First E: The Joublee

Rizasa Vitri
Chapter #9

BAB 8

Aku langsung tahu siapa itu bahkan sebelum melihat wajahnya. Krisbil masuk ke ruangan ini tanpa bicara. Bukannya langsung mengarahkan senter ke mukaku, dia justru menyorotkan lampunya ke bawah agar mataku tidak silau.

Dengan suara baritonnya yang tenang, dia bilang, "Gue tahu lo nggak takut gelap, tapi lo ceroboh banget ninggalin HP di tenda."

“Kok lo bisa tahu?” tanyaku heran sekaligus defensif.

Krisbil menghentikan langkahnya sejenak. "Gue sempet denger abang lo ngomong sama temennya di deket tenda, itu sebelum kegiatan ini dimulai. Dia bilang buat titip HP lo yang lagi dicas dan dia mau keliling. Jadi, diam-diam gue juga keliling buat ikut ngawasin jalannya kegiatan ini.”

Aku langsung tau yang Krisbil maksud. Itu Haqi yang lagi ngomong ke Enal.

Krisbil berjalan mendekat, memegang senter kecil yang menempel di kunci sepedanya. Aku melirik benda di tangannya itu dengan dahi mengernyit. “Lo sendiri kenapa nggak pakai HP lo? Malah cahaya seuprit gitu yang lo pakai.”

“Entah?” Dia agak menjeda, seperti sedang berpikir. “Bener juga.” Dia menggantung kalimatnya sebentar. “Biar… romantis mungkin.”

Dalam remang kegelapan, aku memang tidak bisa melihat jelas bagaimana ekspresi wajahnya saat melontarkan kalimat barusan, tapi dari nadanya, aku tidak yakin cowok sombong ini sedang pamer muka seperti apa. Sejurus kemudian, dia akhirnya mengganti penerangan dengan menyalakan senter dari HP-nya yang jauh lebih terang.

"Sini. Ikutin aja cahayanya," ajak Krisbil tanpa menunggu persetujuan.

Aku akhirnya mengalah. Aku berjalan satu langkah di belakang Krisbil. Dalam kegelapan itu, hanya ada cahaya yang menuntun pergerakan kaki kami berdua. Anehnya, meskipun aku sangat membenci sikap sombong Krisbil sehari-hari, saat ini aku merasakan sebuah ketenangan yang aneh. Krisbil tidak mencoba memegang tanganku, tidak juga mencoba bersikap seperti pahlawan kesiangan yang melindungiku secara fisik dengan berlebihan. Dia hanya berjalan di depan, konsisten memberikan "cahaya" agar aku bisa melangkah sendiri dengan aman tanpa takut tersandung.

Saat kami sampai di belokan lorong yang sangat gelap, Krisbil mendadak menghentikan langkahnya. Jarak kami yang dekat membuatku hampir saja menabrak punggung tegapnya. Sorot senter HP-nya diarahkan ke ujung tangga bawah, di mana terdengar sayup-sayup langkah kaki panitia senior yang sedang berpatroli ke lantai dua.

"Di sebelah sini!" teriak Krisbil tiba-tiba, memecah kesunyian lorong.

Dan benar saja, begitu cahaya senter besar dari bawah menyorot ke arah kami, aku langsung bisa mengenali wajah Haqi yang berjalan di garda terdepan bersama para panitia senior.

Melihat sosokku berdiri di sini, Haqi langsung mengembuskan napas lega yang kentara banget. Tanpa memedulikan aba-aba senior, dia langsung lari mendahului panitia agar bisa cepat-cepat berada di dekatku.

Namun, begitu Haqi sampai dan berdiri tepat di antara aku dan Krisbil, atmosfer di sekitar kami mendadak berubah aneh. Aku bisa merasakan ketegangan yang mendadak pekat di antara Haqi dan Krisbil. Walaupun aku tidak bisa melihat ekspresi wajah mereka secara jelas karena kondisi yang remang-remang, aura persaingan dan ketidaksukaan yang dingin begitu terasa di antara keduanya.

Kami akhirnya berjalan bersama menuruni tangga, dikawal oleh panitia senior di belakang. Di sepanjang jalan, Haqi tidak berhenti mengoceh dengan nada protektifnya yang bercampur kesal.

"Bisa-bisanya lo diem aja kayak patung di atas sana, Il! Nggak ada suara, nggak teriak ketakutan kayak anak cewek lain!" semprot Haqi sambil terus berjalan mepet di sebelahku, seolah sengaja memblokir jarakku dengan Krisbil yang berjalan di sebelahnya. "Gue panik setengah mati nyariin lo pas lampu mati, tahu nggak?! Untung lo nggak kenapa-kenapa."

Aku hanya mendengus pelan mendengar omelannya, sementara Krisbil di sisi lain hanya diam, memasukkan satu tangannya ke saku celana dengan gaya tenang yang menyebalkan seperti biasa.

Tepat saat kaki kami menginjak anak tangga terakhir menuju lapangan tengah—

JEGRET!!!

Aliran listrik sekolah kembali menyala secara mendadak. Seluruh lampu koridor dan lampu sorot lapangan belakang SMANSA langsung menyala serempak, membutakan mata kami selama beberapa detik karena perubahan cahaya yang instan.

Begitu mataku berhasil menyesuaikan diri dengan terangnya lampu, aku reflek melirik ke arah dua cowok di sampingku. Alih-alih menjadi akrab setelah "misi penyelamatan" darurat ini, Haqi dan Krisbil justru menunjukkan sikap yang luar biasa canggung sekaligus bersitegang.

Haqi menatap Krisbil dengan pandangan menyelidik yang tajam, seolah sedang menginterogasi lewat mata kenapa tangan kanan Presiden OSIS itu bisa mendadak muncul di lantai dua bersamaku. Sementara Krisbil hanya membalas tatapan itu dengan senyum miringnya yang tipis dan dingin, mematikan senter HP-nya dengan gerakan santai yang penuh penekanan. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut mereka berdua, membuatku terjebak di tengah-tengah kecanggungan kuadrat yang membuat bulu kudukku meremang.

***

Satu minggu setelah drama makrab dan insiden mati lampu yang canggung itu, tibalah hari yang kami tunggu-tunggu. Sesuai perjanjian rahasia, Gopur menepati janjinya untuk membuka akses penuh ke Radio Elang SMANSA.

Siang itu, begitu bel jam istirahat kedua berdentang nyaring, aku, Clafia, dan Nina langsung bergerak cepat memisahkan diri dari kerumunan murid. Kami berlari mengendap-endap menuju ruang radio yang terletak di pojok lantai tiga gedung utama. Di dalam ruangan kedap suara yang dipenuhi kabel, mixer audio, dan mikrofon besar itu, Gopur sudah menunggu dengan wajah datarnya yang khas.

Nina langsung mengambil posisi, memangku gitar akustiknya di depan mikrofon instrumen. Sementara Clafia berdiri di depan mikrofon utama, berulang kali merapikan kerah seragamnya dan berdeham kecil.

"Pur... suara gue nanti kedengaran bagus, kan? Nggak cempreng, kan?" tanya Clafia tiba-tiba dengan nada yang sedikit gugup—pemandangan yang sangat langka dari seorang Bu Presiden Basket yang biasanya super tegas.

Gopur terdiam dua detik, menatap Clafia lurus-lurus. "Suara lo selalu bagus, Claf. Nggak usah grogi."

DEG.

Aku dan Nina langsung saling lirik dengan mata melotot, menahan tawa mati-matian. Clafia langsung memalingkan wajahnya yang mendadak merona merah sampai ke telinga, pura-pura sibuk membaca lirik di kertas. Siapa sangka si cowok hati batu kalau sekali ngomong manis bisa langsung bikin Bu Presiden kita mati kutu? Momen salting itu sukses mencairkan ketegangan kami di tengah situasi yang mendebarkan ini.

Gopur kemudian memakai headphone-nya, menarik tuas mixer, dan mendekatkan mikrofon khusus siaran ke depan bibirnya. Dia memberi kode jempol ke arah kami.

"Satu... dua... tiga... Live," bisik Gopur.

Detik berikutnya, bunyi jingle khas Radio Elang berbunyi pendek, memotong segala keriuhan jam istirahat di seluruh penjuru SMANSA. Suara bariton Gopur yang berat, dalam, dan berwibawa seketika mengudara lewat seluruh pengeras suara sekolah.

"Halo, selamat siang warga SMANSA. Kembali lagi bersama gue, Gopur, di Radio Elang. Spesial di jam istirahat kedua hari ini, ada sebuah persembahan khusus dari kami untuk kalian semua. Sebuah identitas, semangat baru, sekaligus jawaban atas segala desas-desus yang beredar belakangan ini. SMANSA, kami persembahkan... lagu terbaru sekaligus Mars resmi GERPESA. Selamat mendengarkan."

Gopur langsung mematikan mikrofon siarannya dengan cekatan dan mengoper jalur audio ke mikrofon Nina dan Clafia.

Nina mulai memetik senar gitarnya. Alunan melodi mars GPS yang hangat dan penuh semangat itu perlahan mengalir, membelah hiruk-pikuk jam istirahat SMANSA. Begitu bait pertama masuk, suara bulat dan kharismatik Clafia mengudara, memenuhi setiap pengeras suara di penjuru sekolah.

Aku berdiri di dekat jendela ruang radio, menatap ke arah lapangan tengah dan koridor bawah yang tadinya bising banget. Dalam hitungan detik, suasana ramai itu mendadak magis. Anak-anak yang lagi jalan ke kantin langsung berhenti di tempat dan mendongak ke arah speaker. Murid-murid di dalam kelas langsung berhenti mengobrol, mendengarkan dengan takjub lirik tentang solidaritas, gunung, dan alam yang kami gaungkan. Lewat siaran Radio Elang di jam istirahat ini, kami resmi mengembalikan identitas GPS yang sempat dirusak oleh isu pembatalan muncak ke seluruh warga sekolah.

Mengenai masalah guru pembimbing yang malas dan kelicikan WP (Wakil Playboy)? Anehnya, badai politik itu langsung runtuh tanpa perlu drama pleno yang panjang. Tanpa sempat kami melakukan aksi apa pun, sebuah kekuatan aneh yang tersembunyi di SMANSA entah bagaimana berhasil membuat guru pembimbing dan WP langsung kena skakmat telak. Masalah draf langsung clear dalam semalam, dan sejak hari itu, sosok guru pembimbing serta WP benar-benar tidak pernah kelihatan lagi di lingkungan organisasi. Berkat itu, agenda muncak akhirnya disetujui pihak sekolah dengan syarat dua tahap: tahap pertama ke gunung rendah dengan agenda ke air terjun, dan jika berhasil, baru dituntaskan ke tahap kedua menuju gunung yang lebih tinggi.

***

"Kalian tahu nggak sih, kasihan ada cewek berhijab yang setiap hari diikuti hantu anak kecil," ucap Enal memecah keheningan saat kami berkumpul di halaman belakang beberapa hari kemudian.

Kalimat Enal memicu sebuah ide besar di kepalaku. SMANSA mungkin tidak punya masalah perundungan parah seperti zaman SMP-nya Nina dulu—di mana para perundungnya gila-gilaan mirip preman. Namun, atmosfer sekolah ini tetap terasa mengintimidasi bagi sebagian orang. Terlebih lagi, sosok bayangan hitam mistis bernama Nonem sudah tidak pernah kelihatan lagi sejak insiden baku hantam di kantin.

"Jangan-jangan dia takut sama kamu, Il. Atau kekuatannya melemah karena saking kuatnya kekuatan tersembunyi yang ada di SMANSA," tebak Nina soal Nonem. "Tapi kita tetap buat grup introvert nggak harus karena ada bullying kan?" Nina menimpali ideku yang kubahas kembali pas Enal nyeritain soal cewek hantu anak kecil tadi.

"Iya, setidaknya, cewek berhijab yang dibilang Enal diikuti hantu itu bisa kita ajak berteman."

"Betul banget. Ada juga yang kayak aku, kamu juga tahu kan, Il?" tambah Enal.

"Oh iya, yang cewek rambut panjang yang kalau pakai kuncir suka merosot sendiri itu, kan? Gara-gara ditarik sama teman hantunya," sahutku menyetujui. Ya, cewek yang sedang kami bahas adalah seorang indigo sama seperti Enal. Cewek ini punya tiga teman hantu sekaligus.

Setelah diskusi panjang, akhirnya grup introvert rahasia resmi kami bentuk. Kami sama sekali tidak membujuk atau mengundang si cewek berhijab hantu anak kecil itu secara langsung, tapi secara mengejutkan dia datang sendiri untuk mendaftar. Pertemuan rutin kami adakan secara berkala di sudut perpustakaan yang sepi, pas sekali dengan diriku yang sedang ingin berada dalam "mode introvert". Di komunitas ini, aku didapuk menjadi Presiden Introvert, Nina sebagai Wakil, dan Enal menjabat posisi Penasihat.

"HP baru, Il?" bisik Nina di sela-sela pertemuan perpustakaan, menatap benda di tanganku.

"Iya, dibelikan Ayah.” Ini pertama kalinya aku punya ponsel layar sentuh, kemarin masih ponsel model tombol biasa. Lewat HP baru inilah aku akhirnya membuat grup WhatsApp khusus untuk anak-anak introvert.

Saat aku sedang fokus mengotak-atik grup WA, aku yang kembali dengan penampilan penyamaran—berkacamata bulat yang rencananya hanya kupakai sebatas saat kumpul grup—Krisbil tidak sengaja berjalan melewati pembatas rak buku perpustakaan. Langkah kakinya mendadak terhenti total. Dari balik celah buku, mataku memergokinya terdiam beberapa saat, menatapku lurus-lurus dengan pandangan yang tidak biasa. Di sanalah rahasia kecil itu tersimpan; aku baru sadar sang kingmaker OSIS itu ternyata terpesona melihat wajahku saat mengenakan kacamata. Pantas saja dia begitu dekat dengan Sahna, sesama pengguna kacamata bulat. Apa dia sebegitu penggila cewek kacamata bulat?

Sekarang, aku jadinya sudah terbiasa menghadapinya. Kacamata ini bisa menjadi jurus andalan terbaruku. Kalo aku udah capek ngomel-ngomel atas keangkuhannya pas aku lagi nggak pake kacamata, selalu sedia aja kacamata ini di saku, terus tinggal pake deh tepat di depan matanya. “Sedia kacamata, sebelum Krisbil.”

Setelah beberapa kali pertemuan rutin grup introvert, Haqi akhirnya menyempatkan berkunjung untuk pertama kalinya ke tempat perkumpulan rahasia kami. Saat Haqi melangkah masuk, aku menangkap sebuah momen ganjil. Mata Haqi dan Nisa—si cewek berhijab hantu anak kecil itu—mendadak beradu di udara. Detik itu juga, ada semacam kilatan aneh di mata mereka sebelum keduanya kompak membuang muka dengan cepat. Besoknya, ketika Haqi datang lagi, sikap mereka berdua benar-benar berubah drastis; mereka kompak berpura-pura seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.

Lihat selengkapnya