First E: The Joublee

Rizasa Vitri
Chapter #7

BAB 6

Sejak pertemuanku dengan trio OSIS di taman siang itu, selama beberapa hari ke depan hidupku benar-benar tidak pernah tenang. Bayangan Kris dengan potongan rambut barunya, Sahna, dan Clafia yang membawa berkas Pilpres seolah terus berputar-putar di kepalaku, memicu ratusan pertanyaan yang tidak punya jawaban.

Pagi ini, ketenanganku kembali diuji. Haqi sudah sehat walafiat, kakinya tidak lagi dibalut perban elastis dan jalannya sudah normal. Sesuai kesepakatan purba kami, kalau dia sehat, dia yang di depan memegang kemudi dan aku duduk manis di boncengan.

Motor Haqi bergerak pelan memasuki gerbang SMANSA yang mulai ramai. Namun, sialnya, roda motor kami berputar berbarengan di sisi sebuah sepeda ontel butut yang dikayuh dengan santai. Begitu aku melirik siapa pemiliknya, jantungku langsung berdegup dua kali lebih cepat. Kris. Cowok itu mengayuh sepedanya dengan tenang, pembawaannya sangat kontras dengan potongan rambut barunya yang rapi.

Panik melanda seketika. Tanpa sadar, kedua tanganku langsung mencengkeram kuat-kuat kain baju seragam Haqi di bagian pinggang, membuat Haqi sempat tersentak heran di depan. Aku melempar pandanganku lurus-lurus ke depan, menatap punggung Haqi dengan kaku. Aku benar-benar mengunci leherku, menolak keras untuk melirik ke arah Kris sedikit pun, sengaja menahan napas dan berpura-pura seolah dia hanyalah hembusan angin lalu yang tidak sengaja lewat di samping motor kami.

Drama pagi hari belum usai sampai di situ. Begitu bel berbunyi, seluruh siswa SMANSA langsung berhamburan menuju lapangan untuk melaksanakan upacara bendera. Di tengah keriuhan itu, sialnya anak-anak kelasku malah kompak menyuruhku untuk berdiri di barisan paling depan.

Mau tidak mau, aku melangkah ke depan. Penampilanku hari ini sebenarnya sangat rapi; dasi terpasang lurus, topi bertengger pas, kaos kaki putih bersih, dan semua atribut upacara lengkap melekat di tubuhku. Aku juga tidak terlambat, sebuah keajaiban yang membuatku terkesan seperti siswi teladan atau 'seleb' dadakan di mata teman-teman sekelas. Bagiku yang tidak pernah takut pada terik matahari dan punya ketahanan fisik yang kebal dari kata pingsan, berdiri di barisan paling depan harusnya menjadi hal yang santai dan biasa saja. Tapi begitu mendengar pemimpin upacara dipanggil, kenyataannya justru berbalik menjadi bencana emosional.

Ternyata Kris yang menjadi pemimpin upacara!

Dan yang membuat situasi ini seribu kali lebih sial adalah posisi kelasku yang tepat berada di bagian tengah lapangan. Alhasil, setiap kali pemimpin upacara memberikan komando, berbalik arah setelah amanat kepala sekolah, atau memimpin sikap istirahat di tempat, posisinya otomatis berdiri tepat di depanku. Pandanganku dan pandangannya hanya terpisah oleh jarak beberapa meter lapangan rumput.

Saat sesi amanat kepala sekolah dimulai, suasana mendadak formal. Kepala sekolah memanggil nama Kris lewat pengeras suara, menyuruhnya maju beberapa langkah untuk mendekat ke podium. Di hadapan seluruh pasukan upacara, Kris resmi dilantik menjadi pemimpin upacara utama SMANSA oleh kepala sekolah sendiri.

Sejak detik itu, dia langsung dicap sebagai pemimpin upacara kesayangan kepala sekolah. Setelah prosesi pelantikan singkat itu, kepala sekolah tampak menyalaminya dengan bangga dan menyelipkan sesuatu—yang tampaknya seperti amplop—ke telapak tangannya. Kris menerimanya dengan anggun, berdiri tegap dengan kharisma yang mendadak membuat seisi lapangan berbisik kagum.

Tapi drama yang sebenarnya baru dimulai setelah pembubaran upacara. Saat jam istirahat, aku berjalan menyusuri koridor sekolah yang cukup padat. Tepat di sebuah tikungan koridor yang agak sempit, aku dan Kris berpapasan jalan.

Jarak kami begitu dekat. Saat langkah kaki kami sejajar, dia melirikku sekilas. Tatapannya sangat dingin, datar, dan cuek bebek—seolah-olah aku ini hanya seonggok dinding pembatas koridor yang kebetulan berpapasan dengannya.

Aku terpaku di tempat setelah dia melewati langkahku. Hatiku mendadak disergap rasa dongkol bercampur bingung. Otakku langsung memutar ulang memori lama. Waktu mengantre kain seragam, dia terus-menerus melihatiku tanpa putus. Pandangannya saat itu terasa begitu intens. Tapi sekarang apa? Kenapa dia mendadak bersikap seolah-olah tidak pernah mengenalku sama sekali? Dia kenapa? Dia memang sesombong itu? Atau hei, dia marah besar karena aku memutuskan untuk keluar dari OSIS?

***

Sejak hari pelantikan itu, sosok Kris mendadak jadi jauh lebih sering berseliweran di radar kehidupanku. Anehnya, semakin sering aku melihatnya di berbagai sudut SMANSA, semakin aku dibuat bingung oleh kepribadiannya yang penuh kontras dan teka-teki.

Suatu hari di lorong dekat mading sekolah, aku tidak sengaja melihat Kris sedang dipanggil oleh beberapa kakak kelas pengurus inti OSIS yang lama. Di sana, pemandangan yang tersaji membuatku mengernyitkan dahi. Wibawa tinggi yang pernah kulihat melekat pada dirinya—saat dia disegani oleh para senior waktu pelantikan pemimpin upacara—mendadak lenyap tak bersisa. Di depan kakel-kakel itu, Kris malah terlihat pasrah dan penurut layaknya 'kucing suruhan' atau boneka yang bisa disetir ke sana kemari tanpa perlawanan.

Namun, di situasi lain, kontradiksi cowok itu kembali memukul logikaku. Begitu lepas dari urusan senior, Kris bisa langsung berubah total menjadi sosok yang sangat berwibawa, pandai bicara, sekaligus sombong di depan murid-murid lain. Pengikutnya banyak, dan dia dikelilingi oleh lingkaran sahabat cewek yang cukup solid. Memang yang paling menempel ketat dengannya adalah Sahna dan Clafia, tapi teman-teman cewek dari kelas lain pun tidak kalah banyak yang suka berkerumun di sekitarnya.

"Qi, Kris itu menyebalkan banget tahu nggak?!" aduku pada Haqi suatu siang saat kami sedang berjalan menuju kantin. "Gue bingung sama dia. Kadang kayak kucing penurut di depan kakel, tapi kalau sama yang lain sombongnya minta ampun. Sok berwibawa banget!"

Haqi yang berjalan di sebelahku hanya terkekeh pelan sembari menepuk bahuku. "Udahlah, Il. Nggak usah terlalu dipikirin. Lagian ngapain sih lo merhatiin dia sampai segitunya? Nanti naksir baru tahu rasa."

"Dih, amit-amit!" sergahku cepat, langsung membuang muka dengan jengkel.

Bukan cuma soal sikapnya yang kontradiktif, aku bahkan sempat menyusun teori sendiri tentang latar belakang Kris di dalam kepalaku. Berdasarkan pengamatanku selama beberapa minggu ini, aku menyimpulkan sebuah bukti mutlak kalau Kris itu memang beragama Kristen. Keyakinanku ini didasari oleh fakta kalau aku sama sekali belum pernah melihat Kris melangkahkan kakinya ke masjid SMANSA saat jam salat Zuhur tiba. Padahal, kalau mengintip dokumen data sekolah, namanya cuma tertulis ringkas: Kris. Hanya satu kata itu, tanpa ada embel-embel nama baptis ataupun nama keluarga di belakangnya.

Siang harinya di kantin, aku terpaksa duduk dan makan sendirian karena Haqi dan Nina sedang ada urusan mendesak mereka masing-masing. Sambil menikmati semangkuk soto ayam hangat yang baru kubeli, mataku tidak sengaja menangkap pergerakan trio circle OSIS yang mengambil tempat duduk berjarak dua meja tepat di depanku. Kris duduk berhadapan dengan Sahna dan Clafia.

Dari tempatku duduk, aku bisa melihat Kris sedang sibuk menambahkan sambal ke mangkok makanannya. Entah karena kurang fokus atau tangannya tersenggol, botol sambal di pegangannya mendadak miring ekstrem.

Pluk!

Tumpahan sambal cair dalam jumlah masif langsung meluncur bebas, membanjiri permukaan mangkok milik Kris hingga kuahnya berubah warna menjadi merah pekat yang mengerikan. Dari jarak dua meja, aku bisa melihat mata Kris membelalak kaget menatap makanannya yang sudah berubah jadi lautan cabai.

Aku yang menyaksikan insiden botol tumpah itu secara live langsung menyunggingkan senyum puas di sudut bibir. "Syukurin! Rasain lo kepedasan!" bisikku pelan dengan nada penuh kemenangan dari balik mangkok sotoku sendiri, merasa semesta sedang berpihak padaku untuk membalas tatapan dingin nan angkuh yang dia berikan di koridor kemarin.

Ketegangan di antara kami mencapai puncaknya saat bel pulang sekolah berbunyi. Kebetulan hari ini jadwal latihanku dan jadwal latihan basket Haqi sedang berbeda. Karena perbedaan waktu pulang itu, kami akhirnya memutuskan untuk membawa motor sendiri-sendiri sejak pagi hari agar tidak saling tunggu.

Saat aku menuntun motorku keluar dari area parkiran SMANSA yang padat, aku mengambil haluan untuk keluar melalui jalur sebelah kiri. Namun baru saja aku memutar gas perlahan, dari arah berlawanan, sepeda ontel milik Kris melaju. Dia sedang membonceng Sahna di belakangnya, dan anehnya, mereka malah nekat mengambil jalur keluar yang sebelah kanan—alias memotong jalur jalanku secara lurus.

Jarak kami mengikis cepat. Alih-alih mengalah, ego kekanak-kanakanku mendadak bangkit. Aku sengaja tidak menghindar sedikit pun dan tetap mempertahankan posisi motorku di jalur yang benar.

"Awas nabrak!!!" teriakku lantang, sengaja menggertak.

Kris yang menyadari motorku tidak bergeser langsung memasang ekspresi terkejut. Dengan refleks yang cukup cepat, dia langsung menarik tuas rem sepedanya kuat-kuat hingga bannya berdecit di atas aspal parkiran, membelokkan setang ke kanan demi menghindari benturan langsung dengan motorku. Sepeda itu berhenti mendadak, membuat Sahna di belakangnya sempat terpekik kaget karena guncangan.

"Syukurin!!" seruku kencang dari balik helm, sengaja memamerkan wajah penuh kemenangan sebelum langsung menarik gas dalam-dalam, melesat pergi meninggalkan mereka berdua yang masih terpaku di jalur parkiran.

Sepanjang jalan pulang, barulah rasa cemas mulai merayap pelan di dadaku. Aku mendadak kepikiran dengan aksi nekatku tadi. Duh, semoga besok gue nggak dilabrak sama dia di kelas, batinku agak waswas. Tapi sedetik kemudian aku mencoba membela diri, Ah, lagian salah dia sendiri kenapa ambil jalur orang!

Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah dengan mental yang sudah disiap-siapkan untuk berdebat kalau-kalau Kris mendatangi mejaku dengan emosi meluap. Namun, untungnya, kekhawatiranku sama sekali tidak terbukti. Tidak ada aksi labrak-labrakan, tidak ada sindiran, dan tidak ada drama lanjutan dari Kris maupun Sahna. Cowok misterius itu tetap kembali ke mode awalnya: bersikap cuek bebek dan berpura-pura seolah insiden hampir tabrakan di parkiran kemarin sore tidak pernah terjadi di antara kami.

***

Untuk mengalihkan seluruh stres dan kekesalanku gara-gara tatapan dingin Kris di koridor, insiden soto, hingga drama parkiran kemarin, aku memutuskan untuk melampiaskan energiku ke hal lain. Pas sesi kumpul klub GPS minggu ini, aku yang sedang senggang mendadak iseng coret-coret kertas, menyusun bait demi bait lirik untuk dijadikan mars atau lagu resmi GPS. Setelah drafnya jadi dan dirasa lumayan keren, aku memberanikan diri maju dan mengajukannya langsung kepada Gopur.

Gopur menerima kertas itu, membacanya lurus-lurus dengan ekspresi wajahnya yang selalu datar. Tapi di luar dugaan, dia mengangguk pelan. "Bagus, Il. Kreatif. Nanti coba kita diskusikan sama pengurus lain buat instrumennya."

Namun, kebahagiaan kecilku itu langsung dirusak oleh kehadiran Bu Ben yang mendadak muncul di sebelah Gopur. Perempuan itu melirik draf lagu buatanku dengan tatapan meremehkan, lalu mengabaikannya begitu saja. Hari itu, Bu Ben benar-benar sedang berada dalam mode menyebalkan. Dia bersikap seolah-olah aku dan Nina itu tidak ada di ruangan, menganggap kami tak kasat mata, dan sama sekali tidak menghargai kontribusi kami.

Sikap tidak adil Bu Ben semakin merajalela dalam beberapa pertemuan berikutnya. Perlu dicatat, selama sebulan ini, Bu Ben sudah beberapa kali izin tidak ikut kegiatan GPS dengan berbagai alasan pribadi, dan kami semua memakluminya karena dia pengurus inti. Eh, giliran kemarin saat aku dan Nina baru sekali mengajukan izin karena ada urusan yang mendesak, Bu Ben langsung menyemprot kami di depan anak-anak lain dengan nada sinis.

"Izin-izin mulu! Baru juga masuk jadi anggota, udah malas!" sindir Bu Ben tajam sambil melipat tangan di dada.

Darahku langsung mendidih mendengarnya. Aku tidak tahan untuk tidak menyahut, "Woi! Gue baru sekali ini izin, ya! Lagian situ yang berkali-kali izin kenapa nggak ngaca dulu?!"

Aneh memang kelakuan Bu Ben ini. Di satu hari, dia bisa bersikap sangat berwibawa, bijak, dan profesional sampai membuatku segan dan menaruh rasa hormat yang tinggi padanya. Tapi di hari lain, dia bisa menjelma jadi orang yang kekanak-kanakan dan sama sekali tidak menghormatiku sebagai sesama anggota klub.

Akhirnya, daripada capek hati memikirkan standar ganda Bu Ben, aku memilih masa bodoh. Dah lah, gak usah dipikirin! batinku. Aku memilih untuk fokus saja pada agendaku di Divisi Pecinta Alam (PA). Lagipula, walaupun aku bukan anggota resmi Divisi Rumah Hidroponik, aku merasa punya akses bebas untuk sering-sering main dan membantu di area hidroponik. Yaiyalah, SMANSA kan sekolah Adiwiyata, jadi urusan merawat tanaman hijau itu sudah jadi tanggung jawab bersama seluruh anggota GPS tanpa harus mengotak-ngotakkan sekat divisi!

Sore itu, saat aku dan Nina sedang asyik mengecek saluran nutrisi tanaman hidroponik di taman belakang, Nina mendadak mendekatkan wajahnya ke telingaku dengan ekspresi super serius.

"Il, aku punya sebuah fakta baru yang mencengangkan," bisik Nina misterius, membetulkan letak kacamatanya.

"Fakta apa? Soal siluman lagi?" tanyaku santai sambil mencabut rumput liar.

"Iya, ini soal Gopur. Kamu ingat kan analisisku tempo hari kalau otaknya konslet gara-gara trauma menghadapi cewek emansipasi yang menolak bantuannya?"

Aku mengangguk. "Iya, terus?"

"Aku udah selidiki lewat beberapa info anak kelas sebelah. Ternyata, sumber trauma yang bikin Gopur sempat berubah haluan jadi introvert hati batu itu... adalah Bu Ben itu sendiri!"

"Hah?! Serius?!" pekikku tertahan, hampir saja menjatuhkan botol nutrisi tanaman.

"Iya! Mereka satu SMP. Bu Ben itu tipe cewek yang idealis banget soal kemandirian gender. Gopur pernah mencoba bantu dia di suatu momen, tapi malah disemprot habis-habisan. Makanya sekarang Gopur kalau mau bantu cewek jadi ragu-ragu setengah mati karena takut menghadapi reaksi yang sama. Tapi anehnya, karena Gopur profesional dan tahu Bu Ben punya kapabilitas administrasi yang bagus, dia tetap merekrut Bu Ben jadi bendaharanya. Hubungan mereka itu rumit banget, Il!"

Aku cuma bisa melongo mendengar analisis mendalam dari Nina. Pantas saja atmosfer di antara Pak Pres dan Bu Ben itu selalu terasa canggung tapi saling mengikat!

Di tengah-tengah kesibukan kami mengurus tanaman hidroponik sore itu, tiba-tiba sosok Clafia muncul berjalan memasuki area kegiatan GPS. Penampilannya rapi dengan seragam OSIS lengkap. Dia tampak berpura-pura sedang menjalankan tugas resmi, tangannya memegang papan jalan berisi kertas evaluasi.

Clafia rupanya sedang mencuri-curi kesempatan untuk mengunjungi aku dan Nina yang lagi berkegiatan. Alasan formal yang dia bawa ke sini adalah sebagai perwakilan pengurus OSIS yang bertugas memantau perkembangan kegiatan ekskul dan klub di SMANSA. Tapi ya... kami nggak bisa dibohongi, aku dan Nina langsung tahu motif asli di balik lirikan matanya yang tidak bisa diam. Dia itu sebenarnya cuma penasaran dan ingin melihat Gopur!

"Gimana perkembangan draf proposal naik gunung kalian? Udah diajukan ke ruang OSIS?" tanya Clafia basa-basi, padahal matanya terus mencuri pandang ke arah meja posko utama tempat Gopur sedang duduk membaca berkas.

Aku menyenggol lengan Clafia sambil menyeringai jahil. "Aman, Bu Pres Basket. Proposalnya lagi ditinjau sama Pak Pres GPS tuh di sana. Samperin gih."

Wajah Clafia langsung memerah merona, tapi dia mencoba tetap bersikap jaim di depan anggota GPS yang lain.

Namun, momen yang terjadi berikutnya justru membuat kami bertiga—aku, Nina, dan Clafia—terpaku di tempat.

Gopur yang menyadari kehadiran tim pemantau OSIS perlahan bangkit dari kursinya. Dia berjalan tegap melangkah ke arah kami. Clafia di sebelahku sudah menahan napas, bersiap untuk memberikan senyuman terbaiknya menyambut sang kandidat presiden GPS.

Lihat selengkapnya