First E: The Joublee

Rizasa Vitri
Chapter #5

BAB 4

Langkah kaki kami membawa kami sampai ke area parkiran yang mulai lengang. Aku dan Haqi segera bersiap untuk berboncengan, sementara Nina berjalan menuju motornya sendiri. Mataku sempat tertegun saat melihat motornya—masih sama kayak pas hari pertama dimana perasaan ‘wah’ timbul ketika mengetahui Nina bisa dan sekeren itu naik motor sejenis tersebut. Bukan motor matik, motor Nina adalah tipe motor bebek manual yang koplingnya harus dioper dengan kaki.

“Duluan ya, Il, Qi,” pamit Nina dari atas motornya, melambaikan tangan sebelum memacu kendaraannya.

Aku melambaikan tangan membalasnya. Namun begitu motor Nina menghilang, pikiranku kembali bercabang dan berputar hebat. Isi kepalaku mendadak penuh sesak memikirkan banyak hal sekaligus: tentang misteri hilangnya Kris, rencana jangka panjang GPS, sosok Gopur sebagai umpan, ambisi terselubung si Malaikat Penyelamat, dan... cowok tadi.

Kejadian beberapa menit lalu di depan pintu kelas benar-benar masih membekas. Cowok yang sengaja nggak mau kusebut nama aslinya itu berakhir mematung di koridor setelah aku berhasil menghindar dengan mulus berkat refleks kilatku.

Begitu dia melempar gombalan seolah habis lihat bidadari, radar protektif Haqi di belakangku sebenarnya sudah berada di ambang batas ledakan. Tapi sebelum Haqi melangkah maju dan meremukkan kotak susu cokelatnya ke muka cowok itu, aku sudah mengambil tindakan lebih dulu.

Belajar dari gaya Haqi kalau sedang meladeni lawan jenis, aku langsung memasang jurus andalannya: salaman ala Muslimah. Aku menegakkan tubuh, mengangkat kedua telapak tanganku di depan dada tanpa menyentuh juluran tangannya sama sekali, lalu melempar senyum paling formal dan dingin yang kupunya.

"Sorry," ucapku singkat, padat, dan kelewat cuek.

Tanpa menunggu respons dari wajah cowok itu yang langsung cengong, aku segera berbalik, menyabet lengan Nina dan Haqi, lalu melangkah lebar-lebar meninggalkan area koridor. Sukses membuat cowok itu mati kutu di tempat.

“Il, itu Claf,” ucap Haqi tiba-tiba, suaranya membuyarkan ingatanku tentang kejadian menyebalkan tadi.

Aku menoleh ke arah yang ditunjuk Haqi. Di dekat pagar, Clafia tampak sedang berjalan anggun menuju mobil jemputannya. Haqi nggak bohong. Cewek bule blasteran itu memang terlihat... sangat berbeda hari ini. Hijab yang membungkus kepalanya sama sekali tidak membuat Claf kehilangan aura "keren" atau gaya kasualnya yang khas sebagai anak olahraga. Malah, perpaduan wajah bulenya dengan hijab segi empat yang terpasang rapi itu membuatnya tampak jauh lebih berwibawa dan anggun dalam satu waktu.

Haqi memperlambat laju motornya saat kami berpapasan dengannya.

"Hai, Claf. Lo... wah, lo keren banget hari ini," pujiku tulus dari atas motor. Mataku tidak bisa bohong, aku benar-benar takjub melihat keberaniannya mengambil keputusan besar di sekolah baru.

“Hai, Ilma,” balas Claf ramah begitu netra kami bertemu. Suaranya yang agak serak khas bule itu terdengar sangat menyenangkan di telinga. Claf tertawa kecil, jemari lentiknya bergerak santai membetulkan letak hijabnya yang sudah sangat rapi. "Terima kasih, Il. Gue cuma ngerasa ini saat yang tepat untuk mulai. Lo juga, lengan panjangnya cocok buat lo!"

Aku hanya bisa tersenyum kecut, meraba ujung kain seragamku yang panjang. "Iya, pelan-pelan, Claf," balasku agak kikuk.

“Duluan, Claf,” pamit Haqi menyela. Mereka memang sudah saling kenal karena sesama anak basket.

Haqi langsung mempercepat laju motornya begitu Claf melambaikan tangan dan melangkah masuk ke dalam mobil jemputan. Angin sore kembali menerpa wajahku, membawa kami pulang membelah jalanan kota.

***

Sore itu berjalan cepat. Setelah mengantar dan menemaniku membeli helm baru, motor Haqi akhirnya berbelok dan berhenti di halaman rumahnya. Begitu turun dari motor, aku dan Haqi langsung masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah, kami berpapasan dengan Umi—ibunya Haqi—yang sedang merapikan ruang tamu.

"Assalamualaikum, Umi," sapaku ramah sambil mencium punggung tangannya takzim. Haqi melakukan hal yang sama di belakangku.

"Waalaikumsalam. Eh, Ilma. Habis dari mana sore-sore begini?" tanya Umi hangat dengan senyum keibuannya.

"Ini, Mi, habis nemenin Ilma beli helm baru dari uang tabungannya. Pamer dia katanya udah jadi pembalap sejati," sahut Haqi meledek.

"Ih, apa sih, Qi! Biarin dong!" balasku membela diri, membuat Umi tertawa kecil melihat tingkah kami. "Umi, Ilma numpang ke kamar Haqi bentar ya."

"Iya, jangan berantem terus kalian," pesan Umi menggeleng-gelengkan kepala.

"Makasih, Qi, udah anter beli helm!" seruku riang sambil mengangkat helm baruku tinggi-tinggi, lalu langsung ngacir mendahuluinya masuk ke dalam kamar Haqi yang bernuansa maskulin.

Yah, begitulah. Markas kami adalah kamar kami masing-masing. Tidak ada rumah pohon atau sejenisnya untuk tempat berkumpul The Jouble.

Begitu aku masuk ke kamarnya, pandanganku langsung tertuju pada sudut ruangan. Aku teringat kalau Haqi punya setumpuk barang pemberian penggemar dari sekolah-sekolah sebelumnya yang nggak pernah dia pakai. Biasanya, hadiah-hadiah itu cuma bakal berakhir menumpuk di pojok kamar atau disimpan di dalam lemari tanpa pernah disentuh lagi, sama seperti surat-surat yang sudah dibaca tapi tidak pernah dibalas olehnya.

Saat Haqi masuk dan meletakkan tasnya, aku langsung melirik papan kanvas mini berisi lukisan wajahnya yang tadi kami ambil dari kolong meja kelas.

"Siniin lukisannya kalau lo nggak mau. Mau gue pajang di kandang Big-E buat alas tidurnya," godaku sambil menjulurkan tangan, berniat merebut kanvas itu.

"Jangan!" potong Haqi cepat. Tangannya bergerak secepat kilat merebut kanvas itu dari jangkauanku. "Enak aja. Itu namanya penistaan terhadap wajah gue yang tampan!"

Aku melongo. Detik itu juga, rasa curiga langsung merayap di benakku. Haqi yang biasanya super cuek dan masa bodoh dengan barang pemberian fans, malah terlihat sangat protektif dan ingin menyimpan lukisan itu baik-baik. Ada kilat aneh yang tidak biasa di matanya kali ini.

"Engga, engga, gue bercanda. Siniin, mau gue taruh di kamar gue aja," ujarku memancingnya lagi.

"Nggak. Apalagi kalau ditaruh di kamar lo," tolak Haqi ketat.

Aku menyipitkan mata, melipat tangan di dada.

Ia meletakkan lukisannya, lalu mengambil lima buah surat dari tasnya yang ia terima dan ia temukan di loker sekolah tadi, melemparkannya ke kasur.

"Nih, mending bantuin gue," ucap Haqi mengedikkan dagu.

Aku mengernyitkan dahi sambil mengambil surat-surat itu. "Bantuin bukain gitu?"

"Bacain."

"Ah... nggak mau ah! Emang gue lagi baca teks UUD apa disuruh bacain ginian?" protesku malas.

"Ck. Bukan gitu. Udah, baca aja sesuka lo deh," desak Haqi lagi.

Aku langsung menegakkan posisi duduk, menatapnya tidak percaya. "Eh, beneran nih gue boleh baca?"

"Iya."

"Boleh? Lo nggak bakal..."

"Iya, udah ah, berisik!" potong Haqi cepat, menyembunyikan telinganya yang perlahan memerah.

Aku tersenyum puas. Dari kelima surat itu, jemariku langsung memilih satu surat yang paling menarik perhatian. Surat pertama berwarna ungu. Warna kesukaanku.

Saat aku mulai membuka dan membaca isinya satu per satu, rasanya benar-benar geli. Terkadang aku ingin tertawa sendiri membaca untaian kata puitis yang ditulis oleh anak-anak gadis SMANSA itu. Bagus dan niat juga mereka membuat surat seperti ini untuk Haqi. Setelah kami berdua selesai membaca kelima surat itu, Haqi mengambilnya kembali lalu memasukkannya ke dalam sebuah peti kayu kecil tempat dia menyimpan barang-barang pentingnya.

“Eh, tunggu! Gue juga mau baca yang waktu SMP!” tembakku cepat saat melihat dia hendak menutup peti.

“Enggak usah,” tolak Haqi mutlak.

Lihat selengkapnya