First E: The Joublee

Rizasa Vitri
Chapter #2

BAB 1

“HAAAQIIII!!!”

Lengkingan suaraku membelah udara pagi yang masih basah. Sebenarnya ini bukan ritual wajib, tapi lidahku kayak punya refleks otomatis buat meneriakkan namanya setiap kali sosok itu kelihatan sama mataku. Di mana pun, kapan pun.

Aku menjulurkan kepala dari jendela samping kamar—posisi yang strategis banget karena langsung mengintip ke halaman rumah sebelah. Dari sudut ini, aku bisa melihat sosok yang sudah familier banget di bawah sana. Haqi lagi sibuk sama rutinitas domestiknya: menyapu halaman.

Dia mendongak. Bukannya kesal karena ketenangannya aku rusak, dia malah melempar senyum tipis. Jenis senyum teduh yang entah gimana selalu sukses bikin adem isi kepalaku yang ruwet, bahkan sebelum hari benar-benar dimulai.

“Pagi!” sapaku ceria.

“Pagi,” balasnya singkat. Tapi itu sudah cukup buat bikin pagiku lengkap.

“Gue berangkat duluan! Biasa!” seruku sambil menyampirkan tas ke bahu.

Dia menyeringai, tahu persis kata ‘biasa’ yang aku maksud adalah ritual berkeliling sekolah di hari pertama. “Iya, jangan ngebut!” teriaknya balik.

Haqi paham banget sama tabiatku. Biasanya kami memang berangkat bareng dan dia enggak bakal pernah membiarkanku menyentuh setang motor. Tapi khusus hari ini, aku membawa motor Ayah. Sendirian.

“Siap, Bos!” sahutku lantang.

Tentu saja itu bohong. Aku langsung menuruni anak tangga dengan langkah seribu, menyambar kunci motor dari laci meja ruang keluarga. Di dapur, aku sempat mencomot selembar keju slice dari meja makan, mencium tangan Ayah dan Bunda kilat buat pamitan—yang cuma dibalas gelengan maklum sama mereka. Sebelum benar-benar keluar, aku menyempatkan diri mengelus Big-E buat memberi dia sedikit sarapan.

Begitu sampai di teras, mataku tertuju pada sebuah kotak bekal yang nangkring manis di atas meja. Ada secarik kertas bertuliskan: “My Tikus Got.” Di bawahnya ada tulisan tambahan: Hadiah keterima di SMANSA dan mandiri.

Aku tersenyum lebar. SMANSA—sekolah yang aku kejar mati-matian sampai kurang tidur, dan Haqi adalah orang yang paling tahu gimana perjuanganku buat masuk ke sana. “Makasih, Qi,” gumamku pelan.

Pas jemariku menyentuh permukaannya, ada rasa hangat yang terasa dari dasar kotak itu. Tanpa perlu melihat ke dalam pun, aku sudah tahu aroma apa yang ada di sana. Dasar morning person sok rajin, batinku. Dia tahu betul tenaga “mungil”-ku ini butuh asupan yang pas buat hari pertama sekolah.

Begitu gerbang terbuka, aku langsung menarik gas dalam-dalam. Persetan sama wejangan Haqi; bagiku, pagi adalah tentang adrenalin. Ada sensasi bebas yang aku cari ketika motor melaju membelah angin. Haqi selalu membiarkanku menjadi versi diriku yang paling jujur, sebelum "topeng" dunia harus kupasang.

***

Deru mesin motor Ayah akhirnya meredup pas aku memasuki parkiran sekolah. Napasku masih agak memburu. Haqi bener, aku emang enggak bisa bawa motor pelan-pelan, tapi untungnya hari ini aspal lagi berpihak sama aku.

Begitu mesin mati, ronde pertama penyamaranku pun dimulai. Setelah merapikan rok seragam, aku mengeluarkan sebuah benda keramat: kacamata bulat punya adikku, Keera. Dengan gerakan dramatis, aku pasang bingkai hitam itu di pangkal hidung.

Cring! Seketika, si pembalap jalanan langsung lenyap. Yang tersisa di spion motor sekarang cuma 'Ilma si Introvert'—siswi teladan yang kelihatan kayak menghabiskan malamnya buat membaca ensiklopedia daripada mikirin taktik memacu gas motor. Ini emang peran yang sengaja aku pilih sejak masa orientasi; strategi jitu biar aku bisa mengamati sekitar tanpa perlu repot basa-basi sama orang baru.

Aku mulai berjalan menyusuri koridor dengan langkah yang diatur; pelan, menunduk, dan agak kikuk. Tanganku mendekap tali tas erat-erat, akting seolah-olah lagi membawa beban rahasia negara.

“Permisi...” gumamku lirih, nyaris enggak kedengaran, pas berpapasan sama gerombolan anak-anak di depan mading. Padahal di dalam hati, aku pengin banget teriak, “Minggir, woi!”

Tapi sialnya, pas ada seseorang yang tiba-tiba menyapa, refleks aku malah balik ke setelan pabrik gara-gara kesetrum sapaan ramah itu.

“Pagi, Il.” Nadanya ramah banget.

“Pagi, Claf!” jawabku, enggak kalah ceria.

Seketika aku langsung syok sendiri sama kelakuanku barusan. Duh, refleks aku langsung buru-buru balik lagi ke mode introvert.

“Mau ke mana?”

“Eh, ini. Mau keliling. Biasalah. Suka explore gitu.”

“Oh, kayak Dora gitu ya?”

“Hahaha bisa aja deh lo, Claf. Eh iya nih, mau ikut? Palingan habis keliling mau ke perpus.”

“Kayaknya enggak dulu deh, Il. Gue buru-buru.”

“Ok, duluan ya.”

Perjalanan menyamarku pun berlanjut. Sepanjang jalan aktingku nyaris sempurna, sampai konsentrasiku pecah pas melihat ada tumpukan buku yang seolah-olah lagi melayang ke arahku. Oh, ternyata bukan melayang; ada orang yang lagi bawa buku setinggi dagu sampai menutupi pandangannya sendiri. Aku mencoba menghindar ke kiri, tapi dia juga ikutan geser ke kiri. Aku ke kanan, eh dia ke kanan juga.

Brak!

Kacamata pinjamanku nyaris melompat dari hidung.

“Aduh, sorry! Lo enggak apa-apa?” tanyaku cepat. Refleks, aku langsung jongkok buat membantu memunguti tumpukan buku bersampul cokelat yang sudah berhamburan di lantai lorong.

Orang di hadapanku cuma mengangguk tanpa suara. Jemarinya cekatan banget, seolah sudah terbiasa membereskan kekacauan kayak begini. Pas lagi memungut buku, jemari kami sempat bersentuhan sebentar. Dan begitu dia mengangkat kepala sampai tatapan kami bertemu tepat di balik lensa kacamataku yang sudah miring...

Duniaku rasanya berhenti satu detik. Tatapan itu familier banget, rasanya aneh kalau dimiliki sama orang asing di sekolah ini.

“...Ih, Haqi!” keluhku—antara lega sekaligus kesal karena aktingku barusan hancur total di depan orang yang paling tahu isi kepalaku. “Gue kira siapa! Bikin kaget aja!”

Aku berdiri sambil menepuk-nepuk rok seragam yang agak berdebu. Sementara Haqi malah terkekeh pelan, kelihatan menikmati banget ekspresi konyolku tadi. Aku mengangkat sebelah alis, memberi dia tatapan tajam buat menuntut penjelasan. Seharusnya nih anak masih di rumah, lagi bergelut sama sapu dan setumpuk pekerjaan rumah lainnya—setidaknya itu yang aku lihat sepuluh menit lalu.

“Tadi tuh rencananya Kak Izk—”

“Kak Izki?” potongku cepat, bahkan sebelum Haqi sempat menyelesaikan kalimatnya. Aku mendengus pelan. Mustahil, aku hampir aja percaya sama bualannya. Kak Izki memang selalu pasang badan buat mengambil alih segala urusan domestik Haqi. Karena bagi Kak Izki, tugas Haqi buat jagain aku itu jauh lebih krusial dibanding apa pun—meskipun itu cuma berlaku di saat darurat atau hari-hari penting kayak sekarang.

“Maksud gue, bukannya Kak Izki udah berangkat dini hari tadi, kan?” lanjutku yakin.

Sesuai rencana yang aku dengar semalam, Kak Izki bakal berangkat subuh-subuh sekali naik travel buat mengurus kosan dan ospek kuliahnya. Katanya sih, biar enggak ada adegan pamitan yang mengharukan—khas Kak Izki banget yang benci suasana melankolis. Padahal bagiku, rencana keberangkatannya aja sudah meninggalkan lubang sunyi yang lumayan besar di antara dua rumah kami.

Biasanya, jam segini Haqi adalah orang nomor satu yang siaga mengantar Umi ke pasar. Kalau keadaan lagi genting, barulah Kak Izki berdebat sengit sama Abi soal siapa yang harus mengalah buat mengantar Umi. Tapi kali ini, semesta seolah memberi kelonggaran karena Umi sendiri yang memberi titah. Haqi bebas melenggang menjemput aku lebih awal; hadiah khusus dari keluarganya karena bagi mereka, hari pertama sekolahku adalah prioritas di atas urusan pasar mana pun.

“Batal berangkat subuh tadi. Ada berkas yang keselip, jadi dia masih sibuk bongkar koper di rumah,” ralat Haqi cepat. “Makanya dia sempatin ambil alih kerjaan gue bentar, katanya biar gue buruan nyusul lo. Takut lo lumutan nunggu sendirian di gerbang."

Aku memutar bola mata. Hadeuh. Keluarga Haqi memang kompak banget; mereka selalu punya cara buat merusak rencana me-time yang sudah aku susun rapi di kepala lewat segala skenario "antar-jaga" mereka itu.

“Halah, bilang aja lo yang kangen sama gue,” dengusku. Mataku beralih ke tumpukan buku yang kembali dia dekap erat. Kondisi koridor yang masih sepi banget karena hari masih terlalu pagi membuat tumpukan buku itu kelihatan makin mencolok. “Tunggu! Terus… orang gila mana yang bawa perpustakaan pribadi di hari pertama sekolah? Lo mau jualan buku loak?”

“Lo tahu sendiri, lah,” jawabnya ringan. “Fungsinya sebelas dua belas sama benda yang nangkring di hidung lo itu.”

Refleks, aku membetulkan letak kacamata bulat yang hampir merosot.

“Gimana? Bagus enggak?” tanyaku iseng, memamerkan bingkai hitam ini.

“Gak,” jawabnya datar, sukses membuatku menimpuk dia pakai salah satu buku yang sempat aku pungut tadi. Haqi cuma tertawa—tipe tawa yang menunjukkan kalau dia sudah hafal banget sama semua trik payahku.

Oh iya, ngomong-ngomong, kami belum memperkenalkan diri secara resmi. Aku Ilma—panggilan warisan konyol dari kemalasan abang kandungku, Kak Usman, dalam menyebut nama asliku pas kami masih kecil. "Ilma aja, biar cepet," katanya waktu itu. Dan siapa sangka, nama "potongan" itu malah melekat kayak lem super sampai sekarang.

Dan cowok di sebelah aku ini namanya Haqi. Di mana ada aku, di situ pasti ada dia, begitu juga sebaliknya; paket lengkap yang sudah dipahami sama radar lingkungan sekitar rumah kami.

Cinta pandangan pertama? Klise. Itu bukan kami banget. Atau, dua orang yang dikutuk jadi jomblo abadi? Ngaco. Kami lebih suka menyebutnya: The Jouble. Sebuah unit kecil yang solid di tengah hiruk-pikuk drama SMA yang baru aja dimulai.

***

Kami berjalan bersisian menuju lantai paling atas gedung sayap kanan. Tempat pelarian yang sengaja kami pilih sejak masa orientasi—"benteng" baru kami, satu-satunya area yang selamat dari jangkauan para pencari gosip. Di depannya, terbentang halaman tengah yang luas, memisahkan tempat sepi ini sama gedung tengah yang megah—tempat aula dan panggung acara orientasi berada.

Kenapa enggak memilih rooftop gedung utama? Karena sekolah ini agak istimewa, di mana semua orang justru berebut naik ke rooftop gedung utama yang katanya estetik, penuh bangku taman, dan punya pemandangan kota yang photogenic. Tapi buat kami, keramaian di atas sana sama melelahkannya kayak kantin pas jam istirahat. Kami lebih memilih di sini, tempat dengan suasana terbaik buat membicarakan masa depan—atau sekadar menghabiskan keju slice tanpa perlu berbagi sama siapa pun.

Gedung sayap ini seolah berubah menjadi menara tinggi sebuah istana. Dari puncaknya, aku bisa menyaksikan ratusan siswa yang kelihatan sekecil semut, sibuk sama drama dan urusan mereka sendiri di bawah sana. Buat kami, jarak ini bukan sekadar ketinggian, melainkan batas antara dunia yang tenang dan kekacauan yang malas kami masuki.

Lihat selengkapnya