First E: The Joublee

Rizasa Vitri
Chapter #8

BAB 7

Seminggu kemudian, ketegangan yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Acara puncak orasi dan debat terbuka Capres SMANSA digelar secara megah di lapangan tengah utama yang berumput hijau, dihadiri oleh seluruh warga SMA Negeri 1 Roden yang bersorak riuh rendah memadati sekeliling pembatas lapangan.

Mikrofon podium bergaung keras, membelah riuhnya atmosfer sore itu. Paslon Nomor Urut 1 maju lebih dulu dengan gaya yang sangat formal dan terstruktur. Visi misi rapi di balik lembar pidato yang mereka pegang adalah hasil godokan murni dari otak Kris—si cowok berkharisma yang bertindak sebagai kingmaker di belakang layar.

Kubu Nomor Urut 1 memamerkan dua program kerja unggulan mereka yang langsung memicu kasak-kusuk kagum dari barisan penonton:

  1. SMANSA HUB: Sebuah platform pusat konsultasi masa depan agar para siswa tidak salah memilih jalur karier. Fasilitas utamanya adalah Les Pro, program yang mendatangkan pengajar profesional, praktisi, dan expert dari luar untuk mengadakan workshop gratis di sekolah. "Biar kita semua siap masuk kampus elit!" seru sang capres nomor urut 1, disambut tepuk tangan riuh.
  2. SMANSA ONE: Pembaruan kartu pelajar lama menjadi E-Kartu Pelajar canggih yang memiliki banyak fungsi sistemik. Salah satu fitur rahasianya adalah mampu mendeteksi data siswa yang kurang mampu secara sistematis tanpa diketahui oleh siapa pun agar tidak ada yang merasa malu, sehingga bantuan beasiswa SPP bisa disalurkan secara otomatis dan tepat sasaran.

Di akhir kalimatnya, jargon rancangan Kris menggema mantap dari pengeras suara: "SMANSA ONE: Satu Kartu, Sejuta Masa Depan.” Sang capres tersenyum miring sebelum menambahkan detail pemikat terakhir, “Bagian belakang kartu bisa di-custom dengan gambar sesuka hati kalian. Satu Sistem, Seribu Wajah!"

Melihat pemandangan itu dari tengah lapangan, rahangku rasanya hampir jatuh. Kecurigaan kami beberapa hari lalu terbukti hari ini. Semua fasilitas canggih dan kemudahan mencetak kartu custom bergambar Big-E yang ditawarkan kepadaku di ruang Astronomi kemarin beneran taktik licik. Itu adalah bagian dari kampanye besar dan uji coba proker SMANSA ONE milik Paslon Nomor Urut 1—sebuah jebakan Batman visual yang dirancang apik oleh otak jenius Kris untuk menggaet suara massa akar rumput seperti aku.

Selanjutnya, giliran MP, Paslon Nomor Urut 2, yang naik ke panggung. Senyuman manisnya langsung sukses membuat cewek-cewek di barisan depan berbisik histeris. Si Malaikat Penyelamat bermuka dua itu langsung menggelar jualan programnya yang tak kalah memikat kaum praktis:

  1. Voucher Kuota Gratis, agar semua murid bisa belajar di mana pun tanpa terkendala jaringan internet.
  2. Makan Siang Gratis yang dijanjikan berkala setiap bulannya.
  3. Restrukturisasi Jabatan Organisasi. Dengan gaya komunikasinya yang persuasif, MP berorasi, "Kenapa kita harus pakai nama 'Presiden' untuk semua ketua klub dan ekskul yang bikin kita kelihatan sombong dan ruwet? Cukup satu presiden, Presiden OSIS. Kami akan menaungi para 'Gubernur' ekskul dan klub. Lebih baik sebutan Gubernur saja, biar kepemimpinan sekolah kita terasa lebih membumi."

Terakhir, Paslon Nomor Urut 3 maju dengan santai. Slogannya sangat sederhana, tidak muluk-muluk, dan langsung merebut hati massa mayoritas yang malas berpikir berat: "Kebahagiaan SMANSA adalah segalanya. Kebahagiaan SMANSA tanggung jawab kami."

Dengan tampang polos tanpa beban, sang capres nomor 3 berteriak di mikrofon, "Pilih kami, dan kami pastiin besok libur!"

Sontak seluruh siswa spontan bersorak kompak, "Yeeee... besok mah emang tanggal merah, dodol!" meskipun setelah itu mereka tetap tertawa terpingkal-pingkal menikmati keabsurdan tersebut.

Tidak berhenti di situ, Paslon 3 membacakan tiga proker absurd tapi sejujurnya sangat diidam-idamkan oleh seluruh makhluk di sekolah:

  1. Jam istirahat ditambah khusus untuk waktu tidur siang siswa.
  2. Membentuk Support Group Peduli SMANSA, sebuah wadah kesehatan mental, tempat curhat sesama, dan tes kepribadian gratis berkala.
  3. OSIS akan membuat nota kesepakatan tertulis dengan komite guru agar tidak memberikan tugas atau PR yang dikumpulkan pada hari Senin, demi menjaga kesehatan mental siswa di akhir pekan!

Mendengar proker ketiga dibacakan, seluruh lapangan tengah bergemuruh dahsyat. Paslon nomor 3 mendapatkan tepuk tangan dan sorakan paling kencang di antara semua kandidat, meskipun semua orang tahu peluang proker itu dikabulkan oleh Kepala Sekolah hampir mendekati angka nol persen.

Atmosfer mendadak mendingin saat sesi debat terbuka dimulai. Kubu Nomor Urut 1 langsung melancarkan serangan tajam ke arah MP, memanfaatkan Kris yang berdiri tegak di barisan timses bawah panggung dengan tatapan matanya yang tajam mengintimidasi.

Kandidat Nomor Urut 1 menuding mikrofonnya ke arah MP. "Mengubah nama posisi menjadi 'Gubernur' tidak akan menyelesaikan masalah birokrasi, Paslon Dua! Tradisi SMA Negeri 1 Roden harus tetap dijaga secara sakral. PRESIDEN UNTUK SEMUANYA! Jika kita memecah struktur ini, koordinasi antar-organisasi akan hancur dan kepemimpinan sekolah menjadi tidak stabil!"

MP tidak tinggal diam. Dengan senyum tenangnya yang mematikan, dia membalas argumen itu, mencoba menjatuhkan wibawa kepengurusan lama yang didukung penuh oleh Kris. Pertarungan sengit penuh urat leher terjadi antara Calon 1 dan Calon 2. Mereka saling serang, mendebat argumen, dan beradu gengsi politik tingkat tinggi hingga membuat suasana lapangan semakin memanas.

Di sisi lain panggung, Calon Nomor Urut 3 sama sekali tidak disentuh atau didebat oleh Paslon 1 maupun Paslon 2. Kedua kubu elite itu menganggap Calon 3 bukan ancaman praktis yang harus diperhitungkan. Namun, strategi mengabaikan itu justru menjadi senjata makan tuan. Setiap kali Calon 3 mendapat giliran bicara tentang kebebasan akhir pekan tanpa PR di hari Senin, seluruh lapangan tengah selalu bertepuk tangan dengan sangat gemuruh.

Melihat antusiasme massa yang begitu besar pada Calon 3, aku bisa melihat dari kejauhan bagaimana wajah Kris di barisan timses nomor 1 dan wajah MP di podium nomor 2 mendadak berubah agak pucat. Dua kutub kekuatan besar SMANSA itu mendadak ketar-ketir, menyadari bahwa orasi berbasis kebahagiaan absurd dari Calon 3 bisa dengan mudah menyedot habis suara massa akar rumput yang mulai jenuh dengan janji-janji berat.

Di barisan penonton tempatku berdiri, situasi mulai tidak terkendali. Siswa-siswi mulai berbisik-bisik menyebarkan rumor dan menimbang ulang pilihan mereka.

"Ah, Paslon 1 kemahalan drafnya. Muluk-muluk banget, nggak mungkin bisa direalisasiin dalam setahun jabatan," bisik seorang anak di sebelahku.

"Iya, nih. Gue sih jujur aja makin tertarik sama Paslon 2. Ah, gue pengen kuota gratisnya aja sama makan gratis. Lebih realistis buat dompet pelajar!" timpal anak yang lain, ikut setuju.

Mendengar kasak-kusuk penonton yang mulai menguntungkan posisi MP, kubu nomor 1 mendadak melakukan manuver tak terduga di atas panggung. Sang capres, setelah menerima kode keras berupa anggukan rahasia dari Kris di bawah podium, langsung menambahkan interupsi untuk memperkuat kegunaan kartu mereka dan membalikkan keadaan.

"Interupsi! Perlu dicatat oleh seluruh warga SMA Negeri 1 Roden, kartu SMANSA ONE tidak hanya memotong birokrasi beasiswa secara rahasia. SMANSA ONE juga punya fasilitas canggih lainnya: tanpa diketahui oleh siapa pun, siswa pemegang beasiswa secara otomatis akan mendapatkan makan gratis di kantin sekolah! Validasi data berjalan di latar belakang mesin tanpa perlu kalian menunjukkan kupon atau mengantre di barisan khusus. Tidak ada sekat sosial, tidak ada rasa malu!"

Murid-murid di sekelilingku kembali berbisik dengan nada takjub. "Wah, gila... beneran enggak bakal diketahui siapa pun?"

Skakmat. Penjelasan tambahan yang didikte oleh otak taktis Kris itu langsung membungkam proker jualan makan gratis milik MP yang masih berupa konsep kasar. Lapangan kembali riuh, memberi poin kemenangan telak bagi timses Kris di detik-detik akhir debat.

"Iya, benar! Dan untuk membuktikannya, kalian bisa langsung melakukan uji coba sistemnya di stan yang ada di sebelah sana!" seru capres nomor 1 mantap, mengakhiri sesi debat.

Begitu orasi ditutup, kerumunan murid langsung bergerak bubar. Sebagian besar langsung merangsek menuju stan demonstrasi karena penasaran. Dan di sinilah aku sekarang. Sesuai janji "jebakan" di ruang Astronomi tempo hari, aku sudah dipanggil dan berdiri di stan sebagai model simulasi kartu.

Dengan tingkat kepercayaan diri yang luar biasa tinggi—atau mungkin cenderung nekat—Kris dan Paslon 1 benar-benar merealisasikan uji coba alat SMANSA HUB dan SMANSA ONE hari itu juga.

Aku hanya bisa terdiam menatap mesin-mesin baru di atas meja stan dengan perasaan campur aduk. Kris beneran tidak main-main dengan jabatannya sebagai kingmaker.

"Gila ya si Kris?" bisik Nina yang mendadak muncul di sebelahku sembari menatap monitor pemindai kartu baru di stan. "Pemilu bahkan belum mulai, tapi dia udah berhasil melobi LAN Global sama pihak sekolah buat pasang alat uji coba ini?"

"LAN Global?" Aku mengulang ucapan Nina. Kalimat itu memicu sesuatu di kepalaku. Rasanya aku seperti pernah mendengarnya.

Aku menunduk, menatap kartu contoh milikku yang menampilkan gambar keju dan tikus Big-E. Di pojok bawah kartu itu, ada tulisan kecil berwarna perak bertuliskan: Powered by LAN Global.

"LAN Global dari LAN Group? Kok bisa ya?" gumamku kebingungan. Aku langsung menoleh ke arah Nina. "Nin, lo tahu LAN Global? LAN Group?"

"Iya, LAN Group. Grup keluarga paling kaya se-Rodensia. Kekuasaan mereka turun-temurun," jawab Nina dengan nada berbisik yang serius.

"Tunggu, tunggu..." Otakku mendadak memutar paksa memori lama. "Itu sekolahan dan kampusnya Kak Izki, kakaknya Haqi!”

Tempat eksklusif yang cuma bisa ditembus anak konglomerat atau orang jenius. Tapi... kok bisa teknologi pertahanan mereka masuk ke SMANSA? Sekolah negeri kita ini terlalu kecil untuk dilirik raksasa seperti mereka.

Dari balik meja stan, aku melayangkan pandangan ke arah tenda timses nomor 1. Di sana, Kris sedang berdiri bersedekap dada. Bukannya memperhatikan jalannya antrean murid, dia justru sedang menatapku dari kejauhan dengan senyum miringnya yang penuh teka-teki.

***

Di kelas keesokan harinya, aku langsung menyidang Haqi dan Nina tentang penemuan logo misterius itu. Haqi yang biasanya pecicilan mendadak memasang wajah serius yang jarang sekali ia perlihatkan.

"LAN Group itu... grup keluarga dalam bidang pertahanan keamanan, Il," kata Haqi setengah berbisik, matanya melirik pintu kelas. "Mereka dikenal sangat kuat dan hampir mustahil buat ditembus. Data-data mereka terjaga ketat dari hack. Bahkan ada rumor, siapapun yang berani berurusan negatif atau macam-macam sama anggota keluarga mereka... bisa langsung hilang. Semua orang tahu itu."

Rumor mengerikan itu diam-diam juga menjadi kebingungan sekaligus sumber kekhawatiran bagi beberapa siswa yang melek informasi. Walau begitu, di mata mereka sang capres kakak kelas yang ramah itu hebat karena bisa menggandeng sponsor raksasa.

Reputasi politik capres 1 makin meroket. Dan, itu yang bikin aku tambah kesal. Terutama pada Kris. Makin hari cewek-cewek makin nempel sama dia. Padahal Krisbil bukan orang terpandang. Jujur, aku melihat cewek-cewek ini bukan fans kayak ke Haqi atau cewek-cewek genit ke MP, melainkan sahabat-sahabat setianya. Cuma bermodal pandai bicara, terlepas dari fakta dia cuma naik sepeda butut. Para senior pun sekarang sudah lebih hormat pada Krisbil karena dia tangan kanan capres 1.

Yang aku kagum adalah Sahna dan Clafia. Sahabat tulus pandang bulu.

***

Beberapa hari kemudian, saat latihan softball sore, aku sedang duduk sendirian di bangku penonton untuk beristirahat. Napasku agak terengah-engah setelah berlari memutari base. Tiba-tiba, jantungku mendadak berhenti sekejap. Drift kecil yang aneh itu terjadi lagi di dadaku.

"Sudah lama ya, Aklima," ucap sebuah suara dari arah belakangku.

Suara bariton itu. Dingin, tenang, tapi entah kenapa kali ini terasa jauh lebih dalam dari biasanya. Aku tersentak, menoleh dan mendapati Krisbil sudah berdiri di sana, bersandar pada tiang pembatas.

“Krisbil? Ngapain lo di sini?” tanyaku, langsung memasang mode waspada dan ketus.

Krisbil tidak langsung menjawab. Dia hanya menatapku datar, lalu sudut bibirnya terangkat tipis. “Selamat buat kartu tikusnya. Gimana?”

Wajahku mendadak memanas mengingat bagaimana aku dijadikan kelinci percobaan di stan kemarin. Sebelum sempat membalas, rombongan anak ekskul softball berjalan mendekat ke arah kami sambil berseru heboh. “Woy, Krisbil! Selamat ya acara kampanye lo lancar!”

Memanfaatkan momen riuh itu, aku langsung berdiri dan ambil langkah seribu. Kabur meninggalkannya.

***

Besok-besoknya di kegiatan GPS, saat aku dan Nina sedang merapikan beberapa dokumen, trio OSIS—Clafia, Sahna, dan tentu saja si Krisbil—tiba-tiba menghampiri kami.

“Hai Il, Nin!” sapa Clafia riang.

“Claf? Ngapain lo ke—” Kalimatku langsung terhenti gara-gara mataku menangkap sosok Krisbil yang berjalan santai di paling belakang.

“Biasa, mantau kalian,” sahut Clafia sambil terkekeh. Dia kemudian menyodorkan sebuah map. “Btw, agenda kalian soal proposal lengkap buat proyek hijau kemarin... fix disetujui tanpa revisi ya! Kabar baik dong?”

"Wah, serius? Thank you, Claf!" seru Nina senang.

Tepat saat itu, Gopur berjalan menghampiri kerumunan kami. Seperti biasa, wajahnya datar tanpa ekspresi. Namun yang membuatku kaget, tanpa babibu, Gopur langsung menggenggam pergelangan tanganku dan menarik lenganku sedikit menjauh dari hadapan Krisbil.

Detik itu juga, aku sempat menangkap basah sepasang mata Krisbil. Di balik pelupuk matanya yang dingin, ada sekelebat kilatan tajam yang aneh saat melihat tangan Gopur memegang lenganku. Suasana di antara kedua cowok itu mendadak terasa tegang dan penuh tekanan.

“Ada apa, Pur?” tanyaku bingung, berusaha melepaskan pegangannya dengan canggung.

Lihat selengkapnya