First E: The Joublee

Rizasa Vitri
Chapter #10

BAB 9

Hari demi hari berlalu, dan seharusnya jadwal muncak tahap satu ke air terjun sudah lewat dari tanggal yang direncanakan. Namun, aku dan Nina belum juga mendapat kabar kepastian dari Gopur. Setiap kali ditagih, dia selalu memberikan jawaban yang sama: ditunda karena persiapan belum selesai atau belum matang.

"Apa lagi sih, Pur?" desakku suatu siang di depan ruang sekretariat GPS.

Aku dan Nina terus mendesaknya karena tanpa sadar, Gopur sepertinya lupa kalau kami sudah mau memasuki semester akhir kelas 10. Akibat penundaan yang tidak jelas ini, anak-anak anggota baru sudah mulai jenuh. Satu per satu dari mereka memilih keluar karena merasa kecewa dan digantung. Aku semakin gencar mendesak Gopur karena menurut pengamatanku, semua perlengkapan logistik dan perizinan segalanya sudah siap. Lalu, apa sebenarnya yang belum siap? Apakah dirinya sendiri sebagai presiden yang terlalu protektif dan berusaha melindungi anggotanya yang dia anggap belum siap?

Setelah perdebatan panjang yang menguras emosi, akhirnya Gopur berhasil kubujuk. Agenda muncak tahap satu resmi dilaksanakan akhir pekan ini.

Karena jalur menuju air terjun tersebut tidak bisa diakses menggunakan kendaraan besar, seluruh panitia dan anggota diputuskan untuk naik motor bersama-sama. Di hari keberangkatan, di tengah riuh rendah persiapan di parkiran sekolah, Gopur menghampiriku.

“Il, gue dapat titipan pesan dari Haqi buat jagain lo selama berkegiatan. Tapi lo bawa motor sendiri ke sana, enggak apa-apa?” tanya Gopur.

Aku menggigit bibir bawahku ragu. “Tapi... gue enggak ada motor, Pur. Motor di rumah lagi dipakai Ayah.”

Gopur terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah motor berwarna hijaunya. “Pake punya gue aja. Nanti gue bisa bareng sama sekretaris gue pakai motor dia.”

Di sisi lain, Nina kebetulan tidak bisa ikut dalam perjalanan ini karena kondisinya mendadak drop dan sakit.

“Nggak apa-apa, Il. Sebenarnya kan yang pengen banget ke gunung itu kamu, kalau aku sendiri kan aslinya nggak berani. Takutnya fisik aku nggak kuat dan malah nyusahin kamu di sana,” kata Nina menenangkan lewat telepon sebelum kami berangkat, berusaha menghapus rasa bersalahku karena meninggalkannya.

Perjalanan dari sekolah menuju wilayah kaki gunung awalnya berjalan sangat lancar. Angin dingin mulai menusuk kulit seiring vegetasi yang semakin rapat. Namun, petaka dimulai saat kami akhirnya sampai di pintu masuk jalur air terjun. Kondisi jalannya berubah drastis menjadi berbatu lepas, curam, dan menanjak tajam. Semua pengendara harus ekstra hati-hati jika tidak ingin tergelincir.

Motorku mendadak mati di tengah tanjakan karena aku panik. Ban belakangnya sempat selip di atas batu besar.

“Aduh, gimana nih... Gopur!” panggilku setengah berteriak, keringat dingin mulai bercucuran di dahiku. “Gue nggak bisa, Pur! Gue nggak berani lanjutin bawa motor di jalur kayak gini!”

Gopur langsung menepikan motornya. “Ya udah, sini sama gue aja.”

Namun, tepat sebelum aku sempat melangkah, Bu Ben mendadak turun dari boncengan motor Gopur dengan wajah ketus. Dia langsung mengambil alih stang motor yang kupegang, menyuruhku pindah ke jok belakang. Jadi, Bu Ben yang di depan menyetir dan aku diboncengannya. Segitunya Bu Ben tidak membiarkan aku dibonceng oleh Gopur. Tapi kalau dipikir kembali secara logis, aku juga egois kalau memaksakan diri dibonceng Gopur; lalu Bu Ben harus ditinggal dengan siapa? Biar adil, sesama cewek memang harus berkelompok.

Sialnya, keputusan itu menjadi awal dari mimpi burukku. Di tengah jalan gunung yang semakin terjal, Bu Ben ternyata tidak sepiawai itu. Dia mendadak kehilangan kendali atas motornya saat melindas batu yang bergeser.

BRUK!!!

Motor ambruk ke sisi kiri. Bu Ben yang memegang kendali setir justru baik-baik saja karena sempat melompat, tapi aku tidak seberuntung itu. Aku jatuh terembas ke tanah, dan yang paling mengerikan, seluruh bobot motor itu ambruk tepat di atas kaki kananku. Pahaku langsung terkena hantaman besi tajam dari tatakan kaki motor (fustep).

"Aaahhh!!" Tangisanku pecah seketika di tengah hutan. Rasanya luar biasa perih, panas, dan berdenyut hebat. Darah segar langsung merembes cepat, merusak kain celana gunungku.

Melihat kondisiku yang parah, perjalanan GPS hari itu langsung kacau. Aku akhirnya dievakuasi dan dibawa oleh Gopur pulang menggunakan motornya, memisahkan diri dari rombongan. Setelah memasuki kota, kami terpaksa berhenti dulu di klinik untuk mengobati lukaku yang ternyata cukup dalam. Setelah diperiksa oleh dokter, luka di pahaku robek parah sehingga harus menerima beberapa jahitan.

Gopur dengan setia menungguku di ruang tunggu sampai seluruh proses penjahitan selesai. Setelah itu, dia mengantarkanku sampai ke depan pintu rumah kontrakan baruku. Namun, begitu tugas mengantarku selesai, dia langsung pamit untuk balik lagi ke tempat anak-anak yang menunggunya di air terjun sana.

Mereka tetap melanjutkan muncak tahap satu itu... tanpa aku. Kejadian hari itu resmi menjadi insiden paling traumatis dan menyakitkan sepanjang sejarahku di sekolah.

Mengetahui insiden kecelakaan tersebut, Haqi mendadak meledak. Dia marah besar kepada Gopur karena dianggap lalai menjaga amanat, dan tidak becus melindungi anggota baru hingga membiarkan Bu Ben bertindak ceroboh. Aku dan Haqi benar-benar berada di titik kekecewaan terdalam terhadap Gopur, Bu Ben, dan seluruh sistem organisasi GPS.

Hari seninnya, dengan langkah kaki yang masih pincang dan paha yang diperban tebal, aku menemui Nina di koridor kelas. Keputusanku sudah bulat. Hari itu juga, aku dan Nina resmi mengajukan surat pengunduran diri dan keluar dari GPS selamanya. Kami sudah selesai dengan ketidakadilan Bu Ben dan kepasifan Gopur.

Malam harinya, Haqi datang berkunjung ke rumah kontrakanku. Dia duduk di teras dengan kepala menunduk dalam, memandangi perban di kakiku dengan tatapan penuh penyesalan yang belum pernah kulihat sebelumnya dari seorang Haqi.

"Gue minta maaf, Il," ucap Haqi, suaranya bergetar berat. "Gue adalah sahabat terburuk buat lo. Gue egois... gue tega ngebiarin lo nunggu sendirian di pos satpam waktu itu sampai lo harus jalan kaki sendirian ke halte. Dan sekarang, pas lo butuh dijaga, gue malah nggak ada di samping lo."

Aku hanya diam, mendengarkan ketulusan yang keluar dari mulut sumbu pendek itu.

Sejak malam itu, untuk menebus seluruh kesalahannya, Haqi menepati janjinya. Dia selalu bersiap mengantar jemput aku sekolah setiap hari menggunakan motornya, tidak peduli fakta bahwa jarak rumah kontrakan baruku dan rumahnya kini sudah berlawanan arah dan sangat jauh. Dia membuang ego dan rasa lelahnya demi memastikan aku tidak perlu lagi berjalan kaki ke halte bus.

"Nanti, kalau kaki lo udah sembuh total, gue bakal ajak lo muncak ke gunung beneran. Bukan cuma ke air terjun nanggung kayak kemarin, tapi bener-bener gunung yang tinggi," janji Haqi suatu sore saat mengantarku pulang, menatapku lurus dari balik kaca helmnya.

"Tapi gue kan udah bukan anak GPS lagi, Qi," sahutku pelan.

Haqi tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sangat menenangkan. "Muncak itu nggak harus jadi anggota GPS, Il. Kali ini gue janji bakal jagain lo lebih ketat lagi. Gue nggak bakal biarin lo kenapa-kenapa atau terluka lagi. Kita muncak... berdua aja."

***

Setelah berminggu-minggu melewati masa pemulihan pasca-insiden jahitan di paha, hari yang dijanjikan Haqi akhirnya tiba. Sesuai janjinya, dia tidak akan membiarkan kekecewaanku terhadap GPS mengubur impianku untuk melihat dunia dari tempat yang tinggi. Pagi-pagi sekali, motor milik Haqi sudah membelah jalanan menanjak menuju pos pendakian di kaki gunung. Di sana, Haqi memarkirkan dan menitipkan motornya dengan aman pada petugas pos penjagaan.

Perjalanan yang sesungguhnya pun dimulai dengan berjalan kaki. Aku membetulkan letak topi hitam di kepalaku—topi couple kembaran dengan Haqi, dibuat khusus bertuliskan bordiran "The Jouble" sebagai simbol kebanggaan persahabatan platonic kami.

"Jalan kaki menanjak kayak gini beda sama lari softball ya, Il. Atur napas lo," perintah Haqi yang berjalan tepat satu langkah di belakangku, siap menjadi tameng hidup kalau-kalau aku kehilangan keseimbangan.

Baru saja setengah jam melewati jalur tanah basah berakar, petaka kecil hampir terjadi. Kakiku salah menginjak bongkahan batu yang licin berlumut. Tubuhku limbung ke belakang, kehilangan tumpuan.

"Haqi!!" pekikku spontan dengan jantung yang mencelos.

Set!

Sebelum tubuhku menyentuh tanah, sepasang lengan yang kuat sudah mencengkeram jaket dan pinggangku dengan cekatan. Haqi menarik tubuhku kembali ke posisi tegak dalam satu gerakan cepat. Napasnya memburu di dekat telingaku, wajah cowok sumbu pendek itu mendadak berubah sangat tegang dan pucat.

"Kan udah gue bilang, fokus!" omel Haqi dengan nada yang luar biasa protektif, tapi matanya menyiratkan kepanikan yang dalam. "Mulai sekarang, tangan lo pegang tas gue. Jangan jauh-jauh dari jangkauan gue, Ilma."

Aku hanya bisa mengangguk pasrah. Sepanjang sisa jalur pendakian yang semakin curam, Haqi benar-benar membuktikan janjinya. Dia menjagaku dengan sangat ketat, memastikan setiap jengkal tanah yang kupijak aman dari bahaya.

Sore menjelang malam, kami akhirnya sampai di area camping ground. Dengan cekatan, Haqi mendirikan tenda dome kami di bawah naungan pohon gunung yang rindang, sementara aku bertugas merapikan matras di bagian dalam. Udara dingin yang menusuk tulang membuat perut kami mulai berdemonstrasi minta diisi.

"Lomba makan mi kuah pedas. Siapa yang habis duluan, dia yang menang," tantangku saat air di dalam nesting mulai mendidih. Aku menuangkan beberapa bungkus mi instan dengan taburan bubuk cabai level maksimal yang sengaja kubawa dari rumah.

"Siapa takut? Di lapangan boleh lah lo kalahin gue, tapi urusan makan, gue nggak bakal ngalah," sahut Haqi jemawa.

Namun, Haqi lupa satu fakta penting: dalam urusan makanan pedas, lidahku tidak punya urat takut. Begitu kompetisi dimulai, aku melahap mi kuah yang memerah itu dengan ekspresi datar tanpa hambatan, sementara Haqi baru beberapa suapan sudah batuk-batuk dengan wajah memerah sempurna dan keringat sebesar biji jagung bercucuran di dahinya.

"Gila lo, Il... ini kuah atau lahar?" gerutu Haqi sambil buru-buru meraih botol air minumnya, mengakui kekalahannya telak. Aku hanya tertawa puas, menikmati kemenangan mutlakku di atas puncaknya.

Aroma kuah mi dan uap hangat yang mengepul di depan tenda mendadak melempar ingatan jernihku ke masa lalu. Menatap kepulan asap itu membuatku bernostalgia pada momen beberapa tahun lalu, saat Haqi untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya rela turun ke dapur, belajar mati-matian membuat nasi goreng dari nol hanya demi menghiburku yang sedang merajuk karena dilarang menyentuh kompor oleh keluarga.

Di rumahku, dapur adalah zona terlarang untukku. Ayah, Bunda, bahkan Kak Usman kompak mengunci aksesku untuk belajar memasak atau melakukan pekerjaan rumah tangga.

"Ilma! Duduk!" bentak Kak Usman tegas suatu hari ketika melihatku memegang spatula.

"Ilma kan juga pengin bisa masak!" protesku tidak terima.

"Tugas kamu itu cuma satu Ilma, belajar," sahut Bunda tanpa menoleh dari potongan sayurnya.

Aku merengut kesal. "Ayah, aku nggak dibolehin masak sama Kak Usman sama Bunda," aduku pada Ayah yang sedang membersihkan sisik ikan di wastafel.

Ayah menyahut dengan senyum teduh, "Iya Ilma, biar Ayah sama Bunda kalau urusan dapur."

Sebenarnya, Kak Usman juga sering disuruh Ayah dan Bunda untuk fokus belajar, tapi dia tetap keukeuh mau membantu pekerjaan rumah.

"Kok Kak Usman boleh bantu nyuci baju sih? Ilma enggak?" tanyaku protes saat melihat kakak laki-lakiku itu sibuk di depan mesin cuci.

"Tugas rumah itu tugasnya cowok, Ilma. Kamu belajar aja yang rajin. Entar cari cowok yang mau ngerjain tugas ginian buat kamu," sahut Kak Usman bijak.

"Yah, entar kalau aku merantau kuliah sendirian, malu-maluin dong kalau aku nggak tahu cara hidupin mesin cuci!" argumenku tetap membela diri.

Kak Usman terkekeh, lalu menarikku mendekat. "Sini lihat aja kalau mau tahu caranya, tapi nggak perlu kamu yang ngerjain. Yang ngerjain tugas kayak gini mah suami kamu nanti."

Ingatan flashback-ku bergeser lagi, ke memori indah di dapur rumah Haqi saat Kak Izki masih di rumah. Sore itu, aroma gurih masakan laut menyeruak dari dapur. Aku mengintip dari balik sekat, menemukan Kak Izki sedang sibuk mengaduk sesuatu di atas wajan.

"Wah, masak apa nih, Kak? Ajarin dong," ujarku antusias, menghampiri kakak perempuan Haqi yang sudah kuanggap kakak kandungku sendiri itu.

"Kamu mau belajar masak nih ceritanya?”

“Iya. Boleh kan?"

"Gak boleh," jawab Kak Izki cepat, wajahnya mendadak lempeng.

"Loh, kok nggak boleh sih? Kayak Kak Usman sama Bunda aja," protesku langsung mengerucutkan bibir.

"Dibilang nggak boleh ya nggak boleh," godanya lagi, membuatku semakin kesal. "Hehe, canda, Il. Beneran nih mau belajar masak?"

Aku mengangguk cepat dan sangat antusias. "Iya, beneran!"

Kak Izki tampak berpikir sejenak, menggaruk pelipisnya. "Hmm... boleh aja sih. Tapi Bunda sama Kak Usman boleh kagak? Entar aku yang dimarahin lagi sama Bunda dan Kakak kamu itu."

Lihat selengkapnya