First E: The Joublee

Rizasa Vitri
Chapter #6

BAB 5

Keesokan paginya di SMANSA, atmosfer sekolah terasa sedikit lebih sejuk, tapi tidak dengan suasana hatiku. Kebetulan, aku sedang berjalan sendirian melewati koridor di dekat lapangan outdoor sekolah. Langkah kakiku mendadak melambat saat telingaku menangkap suara samar yang sangat tidak asing dari balik dinding pembatas. Itu suara si Nonem dan teman-teman satu gengster-nya. Rasa penasaran membuatku memutuskan untuk berhenti dan mendengarkan.

"Sialan! Dasar cewek sok alim!" umpat Nonem terdengar sangat kesal, diiringi suara hantaman keras pada tiang basket.

"Terima aja, Nem, lo kalah taruhan!" sahut salah satu temannya sambil tertawa mengejek, disusul oleh gelak tawa anggota geng yang lain. "Lagian lo pede banget sih bakal diterima sama anak IPS itu."

"Nggak! Nggak bisa gue biarin!" bentak Nonem lagi, suaranya meninggi penuh rasa frustrasi karena harga dirinya yang setinggi langit baru saja runtuh akibat penolakanku kemarin.

DEG.

Darahku mendadak berdesir panas sampai ke ubun-ubun. Rasa tidak nyaman yang sejak kemarin bersarang di dadaku kini berubah menjadi amarah yang meledak-ledak. Bukannya kabur seperti biasanya, batas kesabaranku sudah habis. Jiwa kapten softball-ku meronta. Saat itu juga, aku langsung melangkah lebar, memutari dinding, dan melabrak dia tepat di depan teman-temannya.

"Oh, jadi gue cuma jadi bahan taruhan lo?!" seruku lantang dengan tatapan menghunus tajam langsung ke manik matanya.

Suasanya mendadak hening seketika. Teman-teman Nonem yang tadi tertawa terbahak-bahak langsung bungkam dan melangkah mundur dengan wajah pucat. Nonem sendiri tersentak hebat, matanya membelalak kaget mendapati aku tiba-tiba muncul di hadapannya dan mendengar semua rahasia busuk mereka.

"Eh... Il? Ini... ini nggak seperti yang lo pikirin, Il!" bela Nonem terbata-bata, melangkah mendekat dengan kedua tangan terangkat, berusaha meredam kemarahanku. Wajah sangar ketua gengster-nya mendadak hilang, digantikan kepanikan total.

"Gak usah pegang-pegang! Jauh-jauh dari gue!" sentakku kasar saat dia mencoba meraih pergelangan tanganku.

Aku menepis tangannya dengan kuat, memberikan tatapan paling menjijikkan yang pernah kupunya untuk cowok itu. Tanpa menunggu dia memberikan alasan atau kebohongan baru, aku langsung membalikkan badan dan pergi dari sana secepat mungkin. Aku tidak sudi berlama-lama menghirup udara yang sama dengan pengecut seperti dia.

Saat aku melangkah menjauh meninggalkan area lapangan outdoor, aku bisa mendengar suara Nonem yang mulai ngamuk-ngamuk di belakangku. Dia berteriak frustrasi, menendang apa saja yang ada di dekatnya, dan menyumpah-nyumpahi teman-temannya. Tapi aku tidak peduli lagi. Fokusku sekarang adalah kembali ke kelas, menemui Haqi dan Nina, karena genderang perang yang sebenarnya baru saja ditabuh.

***

Suasana kantin SMANSA pas jam istirahat kali ini lagi ramai-ramainya, penuh dengan denting sendok dan obrolan anak-anak. Tapi begitu aku, Haqi, dan Nina akan duduk, atmosfer di meja kami mendadak berubah tegang. Si Nonem tiba-tiba datang lagi dengan wajah yang ditekuk-tekuk, berusaha keras membujukku dan memperbaiki harga dirinya yang terlanjur lecet di lapangan outdoor tadi.

"Il, tunggu dulu. Soal yang di lapangan tadi, gue beneran cuma bercanda sama anak-anak. Jangan diambil hati dong, Il—"

SRET!

Kalimat pembelaan dirinya langsung tersangkut di tenggorokan. Batas kesabaranku yang sudah setipis tisu resmi robek detik itu juga. Tanpa babibu, kedua tanganku bergerak secepat kilat maju ke depan, langsung mencengkeram kuat kerah seragam putihnya sampai tubuh cowok itu tertarik maju dan agak membungkuk di hadapanku.

Napasku memburu akibat emosi yang sudah di ubun-ubun. Mataku melotot tajam, menghunus langsung ke manik matanya yang mendadak dipenuhi rasa syok. Kantin yang tadinya bising mendadak senyap seketika. Semua pasang mata langsung tertuju ke meja kami, menyaksikan ketua gengster sekolah yang ditakuti itu mendadak mati kutu di tanganku.

"Lo denger ya, bajingan pengecut!" desisku dengan suara rendah tapi sarat akan ancaman, langsung menumpahkan segala sumpah serapah yang sudah kutahan sejak di lapangan. "Jangan pernah lo berani-berani sebut nama gue lagi pake mulut kotor lo itu! Gue bukan barang rongsokan yang bisa lo jadiin bahan taruhan sama temen-temen lo yang sama-sama gak punya otak! Sekali lagi lo muncul di depan muka gue atau berani macam-macam, gue pastiin hidup lo di SMANSA bakal jadi neraka!"

Aku menyentakkan kerah bajunya dengan kasar hingga tubuhnya terdorong ke belakang, lalu berbalik dan langsung pergi meninggalkan area kantin tanpa sudi melihat wajahnya lagi.

Haqi dan Nina yang sedari tadi duduk tenang di bangku kantin hanya diam menonton aksiku dari awal sampai akhir. Mereka sengaja tidak melerai, membiarkan kapten softball ini menyelesaikan urusannya sendiri. Begitu aku melangkah pergi menjauh, Haqi perlahan bangkit dari duduknya. Dia menepuk pundak Nina sekilas, mengisyaratkan bahwa bagianku sudah selesai, dan sekarang adalah waktunya eksekusi lanjutan.

Haqi berjalan santai mendekati Nonem yang masih syok sambil merapikan seragamnya di tengah kepungan tatapan anak-anak kantin.

"Nem," panggil Haqi dingin.

Begitu Nonem menoleh, tidak ada peringatan, tidak ada adu mulut terlebih dahulu.

BUGH!

Satu pukulan mentah dari kepalan tangan Haqi mendarat telak dan keras tepat di perut Nonem. Pukulan itu begitu bertenaga hingga membuat tubuh si ketua gengster langsung tertekuk dua, memegangi perutnya yang mendadak kram luar biasa sambil terbatuk-batuk di lantai kantin. Haqi hanya menatapnya dari atas dengan pandangan super dingin, lalu melangkah lebar menyusulku dan Nina yang sudah menunggunya di koridor luar.

***

Sejak insiden baku hantam di kantin hari itu, tidak ada lagi riak-riak dari si Nonem. Gombalan-gombalan murahannya lenyap tak bersisa, dan hari-hari kami di SMANSA akhirnya berjalan normal kembali. Jadwal latihan perdana softball, basket, hingga kegiatan GPS (Gerakan Peduli Sampah) sudah resmi dimulai, sukses membuat hari-hari kami berubah jadi super sibuk dan menguras tenaga.

Haqi sendiri masih kekeuh dengan keputusannya untuk tidak ikut bergabung ke dalam klub lingkungan tersebut. Dia membiarkan aku dan Nina berjuang berdua sebagai anggota GPS.

“Lagian, jagain lo di gunung gak harus jadi anggota resmi GPS,” kata Haqi santai, sebuah kalimat yang sukses membuatku memutar bola mata.

Dan kalian tahu? Ingat tidak soal rencana Nina tempo hari yang mau menjadikan Gopur sebagai umpan?

Mengikuti saran taktis dari Nina, aku pun mulai mencoba mendekati bakal calon Pak Presiden GPS itu. Tapi catat ya, pendekatanku ini sama sekali bukan secara genit atau romantis! Tujuanku yang sebenarnya sangat simpel dan realistis: kalau aku bisa akrab sama pemimpinnya, segala urusan dan kegiatan di GPS harusnya bakal jadi jauh lebih ringan buat kedepannya, bukan?

Aku mengakrabkan diri ke Gopur dengan cara yang biasa dan kasual kok. Lagipula, ini memang bagian dari misi rahasia dari Nina juga untuk memastikan teori analisis psikologi gadungannya tentang istilah "introvert setengah-setengah" atau "introvert siluman" itu yang dia sematkan pada karakter Gopur.

Aku mengira Haqi bakal mengeluarkan radar protektifnya lagi, atau minimal merasa cemburu dan melarangku dekat-dekat dengan cowok asing berkharisma kuat itu. Tapi tebakan kami salah besar!

Bukannya cemburu, Haqi justru langsung akrab dengan Gopur sekali ketemu di rumah kaca hidroponik saat mengantarku dan Nina. Tanpa ada ketegangan sama sekali, Haqi malah menepuk pundak Gopur dengan santai dan berkata, “Gue titip Ilma!”

Aku dan Nina yang melihat pemandangan itu dari kejauhan langsung melongo berjamaah. Strategi umpan cemburu yang disusun Nina runtuh seketika dalam satu kali jabat tangan antar-cowok.

***

“Aku nggak habis pikir, Nin, sama Haqi. Kayaknya beneran dia gak mau gabung deh. Ya udah ya, kita berdua aja di GPS,” kataku sambil menyapu pandangan ke sekeliling area sekolah.

Hari ini adalah jadwal perdana ekskul GPS. Suasananya santai tapi tetap seru. Sesuai dengan ciri khas anak-anak pencinta lingkungan yang apa adanya, kami semua duduk bebas beralaskan rumput hijau di lapangan tengah—tanpa tikar, tanpa alas apa pun. Di sana, kami mendengarkan pengenalan dari kakak kelas pengurus inti serta guru pembimbing GPS.

Setelah sesi perkenalan selesai, kami langsung dikerahkan untuk melakukan aksi nyata pertama: memutari lingkungan SMANSA untuk memunguti sampah yang berserakan. Dengan berbekal kantong besar, aku dan Nina sibuk memilah area koridor dan taman.

Begitu kembali ke lapangan rumput tengah, semua sampah yang terkumpul mulai dipisah-pisahkan secara berkelompok. Botol plastik dibedakan dengan tumpukan daun kering.

"Yang daun kering langsung dibawa ke Pukosa (Pusat Kompos SMANSA) ya!" seru salah satu kakel memberi komando. "Nah, kalau yang botol-botol plastik, sebagian bawa ke Lab Kerajinan dan sisanya langsung setor ke BASASA (Bank Sampah SMANSA)!"

Di sela-sela kesibukan memilah botol itulah, aku sempat terlibat percakapan kasual dengan Gopur. Kami membahas agenda orientasi lapangan GPS ke gunung nanti. Di saat yang sama, aku juga curi-curi pandang mencari keberadaan sang Malaikat Penyelamat (MP), mencoba membaca situasi di klub baru ini.

Pendekatanku ke Gopur murni biasa saja, tapi ternyata radar cemburu justru datang dari arah yang sama sekali tidak terduga. Bukan dari Haqi, melainkan dari seorang siswi anggota baru yang sejak tadi memperhatikanku dengan tatapan super sinis. Setiap kali aku atau Nina mengajak Gopur mengobrol, cewek itu bakal langsung memasang wajah sensi dan sengaja memotong pembicaraan.

Hingga di satu momen saat Gopur sedang bergeser ke kelompok lain, cewek genit itu sengaja berjalan melewatiku dan Nina sambil mendengus kencang.

"Nggak usah sok akrab deh," sindirnya dengan nada ketus yang sengaja dibuat-buat. "Asal kalian tahu aja, gue ini bakal calon bendahara plus sekretaris pribadinya Gopur di kepengurusan nanti. Jadi gak usah kecentilan."

Aku dan Nina saling berpandangan selama beberapa detik, lalu kompak menahan tawa. Wah, belum apa-apa di GPS, kami sudah kedatangan masalah baru berupa musuh fiktif yang cemburu buta.

Saat sesi akhir sebelum ekskul resmi selesai hari itu, semua anggota GPS kembali dikumpulkan di lapangan rumput tengah. Suasana riuh mendadak hening saat salah satu senior pengurus inti melangkah ke depan dan menunjuk MP serta Gopur untuk maju berdampingan.

"Teman-teman, kenalin, mereka berdua ini adalah kandidat kuat yang akan jadi calon presiden GPS. Di Pilpres GPS nanti, silakan kalian pilih salah satu dari mereka. Yang suara terbanyak jadi presiden, dan yang tidak terpilih otomatis akan jadi wakilnya," umum senior itu lantang.

Lalu, senior itu beralih menatap lembar catatan di tangannya dan memanggil namaku. "Untuk posisi pengurus inti lainnya, Akleema akan jadi bendahara sekaligus sekretaris."

Mendengar namaku disebut, jantungku sempat mencelos. Namun sebelum aku sempat merespons, Gopur mengangkat tangan, interupsi dengan tenang. Dia meminta agar cewek genit yang sensi denganku tadi saja yang mengisi posisi tersebut. Alhasil, aku tidak jadi dipilih untuk jabatan itu, dan cewek itu resmi menjadi kandidat bendahara dan sekretaris mendampingi Gopur. Sejak saat itu, aku dan Nina sepakat menjuluki cewek itu sebagai Bu Ben (Bu Bendahara), sementara Gopur tetap kami panggil Pak Pres.

Sikap Bu Ben ini sebenarnya agak membingungkan bagi kami. Kadang-kadang, dia bisa bersikap sangat baik, berwibawa, dan profesional padaku juga Nina. Di momen-momen itu, aku bahkan bisa melihat ketulusan yang nyata di matanya—dan tampaknya, aura profesional itulah yang bikin Gopur percaya dan mantap memilih dia jadi Bu Ben-nya. Tapi di hari lain, dia sering banget bikin aku dan Nina sebal setengah mati karena sikapnya yang kelewat protektif dan genit ke Gopur. Padahal Gopur sendiri bersikap biasa saja, cuek, dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda romantis ke Bu Ben. Ini murni karena sikap profesional calon Pak Pres yang pandai membaca potensi dan tahu siapa yang paling cocok memegang urusan administrasi klub.

Sebagai gantinya, Gopur justru memilihku untuk masuk ke Divisi Pecinta Alam, divisi krusial yang nantinya bakal mengurus agenda ke gunung dan kegiatan luar SMANSA. Sebenarnya aku sempat bingung, karena di lubuk hatiku yang paling dalam, aku juga tertarik dan ingin masuk ke Divisi Rumah Hidroponik yang tampaknya lebih adem.

Di akhir sesi, saat anak-anak lain mulai bubar, Gopur dan MP menyempatkan diri menghampiri aku dan Nina di tepi lapangan. Di sanalah Gopur membagikan cerita flashback dari sudut pandangnya yang cukup mengejutkan kami. Ternyata, agenda naik gunung yang sempat bikin heboh itu awalnya memang ada campur tangan dari ide besar Gopur sendiri, bahkan sejak sebelum dia resmi masuk ke GPS.

Gopur bercerita kalau dia sudah tahu sejak awal bahwa SMANSA adalah sekolah Adiwiyata. Begitu menginjakkan kaki di SMANSA, dia langsung gencar mencari info tentang GPS karena berniat menyarankan agenda muncak naik gunung tersebut.

"Jadi waktu itu, sebelum demo ekskul dimulai, gue nggak sengaja lewat dan mendengar guru pembimbing lagi diskusi serius sama kakel pengurus inti," cerita Gopur dengan gaya bicaranya yang tenang namun tegas. "Mereka lagi bingung membahas materi demo untuk minggu depan, 'Gimana caranya biar bisa menarik minat siswa baru?' Nah, pas banget guru pembimbingnya tiba-tiba usul, 'Gimana kalau kita kasih agenda keluar seperti naik gunung?'"

Mendengar ide guru pembimbing yang klop banget dengan niat awalnya, Gopur tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia langsung mengetuk pintu, meminta izin masuk, dan ikut nimbrung dalam diskusi internal tersebut. Tidak tanggung-tanggung, di dalam ruang rapat itu Gopur langsung memberikan saran taktis agar GPS melakukan kolaborasi dengan pasukan keamanan SMANSA, alias PEKASA.

Itulah alasan kenapa Gopur juga langsung menyeret MP—teman dekatnya sejak zaman SMP—untuk ikut andil, karena MP sendiri memang berniat untuk bergabung menjadi anggota PEKASA SMANSA.

Mendengar penjelasan panjang lebar dari calon Pak Pres itu, aku dan Nina cuma bisa mangut-mangut takjub. Di sebelahku, Nina langsung sibuk mencatat detail ini di kepalanya, mungkin sedang memperbarui folder analisis psikologi miliknya.

***

"Aku salah, Il. Ternyata Gopur Introvert Hati Batu," kata Nina tiba-tiba saat kami sedang berjalan beriringan ke arah lapangan basket indoor.

Aku menoleh, mengernyitkan dahi heran. "Maksud kamu?"

"Iya, selama kegiatan GPS tadi, cara Gopur memperlakukan teman-temannya—terutama ke cewek-cewek—itu menunjukkan kalau dia tipe introvert hati batu," jelas Nina serius, membetulkan letak kacamatanya. "Jujur, awalnya aku pikir Gopur itu emang beneran setengah-setengah, mirip kayak Bu Ben yang setengah-setengah kelakuannya; kadang baik, kadang jahat. Kalau Gopur awalnya kelihatan kadang peduli, kadang nggak mau diganggu."

Lihat selengkapnya