Akhir pekan ini, rasa rindu mendadak membuncah di dadaku. Aku kangen main ke rumah Haqi. Aku merindukan halaman rumput hijau yang luas dan rindang di depan rumahnya tempat kami dulu bermain lari-larian dan kerajaan-kerajaan, tempat pot-pot bunga dan tanaman hias tertata rapi, dan tentu saja—trampolin legendaris kami sejak kecil yang terpasang kokoh di bawah pohon mangga besar di sana.
Begitu aku mengirim pesan singkat bahwa aku ingin berkunjung, ponselku langsung berdering.
“Gue jemput,” cetus Haqi tanpa basa-basi di seberang telepon.
“Gak usah, Qi. Rumah kontrakan gue kan jauh. Gue naik bus aja,” tolakku, mencoba tidak merepotkannya.
Haqi diam sejenak, lalu mengembuskan napas berat. “Oke. Tapi dari rumah, di halte, di dalam bus, sampai lo menapakkan kaki di halaman rumah gue... jangan pernah matiin teleponnya.”
Aku tersenyum tipis mendengar proteksivitasnya yang tidak pernah luntur. Sesuai instruksinya, aku terus membiarkan ponselku menyala di sepanjang berjalan kaki menuju halte.
Sesampainya di halte, udara terasa lembap sisa hujan deras semalam. Di depan halte, sebuah genangan air hujan yang cukup dalam menganga lebar di tepi aspal. Aku sama sekali tidak menyadari bahwa di pojok halte yang sama, ada sosok yang sangat kukenali sedang berdiri bersedekap dada. Aku terlalu asyik tertawa mendengar celotehan Haqi di telepon hingga duniaku menyempit hanya pada suara di ponsel.
Wuuushhh!
Tiba-tiba, sebuah mobil melaju kencang membelah genangan air tepat di depan halte. Kecepatan mobil itu dipastikan bakal membuat air keruh itu menciprat tinggi dan membasahi seluruh tubuhku. Namun, sebelum air itu sempat menyentuh jilbabku, sebuah bayangan berkelebat cepat.
Set!
Krisbil, yang menyadari bahaya itu, langsung melompat ke depanku. Dia membalikkan tubuhnya, menjadikan punggung tegapnya sebagai tameng hidup.
BRASSSHH!
Air genangan itu menghantam telak bagian belakang tubuh Krisbil. Punggungnya seketika basah kuyup dan kotor oleh air jalanan. Aku tersentak, mataku membulat sempurna, dan seluruh tubuhku mematung seketika di tempat.
"Il? Ilma? Ada apa, Il?!" Suara Haqi mendadak meninggi dari seberang telepon, menangkap keheningan yang mendadak dari sisiku.
Krisbil berbalik, menatapku dengan wajah agak salah tingkah sembari mengibaskan air dari jaketnya. "Sorry... sorry," ucap Krisbil pelan, lalu buru-buru menjauh ke pojok halte yang paling ujung untuk memberikan ruang privasi padaku.
Belum sempat aku menenangkan debaran jantungku akibat aksi heroik Krisbil, perhatianku mendadak teralih pada situasi ganjil di sudut halte yang lain. Sesosok seumuran anak SMP datang mendekat. Krisbil yang memiliki insting tajam langsung tahu bahwa anak itu adalah seorang copet. Begitu tangan kecil itu merayap hendak membuka ritsleting tas kepala beruangku, Krisbil bergerak cepat.
"Heh! Ngapain lo?!" bentak Krisbil, langsung mencengkeram pergelangan tangan anak itu dengan kuat.
Terpojok dan ketakutan karena aksinya digagalkan, anak itu mendadak nekat. Tangan kirinya merosot ke dalam saku celana dan mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil yang sudah berkarat. Dia menodongkan mata pisau itu ke arah Krisbil dengan tangan yang gemetar hebat.
Aku melangkah maju, pandanganku terkunci pada mata anak itu. Sorot matanya yang liar namun ketakutan mendadak memicu gelombang dejavu yang dahsyat di kepalaku. Mata itu... mengingatkanku pada sosok anak kecil bertahun-tahun lalu di masa kecilku yang pernah kutemui dalam situasi yang sama-sama kelam.
Sebelum anak itu sempat mengayunkan pisaunya, Krisbil dengan keahlian fisiknya yang gesit langsung melakukan gerakan mengunci. Pisau lipat itu terlepas dari genggaman dan menggelinding di aspal, sementara tubuh anak itu langsung diringkus di bawah tekanan tangan Krisbil.
"Tunggu, lepasin dia, Krisbil!" seruku spontan, tidak tega melihat anak yang mengingatkanku pada masa lalu itu kesakitan.
Mendengar seruanku, Krisbil melonggarkan kunciannya sesaat karena bingung. Memanfaatkan celah itu, si anak copet langsung merenggut tangannya dan lari sekencang-kencangnya menembus gang sempit di belakang halte.
"Ada apa, Ilma?! Lo kenapa?! Jawab gue!!" Suara Haqi di telepon sudah berubah menjadi kepanikan massal. "Gue ke sana sekarang!"
Pip. Telepon diputus sepihak.
Aku menoleh ke pojok halte, namun Krisbil ternyata sudah tidak ada di sana. Dia tampaknya memilih pergi diam-diam setelah keributan itu agar tidak membuatku semakin canggung. Tidak sampai sepuluh menit, suara raungan mesin motor yang digas ekstrem terdengar mendekat. Motor Haqi berhenti dengan rem mendadak di depan halte. Dia melompat turun, wajahnya pucat pasi dan napasnya tersengal-sengal seolah habis berlari maraton.
Haqi langsung memegang kedua pundakku, matanya meneliti dari ujung kepala sampai kaki memastikan tidak ada darah atau luka. "Lo nggak apa-apa, Il?! Siapa yang ganggu lo?!"
Aku mengembuskan napas panjang, mencoba tersenyum menenangkannya. "Nggak apa-apa, Qi. Untung tadi... ada Krisbil."
Dahi Haqi langsung berkerut dalam, ekspresi khawatirnya mendadak berganti menjadi jengkel yang kentara. "Krisbil? Ngapain tuh orang di sini?"
"Dia nggak sengaja ada di sini, terus... jagain dan nolongin gue tadi," jelasku jujur.
Menyadari atmosfer di sekitarku yang masih tegang dan syok akibat rentetan kejadian di halte, Haqi langsung merubah taktik. Dia berdeham pelan, merapikan letak helmnya, lalu melangkah mundur satu langkah dengan sikap tubuh yang mendadak dibuat kaku seperti pelayan kerajaan.
"Apakah benar dengan Tuan Putri Tikus?" tanya Haqi dengan nada suara yang sengaja dibuat berat dan berwibawa, namun matanya berkedip jail.
Aku sempat tertegun, namun insting humor dan keakraban kami langsung mengambil alih. Dengan gaya terkejut yang dibuat-buat, aku menaruh tangan di dada dan antusias mengikuti gaya bicaranya. "Ya, benar. Saya sendiri."
"Apa benar Tuan Putri memesan ojek?" lanjut Haqi dengan wajah yang diusahakan tetap lempeng tanpa senyum.
"Pfft... Hahaha!!" Pertahananku runtuh seketika. Tawaku pecah memenuhi halte siang itu sampai-sampai aku harus memegang perutku yang mendadak melilit sakit. "Aduh, Qi... gue gak bisa nahan sakit perut!"
"Kok ketawa, sih?" gerutu Haqi, meski sudut bibirnya sendiri mulai berkedut menahan senyum.
"Haha... Ekspresi muka lo barusan lucu banget, asli!" ucapku terbata-bata sembari mengusap ujung mata yang sedikit berair akibat tertawa terlalu terbahak-bahak.
Melihat Haqi yang melipat tangan di dada dengan sabar menungguku selesai meredakan tawa, aku akhirnya berdeham kecil, mencoba kembali ke skenario komedi kami. "Iya, iya. Saya memang memesan ojol, Tuan."
"Tapi... gratis, kan?" lanjutku sengaja menjeda kalimat dengan nada menuntut yang manja.
Haqi mendengus geli, lalu menyodorkan helm cadangan berwarna hitam ke arahku. "Oh, tentu saja. Gratis kemanapun. Khusus untuk Tuan Putri seorang."
Aku menerima helm itu dengan hati riang. Motor Haqi perlahan membelah jalanan kota yang mulai benderang oleh terik matahari siang, membawaku menjauh dari halte penuh drama itu menuju rumahnya yang kurindukan. Di sepanjang jalan, angin kota menerpa wajahku, memberikan rasa aman yang selalu kurasakan setiap kali berada di boncengan setianya.
Aku memajukan tubuh sedikit dekat ke arah punggungnya. "Wahai, Tuan Ksatria Haqi Tsabit Muhammad..." panggilku sengaja menjeda kalimat dengan nada dramatis.
"Yaa?" sahut Haqi sedikit berteriak agar suaranya tidak tersapu angin jalanan.
"Kenapa sih, lo masih mau terus bersama gue dan repot-repot kayak gini sampai sekarang?" tanyaku, menyuarakan rasa penasaran yang mendadak muncul setelah mengingat ucapan Kak Izki di dapur waktu itu.
"Karena gue sahabat lo," jawabnya santai tanpa keraguan sedikit pun.
"Kenapa harus karena sahabat?" desakku lagi.
Haqi terkekeh pelan di balik kaca helmnya. "Udah takdir, Il. Tugas gue dari dulu sampai kapan pun adalah jagain lo."
Aku menahan senyum jail yang terbit di bibirku, lalu mencondongkan kepala di samping pundaknya. "Kalau gue... gak mau dijagain sama lo gimana?"