Suara riuh rendah di kelas kembali menyambutku begitu wali kelas IPS 1 keluar setelah sesi penyambutan kelas pertama. Meskipun ini hari Kamis, rasanya energi kami sudah terkuras habis oleh masa orientasi dari hari Senin sampai Rabu kemarin.
Aku menjatuhkan diri ke kursi, tapi pikiranku masih tertinggal di tikungan koridor. Bayangan sudut mata cowok tadi terus menghantuiku seperti kaset rusak. Apalagi sebuah fakta yang seharusnya sudah kucemaskan sedari awal, malah baru terasa nyata menghantamku sekarang: dia juga daftar OSIS.
Melihat tumpukan berkas yang dia bawa tadi, kemungkinan besar dia bukan cuma pengurus biasa, tapi pemegang posisi penting.
"Gue mau mundur aja dari OSIS," gumamku pelan pada diri sendiri.
Aku memang lolos. Nama lengkapku terpampang nyata di papan pengumuman. Aku berhasil melewati seleksi yang menguras otak itu, tapi ini soal seleksi semesta. Demi kesehatan jantung dan kestabilan mental, aku tidak bisa membayangkan harus berada dalam satu ruangan rapat dengan orang yang bikin jantungku hampir copot hanya dengan tatapan sekilas. Aku bergidik sendiri memikirkannya.
"Lo yang semangat 45 pas maksa gue daftar, sekarang setelah diumumkan malah mau kibarkan bendera putih?" protes Haqi yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.
"Heleh, lo sendiri mundur sebelum nama lo benar-benar tertulis di sana," balasku sengit. Aku menoleh, menatapnya dengan pandangan nanar. "Lagian, ada hal-hal di dunia ini yang nggak bisa dijelaskan pakai teori logika, Qi. Kayak... kesehatan mental gue yang terancam kalau gue tetap lanjut.”
Haqi menyipitkan mata, kentara sekali kalau dia curiga. “Lupain aja, lo nggak bakal ngerti."
“Gue ngerti.”
Ucapannya yang barusan meluncur dengan nada rendah itu sukses mencekikku.
“Ngerti apa?” pekikku ciut, langsung merasakan hawa radar mautnya yang mengepung sekitar.
Cowok ini seolah punya kekuatan telepati seram yang dengan mudahnya bisa membaca pikiranku—yang saat ini sedang memutar ulang kejadian horor di koridor tadi. Dia tahu ada sesuatu yang tidak beres. Untuk menghindari interogasi tingkat dewa darinya, aku langsung mengalihkan pandangan ke penjuru kelas, mencari siapa pun yang bisa menyelamatkanku dari si mata elang ini.
“Eh, halo, gue Ilma,” sapaku, menyambar asal ke seorang cewek yang kelihatannya cukup ramah untuk didekati.
“Eh, lo Ilma yang tadi teriak itu, kan? Kaget banget loh!” jawabnya sambil memiringkan kepala, mencoba mengintip "aura gelap" yang berdiri diam di balik tubuhku. “Sahabat lo?”
“I-iya, nih.” Aku hanya tersenyum kecut. Pasrah sekaligus menyesal karena di hari pertama ini semua orang sudah mengetahui kalau aku sudah sepaket dengan manusia kaku di belakangku.
Cewek ini kemudian mengajakku bergabung ke gerombolan gosipnya. Dalam sekejap, aku terjebak dalam pusaran frekuensi mereka; mulai dari berita tentang cewek bule di kelas IPA 1, sampai gosip-gosip receh lainnya.
Di tengah hiruk-pikuk itu, radarku menangkap sosok lain. Di sudut kelas, aku melihat seorang siswi berhijab dan berkacamata kotak yang tampak sangat kalem. Dia adalah versi nyata dari "penyamaran" yang aku dambakan sejak pagi tadi. Wujud introvert yang asli, tipe-tipe tokoh utama dalam novel terkenal yang tenang.
“Hai, aku Ilma,” sapaku menghampirinya. Entah kenapa lidahku refleks berbelok menggunakan kata ganti yang jauh lebih sopan.
“N..Nina,” jawabnya lembut.
“Kamu sendirian aja di sini? Mau gabung ke depan?” tanyaku lagi, benar-benar larut dalam frekuensi tenangnya.
Sebelum Nina sempat menjawab, Haqi mendekatiku dengan langkah yang lebih bersahabat. Sepertinya radar pelindungnya setuju kalau Nina menjadi temanku, karena aura kalem gadis itu jelas tidak akan membawaku ke jalan yang "sesat".
“Pake hijab,” bisik Haqi lirih di dekat kupingku, dengan lirikan yang seolah merujuk Nina sebagai contoh nyata di depan mata.
Dia sedang mengingatkanku pada kata-kata wali kelas tadi. Minggu depan, saat seragam SMA kami yang dipesan khusus di penjahit sudah jadi, semua murid harus tampil rapi. Aku memang sudah meminta ke Bunda untuk menjahitkan seragam dengan lengan panjang, tapi hatiku masih ragu soal kain penutup kepala itu.
“Iya, Insya Allah kalau sudah siap,” jawabku bandel.
“Gimana sih, kan sudah janji!” Haqi mulai mode bawelnya lagi.
Namun, perdebatan internal kami langsung terputus. Seorang cowok dari barisan belakang tiba-tiba melangkah mendekat. Matanya tertuju lurus padaku dengan senyum yang... yah, harus kuakui cukup percaya diri.
“Eh, anak mana? Kenalan dong, gue—”
Belum sempat cowok itu menyelesaikan kalimatnya, aku bisa merasakan suhu di belakang punggungku mendadak turun drastis sampai ke titik beku.
Sret.
Haqi bergeser satu inci, dengan sengaja memotong ruang dan menghalangi jalan cowok itu. Dia memberikan tatapan tajam khasnya yang seolah berkata tanpa suara: Satu langkah lagi, dan lo berurusan sama gue.
Cowok itu tertegun, senyum percaya dirinya langsung luntur seketika. Ia melirik Haqi dengan ragu, lalu kembali menatapku dengan canggung sebelum akhirnya memutuskan mundur perlahan.
Sementara itu, di tempatku berdiri, jantungku kembali berdisko hebat—bukan karena pesona cowok yang mau kenalan tadi, melainkan karena sebuah kesadaran pahit yang menghantamku. Selama aku berada dalam radius beberapa meter dari Haqi, impian untuk punya "hidup normal" sebagai anak SMA biasa sepertinya memang cuma akan jadi angan-angan yang digembok rapat.
Aku menatap punggung cowok yang tadi mau kenalan itu menjauh hingga rasanya seperti tertelan bumi. Aura Haqi benar-benar bukan tandingan untuk nyali anak kelas satu di hari pertama sekolah.
"Puas lo?" ketusku sambil kembali menoleh ke arah Nina.
Niatnya aku ingin meminta maaf secara tersirat karena drama kami mungkin mengganggu ketenangannya. Tapi, yang kudapatkan justru Nina sedang tersenyum tipis. Tipe senyum misterius yang membuatku merasa dia tahu sesuatu yang tidak kuketahui. Tapi sudahlah, urusan Nina bisa nanti. Sekarang kami punya misi yang jauh lebih krusial: Mundur dari OSIS.
"Qi, temenin gue ke ruang OSIS," rengekku sambil menarik ujung seragamnya.
Haqi menaikkan sebelah alisnya. "Mau ngapain? Mau sombong karena lolos?"
"Mau mundur!" bisikku tajam. "Tega banget sih lo, Qi. Lo sendiri mundur diam-diam, terus ngebiarin gue terdampar di OSIS sendirian? Gue nggak mau jadi satu-satunya perwakilan 'The Jouble' yang kerja rodi di sana!"
Haqi menghela napas panjang, tipe helaan napas yang biasanya dia keluarkan kalau aku mulai kumat bandelnya. "Gue nggak mundur diam-diam. Gue cuma nggak mau naruh nama gue di papan pengumuman kalau ujung-ujungnya gue nggak bisa fokus karena harus jagain lo di ruang rapat."
Aku tertegun. Alasan macam apa itu? Tapi sebelum aku sempat protes, dia sudah melangkah lebih dulu.
"Ayo. Tapi gue cuma nemenin sampai depan pintu. Sisanya urusan lo sama panitia seleksi."
Kami berjalan menyusuri koridor menuju ruang organisasi yang terletak di ujung sekolah, tepat di dekat laboratorium. Wangi formalin dan debu samar-samar tercium di udara, entah kenapa malah menambah kesan horor di kepalaku. Setiap kali ada siswa lain yang berpapasan dan membawa tumpukan map, jantungku langsung berdegup kencang. Takut kalau orang itu adalah dia.
"Kenapa lo gemetaran?" tanya Haqi tanpa menoleh. Dia memang punya radar yang terlalu sensitif kalau sudah menyangkut diriku.
"Gue... gue cuma kedinginan! Angin di sini kencang banget," alibiku asal. Padahal, keringat dingin sudah mulai memandikan keningku di balik helaian rambut.
Begitu sampai di depan pintu kayu jati bertuliskan 'RUANG OSIS', langkahku mendadak terkunci. Rasanya seperti ada lem tak kasat mata yang menempelkan sepatuku ke lantai koridor. Dari balik celah pintu yang sedikit terbuka, aku mendengar suara bariton yang berat dan tenang.
Aku belum pernah mendengar suaranya secara langsung—saat insiden tabrakan di koridor tadi dia hanya mengangguk—tapi radarku langsung berteriak: “Jangan-jangan... itu dia.” Atau mungkin, suara itu pernah sekilas kudengar saat sesi wawancara seleksi yang super ketat kemarin.
"Itu dia..." bisikku tertahan saat melihat sosoknya secara fisik dari celah sempit itu.
"Siapa?" Haqi menoleh cepat. Ia menatap pintu, lalu kembali menatapku dengan tatapan menyelidiki yang tajam. "Lo mau mundur karena orang di dalam?"
Aku membeku. Sial, radar Haqi mulai bekerja di level maksimal. Kalau aku bilang iya, dia pasti bakal menginterogasi siapa cowok itu sampai ke akar-akarnya. Kalau aku bilang nggak, berarti aku harus masuk ke sana dan menyerahkan diri—maksudku, menyerahkan surat pengunduran diri tepat di depan hidung cowok misterius itu.
"Nggak! Bukan!" seruku, sedikit terlalu keras sampai suaraku menggema di koridor walaupun banyak orang berlalu lalang.
Aku baru saja mau beralibi kalau aku takut menghadapi panitia seleksi yang galak, tapi terlambat. Suaraku sepertinya terdengar sampai ke dalam.
Kriet...
Pintu tiba-tiba terbuka lebar dari dalam. Sosok itu berdiri semampai di sana. Tingginya hampir menyamai Haqi, tapi auranya jauh lebih... dingin, seperti es yang sulit ditembus matahari. Ia memegang daftar nama anggota baru di tangan kirinya. Matanya yang tajam langsung tertuju pada namaku yang tertulis paling atas di kertas itu, lalu beralih memadankannya dengan name tag yang masih terjahit di seragam SMP-ku.
"Ak-li... i-ma Shaa… qui—" Ia tampak sedikit kesulitan mengeja namaku yang memang agak tidak pasaran itu.
“Akleema. Ya, saya sendiri,” jawabku cepat.
“Kamu yang namanya... Akleema?”