi badan, penghasilan, dan silsilah keluarga—berakhir membisu di sudut meja kamarku, sengaja kubiarkan berdebu tanpa tindak lanjut. Kadang aku ingin menjawab jujur—bahwa bukan “belum ada yang pas”, tapi mungkin… aku yang belum selesai dengan diriku sendiri. Bahwa memilih seseorang bukan sekadar menemukan yang tepat, tapi juga memastikan diriku sudah utuh dan tidak ‘nanggung’ saat menerimanya.
Mereka terus berdatangan. Yang baru saja pergi bisa datang kembali dengan alasan menunggu kesiapanku. Sebuah kesetiaan yang bagiku justru terasa seperti teror halus; seolah mereka sedang menabung jasa yang suatu saat nanti harus kubayar dengan menyerahkan separuh naskah hidupku. Aku sudah sampai di titik buntu. Tak tahu harus melempar alasan klasik apa lagi untuk sekadar menjaga jarak. Mulai dari ambisi karier, mimpi yang masih kukejar setengah mati, hingga pengakuan bahwa jenjang serius memang belum pernah mampir dalam rencana hidupku yang bahkan belum punya bentuk tetap.
Aku bahkan nyaris memakai alasan yang terdengar konyol bagi orang waras; bahwa aku masih ingin fokus mengurus ‘bayiku’—Big-E. Tikus rat peliharaanku itu sedang lucu-lucunya, bertengger tenang di dalam akuarium kaca yang sengaja diletakkan di meja pajangan sisi ruang tamu—mengambil alih tempat yang biasanya disediakan untuk guci mahal atau foto keluarga formal. Bagiku, kumisnya yang bergerak-gerak setiap kali mengendus udara jauh lebih butuh perhatian dan komitmen daripada seorang calon imam mana pun yang datang dengan janji-janji muluk.
Atau (mungkin)... ada alasan paling rahasia yang tak pernah berani kuucapkan lantang, bahkan sebagai pengakuan jujur pada diriku sendiri. Bahwa sebenarnya, ada satu muara hati yang tiba-tiba bangkit tanpa izin dan tanpa kusadari telah kujaga dengan sangat posesif, meski aku tak tahu ke mana airnya akan mengalir.
Lucunya, aku sendiri tidak tahu siapa yang sedang kutunggu. Rasanya aneh. Aku menolak setiap ketukan di pintu seolah-olah kursi di sampingku sudah dipesan pemiliknya, padahal kursi itu masih kosong melompong dan berdebu. Aku seperti sedang menjaga sebuah janji yang pernah kubuat dalam mimpi, namun lupa dengan siapa janji itu diikrarkan. Ada sebuah ruang di dalam dadaku yang sudah terkunci rapat, namun kuncinya entah hilang ke mana—atau mungkin, aku sengaja membuangnya agar tidak ada yang bisa masuk sebelum orang yang 'tepat' itu datang membawa duplikatnya.
Siapa dia? Aku tidak tahu. Aku hanya merasa, jika aku menerima salah satu dari mereka sekarang, aku sedang mengkhianati seseorang yang bahkan belum kutemui. Apalagi yang bisa kulakukan kecuali menyerahkan semua isi hati pada Allah, Sang Pemilik Rahasia.
Aku menghela napas, menatap ujung kakiku yang beradu dengan dinginnya tembok balkon jendela kamar depan. Dari atas kesunyian ini, aku mencoba merakit kembali robekan rasa percaya diri yang terkoyak oleh ekspektasi orang lain. Aku mendecih pelan. Segudang pertanyaan sinis orang-orang merayap paksa di sekitar kepalaku. Mereka lupa—kalau nanti aku sesak napas dalam komitmen yang salah, bukan mereka yang akan memberi oksigen.
Aku memejamkan mata rapat-rapat. “Kalau jarimu masih gatal ingin menulis petualangan yang lain, jangan tamatkan ceritamu di bab pernikahan hanya karena orang lain sudah menutup buku mereka. Kamu tidak berutang menantu pada kami. Gerbang rumah ini otomatis terbuka untukmu.”
Kalimat Ayah dan Bunda menggema, berputar-putar di kepalaku seperti narasi film yang diputar berulang kali. I love you, Ayah, Bunda. Kalian yang terbaik. Mereka adalah anomali di tengah dunia yang berantakan—dua orang yang cukup berani memutus rantai patriarki yang sudah berkarat selama puluhan tahun.
“Siapa lagi?”