First E: The Joublee

Rizasa Vitri
Chapter #4

BAB 3

Akhirnya, seminggu menjadi murid baru telah berlalu. Satu beban besar resmi terangkat dari pundakku. Misi “cari tumbal”—maksudku pengganti—di OSIS itu sudah selesai.

Cowok kelas sebelah yang penampilannya sangat "lurus", setuju menggantikan posisiku. Prosesnya sama sekali nggak dramatis; dia butuh posisi strategis, dan aku butuh kebebasan. Win-win solution. Aku belum melihat ada yang aneh darinya, jadi untuk saat ini dia adalah penyelamat hidupku. Aku menyebutnya, Malaikat Penyelamat (MP).

Ditambah kini, cermin di kamarku memantulkan sosok yang berbeda. Seragam SMANSA akhirnya jadi. Bunda menjahitkannya dengan lengan panjang sesuai permintaanku—sebuah kompromi antara keinginan beliau agar aku terlihat lebih "sopan" dan sisi bandelku yang masih enggan mengenakan hijab.

“Bunda! Bekal aja!” teriakku lantang saat menuruni anak tangga dengan terburu-buru.

“Itu di atas meja,” balas beliau dari balik dinding dapur.

Aku buru-buru menyambar kotak bekal itu dan langsung melesat keluar rumah sebelum Bunda sempat memergokiku. Langkah seribu ini sengaja kuambil demi kabur dari ceramah panjang Bunda soal kewajiban memakai hijab di sekolah baru.

"Rapi juga lo kalau nggak pakai kacamata boongan," komentar Haqi yang sudah nangkring dengan santai di atas motornya.

Dia terlihat jauh lebih dewasa dengan seragam putih abu-abu yang pas di badan. Aku sempat memandangi helm di tangannya sebentar sebelum memakai helm yang dia berikan.

"Gue emang selalu rapi. Lo aja yang katarak," balasku sambil memakai helm. “Qi, tabungan gue udah cukup. Nanti pulang sekolah anterin gue beli helm, ya?” ucapku bersemangat.

“Emang kenapa?” Haqi menoleh sekilas.

“Gue rasa, udah waktunya punya helm sendiri. Biasanya kan gue gantian, kadang pake punya Ayah, kadang pake punya Kak Izki.”

“Udah, itu punya Kak Izki pake lo aja, masih bagus kok,” sahut Haqi santai.

“Enggak, enggak. Pokoknya gue mau punya gue sendiri, dari hasil tabungan gue. Sebagai tanda kalau gue ini pembalap sejati!” ujarku keras kepala.

Haqi menghela napas pasrah, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. “Iya, nanti gue anter.”

Aku tersenyum lebar mendengar responsnya. Namun, ketika aku baru saja bersiap untuk naik ke boncengan, gerakan tangan Haqi tiba-tiba menghentikanku.

“Lo yakin nggak kelupaan sesuatu?” tanyaku dengan kening berkerut.

“Apa? Potong rambut? Lo kan udah nganterin gue semalem, Qi, ke salon.”

“Apaan? Sejengkal doang?!” Haqi menggeleng-gelengkan kepala. Jelas bukan potongan rambut minimalis itu yang mau dia bahas. “Bukan itu, Il.”

“Terus apa?”

Haqi menatapku lurus, menunggu. Aku terdiam beberapa detik, pura-pura tidak tahu ke mana arah pembicaraannya.

“Mana hijabnya?” tagih Haqi telak.

“Besok aja ya, Qi, plis... Nanti kita telat nih. Lagian khusus hari ini kan mau tampil di lapangan, jati diri gue, Qi,” pintaku sambil memasang jurus mata memelas andalanku.

“Serah!” Haqi mendengus pasrah, menghidupkan mesin motornya. “Lain kali kalau lo mau potong rambut, gue aja yang motongin. Percuma ke salon kalau cuma dipotong sejengkal doang.”

Aku hanya tertawa kecil di belakang punggungnya. Setidaknya, urusan hijab hari ini tidak diperpanjang.

***

Hari ini adalah hari demo ekstrakurikuler—hari di mana aku bisa menunjukkan siapa aku sebenarnya. Seharian penuh ini, lapangan tengah bakal disulap menjadi panggung besar. Musik berdentum, teriakan kakak kelas yang mempromosikan klub mereka masing-masing memecah udara. Suara musik dari aula pun menggema sampai ke lapangan tengah, membuat SMANSA mendadak jadi lautan manusia yang penuh ambisi.

Sebelum acara demo yang panjang ini di puncaknya, aku dan Haqi sebenarnya sudah puas bernostalgia dengan dunia kami masing-masing. Haqi tadi langsung menuju lapangan basket. Dari kejauhan, aku bisa melihat aura seleb cowok itu langsung aktif otomatis. Begitu dia memegang bola, beberapa siswi kelas sepuluh langsung berbisik-bisik heboh di pinggir lapangan. Dia sempat dipanggil pelatih barunya untuk briefing singkat mengenai demo nanti.

Sementara itu, aku memilih memisahkan diri ke lapangan rumput yang lebih luas di sisi sayap kiri, tempat anak-anak klub softball berkumpul. Di sekolah dulu, aku adalah kapten softball. Prestasiku nggak kalah dari Haqi, cuma ya itu... aura seleb tuh anak memang lebih populer seantero kota.

Di area softball ini semuanya adalah orang baru, tidak ada yang sekelas denganku atau sempat kenalan denganku pas MOS kemarin. Jelas, tidak ada yang tahu siapa aku. Aku menghirup dalam-dalam bau tanah kering dan rumput yang terpapar matahari. Aroma terapi terbaikku.

“Woi, anak baru! Awas!”

Sebuah bola kasti melesat liar ke arahku akibat lemparan salah sasaran dari anak baru lainnya. Refleks yang sudah terlatih bertahun-tahun langsung mengambil alih tubuhku. Tanpa sarung tangan, tangan kananku melesat secepat kilat dan menangkap bola itu tepat di udara. Panas dan agak perih, tapi aku tidak peduli. Dengan satu putaran bahu yang presisi, aku melempar balik bola itu tepat ke arah mitt penangkap di kejauhan dengan kecepatan penuh.

PLAK!

Suara hantaman bola yang keras sukses membuat area softball mendadak hening.

"Gila! Lemparan siapa itu?" teriak sang Presiden Softball, matanya melebar tak percaya. Ia menunjukku dengan pemukulnya. "Lo! Sini! Masuk daftar seleksi inti. Nama?"

"Ilma, Kak," jawabku singkat dengan senyum miring.

Di sini, aku bukan Putri Tikus yang harus bersembunyi di balik punggung Haqi. Aku predator.

***

Setelah urusan dengan klub masing-masing selesai, aku dan Haqi kembali bertemu untuk berjalan-jalan keliling stan. Kami membeli minuman plastik, susu cokelat kotak kesukaan Haqi, dan beberapa camilan di stan anak-anak kewirausahaan.

“Wah, Il. Ada yang baru nih,” sapa seorang teman sekelasku yang kebetulan lewat secara random.

“Iya lah, lo juga sama kan pakai seragam baru,” balasku santai.

“Yah, tapi lo penampilan baru kan? Panjang-panjang begitu baju sama rok lo. Tapi cantik kok!” puji cewek itu jujur. Mendengar pujian dari sesama cewek, Haqi di sampingku hanya memasang wajah datar dan tetap santai menyesap susunya.

“Ilma, lo cantik banget!!!” Tiba-tiba seorang cowok dari kelas sebelah berteriak heboh dari seberang koridor.

Detik itu juga, ekspresi Haqi langsung berubah drastis menjadi garang. Tatapan matanya menajam, mengirimkan sinyal maut tak kasat mata yang membuat cowok tadi langsung pura-pura sibuk melihat brosur. Aku hanya bisa menahan tawa melihat protektivitas radarnya yang mendadak aktif.

Karena masih banyak stan yang belum kami lihat dan kaki kami mulai pegal, kami memutuskan untuk istirahat dulu. Kami duduk-duduk santai di pinggir area keramaian demo sambil memperhatikan kerumunan siswa.

"Lo liat si bule IPA 1 nggak?" celetuk Haqi tiba-tiba, masih sambil menggigit sedotan susu cokelatnya.

Aku menghentikan gerakan tanganku yang sedang mengelap sisa debu lapangan di lengan seragam. "Maksud lo, Claf?"

Haqi mengangguk. "Tadi gue papasan di koridor deket aula. Dia kelihatan sibuk banget karena ikut OSIS. Tapi berubah drastis, Il. Pas MOS hari pertama, rambut pirangnya masih ke mana-mana. Sekarang? Dia pake hijab. Rapi banget."

Aku terdiam. Aku ingat betul pertemuan pertamaku dengan Clafia—atau Claf. Waktu itu hari pertama penerimaan murid baru. Kami kebetulan berada di barisan apel yang sama. Di tengah lautan seragam putih-biru yang masih terasa kaku, dia tampak begitu mencolok dengan wajah bulenya. Saat itu dia belum berhijab; berdiri diam di sana seolah dia adalah kepingan teka-teki yang salah tempat. Namun entah bagaimana, aku merasa beruntung bisa berada di baris yang sama dengannya.

Tapi sekarang, mendengar dia sudah mantap menutup kepala sementara aku masih "nego" soal lengan panjang, rasanya ada sesuatu yang menyentil egoku.

"Hebat ya dia. Padahal baru masuk SMA," sambung Haqi, matanya menatap ke arah kerumunan siswa IPA 1 di kejauhan. "Nggak perlu nunggu 'siap' atau nunggu 'hidayah' turun dari langit dulu."

"Nyindir gue?" potongku tajam.

Haqi menoleh, memberikan senyum tipis yang menyebalkan. "Gue nggak nyindir. Gue cuma takjub aja, ada orang yang seberani itu ambil keputusan di tengah lingkungan baru yang isinya orang asing semua. Nggak takut dicengin atau dibilang sok alim."

"Gue nggak takut ya, Qi! Gue cuma..." Aku menggantung kalimatku. "Gue cuma butuh waktu. Tiap orang punya prosesnya masing-masing, kan?"

"Proses atau alasan?" Haqi menaikkan sebelah alisnya, lalu menepuk bahuku agak keras sampai es cekik di tanganku hampir saja meluncur jatuh. "Jangan sampai kalah sama bule, Putri Tikus. Malu sama sejarah The Jouble."

Aku mendengus keras, ingin sekali menimpuknya pakai bola kasti. Tapi jauh di dalam hati, aku mulai berpikir keras. Claf saja bisa. Kenapa aku, yang asli lokal dan sudah "kenyang" dididik Ayah-Bunda, masih merasa segan?

“Dan by the way,” tambah Haqi dengan nada datar, “dia anak basket.”

Skakmat. Kalimat itu menghantamku telak. Fakta bahwa Claf adalah anak olahraga yang berhijab, sedangkan aku sengaja menolak hijab hari ini demi alasan kenyamanan softball-ku, membuatku benar-benar bungkam.

“Ilma!” sapa sebuah suara yang sangat kukenal dari kejauhan. Sosok Nina mulai berjalan mendekat ke arah kami.

“Hai, Nin. Eh, kamu masuk klub apa?” tanyaku mengalihkan kegundahan hatiku begitu melihatnya.

“Il, kamu pasti nggak percaya ini," ucap Nina dengan mata berbinar-binar. "Kamu suka sayur kan? Dan kamu dari kemarin-kemarin bertanya-tanya klub apa yang mengelola rumah hidroponik itu kan? Aku tau, ayo ikut aku ke stan-nya!”

Tanpa menunggu persetujuanku, Nina langsung menarik lenganku dengan kuat. “Ayo!”

“Qi, gue ke sana bentar ya!” pamitku setengah berteriak pada Haqi yang hanya mengacungkan jempolnya sambil terus mengulum sedotan susu cokelat.

Mendengar kata "hidroponik", radarku memang langsung tegak sempurna. Sejak pertama kali keliling sekolah saat MOS, aku sudah mengincar bangunan rumah kaca mini di sudut belakang sekolah itu. Bagi seorang pecinta sayur sepertiku, tempat itu adalah surga tersembunyi. Sementara Nina, sebagai orang yang sangat peduli lingkungan dan hobi memungut sampah, langsung jatuh cinta karena SMANSA terkenal dengan prestasi sekolah Adiwiyata-nya.

“Ada yang baru, Il?” tanya Nina sambil memperhatikan penampilanku sepanjang kami berjalan.

“Aku tahu, Nin,” jawabku misterius.

“Potong rambut, kan?” tebak Nina jitu.

Aku terkesiap. “Kok kamu bisa tahu?”

Lihat selengkapnya