First E: The Joublee

Rizasa Vitri
Chapter #1

PROLOG

Langit sore yang mulai berubah warna jadi merah peach sekarang malah kelihatan kayak lampu kuning peringatan buatku. Sinyal kalau satu hari lagi sudah lewat begitu aja tanpa aku berhasil jadi apa-apa—atau jadi milik siapa. Orang-orang kalau main ke rumah pasti langsung fokus ke foto togaku di dinding ruang tamu, menganggap itu sebagai garis finis. Padahal buatku, wisuda kemarin itu cuma gerbang masuk menuju ruang perjuangan panjang yang ujungnya pun belum kelihatan.

Lama-lama, atmosfer di kota ini terasa makin bikin sesak dan melelahkan. Setiap sudutnya punya memori, tapi akhir-akhir ini rasanya makin pengin buru-buru beresin koper, kabur, dan cari udara baru di luar sana.

Saking sesaknya, aku malah jadi ingat kejadian beberapa tahun lalu. Suasana mencekam kayak gini sebenarnya pernah jadi teror yang nyata di antara rumahku dan rumah sebelah. Waktu itu aku masih belum paham kenapa Kak Usman kelihatan cemas setengah mati pas dengar kabar kalau rumah sebelah mau kedatangan tamu. Dia gelisah, pandangannya kosong, kayak lagi mikirin beban hidup yang berat banget. Baru setelah aku tahu kalau tamu itu rombongan cowok yang mau melamar Kak Izki, aku langsung paham dan ikut panik.

Gimana enggak? Kak Izki baru lulus SMP, broh!

Zaman itu, kami semua bahkan baru banget daftar sekolah baru. Aku baru mau masuk SMP, Kak Izki siap-siap masuk SMA, dan Kak Usman lagi siap-siap buat kuliah. Pengumuman kelulusan aja belum resmi keluar. Tapi di tengah ketidakpastian itu, Kak Usman harus menerima kenyataan kalau dia bakal merantau jauh. Makanya malam itu dia kepikiran parah; dia cemas karena harus meninggalkan dua rumah ini, tahu kalau dia enggak bisa lagi jagain Kak Izki secara fisik dari dunia luar yang bergerak terlalu cepat mengincar saudari tak sedarahnya itu.

Sejak kejadian malam itu, aku sempat paranoide kalau teror yang sama bakal menimpaku. Aku selalu siaga setiap kali momen kelulusan sekolah tiba. Pas lulus SMP, aman. Lulus SMA, ternyata masih aman juga.

Nah, giliran lulus kuliah yang baru aja lewat ini, kalian pikir bakal ada rombongan yang datang? Kagak. Nol besar. Ketakutanku selama ini ternyata zonk. Enggak ada tuh ceritanya cowok mapan bawa rombongan keluarga besar ngetuk pintu rumah. Rumah ini adem ayem aja. Sempat kepikiran, apa aku aja ya yang lebay dan kepedean?

Tapi ternyata enggak, ketakutanku itu nyata... cuma sasarannya bukan aku, melainkan Keera. Adik kandungku itu malah dapat lamaran pertamanya dua tahun lalu, pas banget di hari wisudaku. Tapi akhirnya proses itu putus di tengah jalan. Nah, sejak saat itu, arus cowok yang datang ke rumah kayak enggak ada habisnya. Entah sudah berapa kali niat baik itu mampir, tapi semuanya langsung disetop Keera tepat di ambang pintu. Sampai-sampai, tumpukan CV taaruf yang isinya data statistik dari tinggi badan, gaji, sampai silsilah keluarga, berakhir nganggur dan berdebu begitu aja di sudut meja kamarnya.

Pasti pada penasaran kan, kenapa Keera hobi banget menolak? Soalnya buat kami yang masih pengin berproses dan belum siap, dikejar-kejar kayak begitu tuh melelahkan banget. Tapi ya namanya manusia, pas di posisi sebaliknya alias enggak ada yang nyariin kayak aku sekarang, kadang malah pengin didatangi, kan? Lagian hidup kadang seberat itu, sampai ada momen di mana kepikiran, "Apa nikah aja ya biar lepas dari beban hidup dan omongan tetangga?" Lucunya, aku sudah menyiapkan seribu alasan buat menolak, eh realitanya... malah aku yang ditolak takdir karena enggak ada satu pun yang ngetuk pintu.

Tapi di situlah letak teror yang sebenarnya buat aku.

Di lingkungan yang masih kolot begini, cewek kepala dua, belum kerja, dan "belum ada calon" kayak aku ini otomatis dicap sebagai barang yang enggak laku. Sementara Keera, dia ada potensi melangkahiku dan Kak Usman, walaupun sampai sekarang dia masih konsisten menolak mereka semua. Kadang aku gemas pengin menjawab jujur ke tetangga yang hobi menyindir. Ini bukan soal “belum ada yang cocok” atau “enggak ada yang mau”, tapi emang aku dan Keera yang belum selesai sama diri sendiri. Memilih pasangan itu bukan cuma soal menemukan orang yang tepat, tapi juga mastiin diri kami sendiri sudah utuh dan enggak setengah-setengah pas menerimanya. Aku sama Keera ini bukan barang lelang yang harus cepat-cepat diamankan sebelum harganya naik.

Makanya, kadang aku malah kasihan sama Keera. Kalau dipikir-pikir, di balik pintu rumah yang nyaman ini, statusku yang enggak punya calon justru bikin bebas bernapas buat fokus ngejar karier. Beda terbalik sama Keera yang terus-terusan diserbu tanpa jeda. Cowok yang baru diusir aja bisa balik lagi dengan alasan "siap nungguin sampai dia siap".

“Mereka nungguin aku emang kedengarannya kayak setia ya, Kak. Tapi aslinya mah teror. Bayangin aja, mereka kayak lagi nabung jasa supaya nanti kubayar dengan menyerahkan separuh naskah hidupku ke mereka,” kata Keera waktu itu. Dan jujur, isi kepalaku bakal sama persis kalau ada di posisi dia.

Lagian, ketakutan asliku sebenarnya jauh lebih horor daripada sekadar masalah jomblo. Di luar sana, ibu-ibu komplek sudah enggak bisa dijadikan panutan; tatapannya sinis banget, kayak menganggapku ini saingan atau beban sosial. Belum lagi kelakuan bapak-bapak yang tampaknya lagi puber kedua, makin bikin ngeri.

Benar-benar di titik buntu, kehabisan alasan klasik buat menghindar dari omongan orang. Mau pakai alasan fokus karier, mimpi yang masih dikejar setengah mati, sampai jujur kalau urusan nikah memang belum masuk ke rencana hidup yang bentuknya aja belum jelas ini—tetep aja enggak mempan.

Sampai-sampai, nyaris mau pakai alasan konyol yang cuma dianggap waras sama pencinta hewan: bilang kalau aku mau fokus ngurusin ‘bayi’ aku—Big-E. Tikus rat peliharaanku itu lagi lucu-lucunya, anteng di dalam akuarium kaca yang sengaja kupajang di ruang tamu, menggantikan posisi yang biasanya dipakai buat guci mahal atau foto keluarga. Bagiku, kumisnya yang gerak-gerak tiap kali mengendus udara itu jauh lebih butuh komitmen dan perhatian, daripada janji manis cowok mana pun yang sok-sokan mau jadi imam.

Lagipula, nyari calon imam juga bukan perkara gampang buatku. Bukannya menutup diri sepenuhnya dari pernikahan; buktinya aku sempat memegang beberapa lembar CV taaruf dan melangkah sampai tahap ketemuan langsung. Tapi ujung-ujungnya? Aku yang ditolak. Cowok-cowok itu langsung kicep begitu dengar isi kepala dan obrolanku yang katanya 'ketinggian'. Sudut pandang, prinsip, dan caraku melihat masa depan malah bikin mereka ciut.

Lihat selengkapnya