First E: The Joublee

Rizasa Vitri
Chapter #12

FIRST E: SUMPAH "BISMILLAH" PERTAMA

Ilma teringat 1 hal. Haqi pernah bilang, ia ingin mengganti namanya menjadi Haqee Tsabeet Muhammad.

“Kamu mau jadi keluargaku, Qi?” ucap Ilma kecil dengan polosnya.

“Aku ingin menjadi Double E-mu, Il. Biarkan aku menjadi E pertama dan E terakhirmu. The Last Gatekeeper,” deklarasi Haqi dengan bangga nan puitis. Ilma hanya tertawa kala itu.

***

Hari itu adalah akhir pekan yang cerah. Aroma pengharum mobil yang khas menyeruak di dalam kabin mobil keluarga Ilma. Mereka sedang dalam perjalanan liburan bersama—salah satu agenda yang melibatkan keluarga Haqi karena kedekatan orang tua mereka yang sudah seperti saudara kandung. Di kursi tengah, Ilma kecil duduk berdampingan dengan Haqi kecil yang sedang sibuk dengan mainan robot plastiknya, sementara tawa renyah orang tua mereka, Kak Usman, dan Kak Izki kecil mengalir mengiringi laju mobil yang santai.

Namun, keceriaan di dalam kabin itu mendadak melambat saat mobil mereka tertahan oleh lampu merah di sebuah perempatan jalan kota yang padat.

Tok... tok... tok...

Bunyi ketukan pelan di kaca jendela samping tempat duduk Ilma, membuat gadis kecil itu menoleh. Di luar sana, berdiri seorang anak kecil laki-laki. Usianya mungkin tidak jauh berbeda dari Ilma, atau bahkan bisa jadi lebih muda. Tubuhnya kurus kering dibalut kaos oblong bekas yang kebesaran dan dekil. Di tangan kecilnya yang berdebu, anak itu memegang sebuah gitar kecil.

Anak itu mulai memainkan gitarnya, menyanyikan lagu dengan suara cempreng yang tenggelam di antara raung mesin kendaraan jalanan.

Saat sepasang mata mereka beradu melalui sekat kaca, dada Ilma kecil mendadak sesak. Sudut matanya seketika memerah, dan pandangannya langsung berkaca-kaca. Ilma menatap mata anak pengamen itu—mata yang tampak begitu lelah, lapar, namun menyimpan kekosongan yang teramat dalam di usianya yang masih sangat belia. Air mata gadis kecil itu menggenang di pelupuk, siap tumpah hanya dengan sekali kedipan. Bagaimana bisa ada anak sekecil itu berdiri di bawah terik matahari yang menyengat, sementara ia sendiri duduk nyaman di dalam ruangan ber-AC dengan pakaian yang bersih?

"Ayah... Bunda..." adu Ilma dengan suara bergetar, jemari kecilnya mengetuk-ngetuk kaca bagian dalam, menunjuk ke arah luar jendela. "Lihat anak itu. Kasihan... kita tolong dia, ya? Kita bawa dia ikut kita aja, Ayah..."

Haqi kecil menghentikan aktivitas bermainnya. Ia menoleh ke arah luar jendela, lalu menatap wajah Ilma dengan pandangan polos yang ikut menyendu melihat air mata sahabatnya yang mulai menetes.

Dari kursi kemudi, Ayah Ilma melirik melalui spion tengah, lalu menghela napas dengan sangat lembut. Beliau memutar tubuhnya sedikit ke belakang saat lampu lalu lintas masih menyala merah, menatap putri kecilnya dengan tatapan penuh kasih.

"Ilma, anakku sayang..." ucap Ayah dengan nada suara yang sangat bijak dan meneduhkan. "Dunia ini luas, dan tidak semua orang beruntung memiliki rumah atau keluarga yang bisa menjaga mereka dengan baik seperti kita."

"Tapi kita punya uang, kan, Ayah? Kita bisa kasih dia rumah," tangis Ilma kecil mulai pecah, tidak tega melihat pengamen kecil itu sekarang menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan yang kotor.

Haqi kecil di sampingnya perlahan meraih tangan kanan Ilma, menggenggamnya erat dengan jemari mungilnya. "Il... dengerin kata Ayah," bisik Haqi pelan, mencoba menenangkan kegelisahan sahabatnya.

Ayah Ilma tersenyum tipis, sorot matanya sarat akan pembelajaran hidup yang mendalam. "Kita bisa memberikan dia sedikit uang atau makanan hari ini, Ilma. Tapi kita tidak bisa menolong atau mengubah seluruh jalan hidupnya begitu saja. Ada batasan-batasan di dunia ini yang tidak bisa kita langgar hanya dengan keinginan kita. Menolong itu baik, tapi kita juga harus kuat menerima kenyataan bahwa kita tidak bisa menyelamatkan semua orang yang kita temui di jalan."

Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Mobil-mobil di belakang mereka mulai membunyikan klakson dengan bising. Ayah Ilma menghela napas, lalu perlahan menginjak pedal gas.

Mobil itu mulai bergerak maju, perlahan-lahan meninggalkan area perempatan tersebut. Ilma kecil langsung berlutut di atas jok mobil dan menempelkan kedua telapak tangan serta wajahnya pada kaca mobil. Matanya yang basah oleh air mata terus mengunci sosok anak pengamen kecil itu. Anak itu berdiri diam di tengah kepulan asap knalpot, menghitung beberapa keping koin di telapak tangannya, sebelum bayangannya perlahan mengecil dan mengabur di kejauhan.

Rasa sedih dan ketidakberdayaan sebagai anak usia tujuh tahun membuat bahu Ilma kecil terguncang hebat karena tangisan yang tertahan.

Haqi kecil ikut memutar tubuhnya menghadap ke belakang, duduk berlutut di samping Ilma. Ia tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari gadis itu. Dengan tangan kirinya, Haqi kecil menepuk-nepuk pundak Ilma dengan canggung namun penuh ketulusan, persis seperti cara yang sering dilakukan orang dewasa untuk menenangkan adiknya yang sedang bersedih.

"Udah, Il... jangan nangis lagi," bujuk Haqi kecil, menyandarkan kepalanya di dekat bahu Ilma, ikut memandangi jalanan yang menjauh dari balik kaca belakang mobil. "Aku kan ada di sini. Nanti kalau kita udah gede, kita bareng-bareng bikin dunia jadi lebih baik, ya? Sekarang kamu tenang aja, ada aku yang bakal jagain kamu biar kamu gak sedih lagi."

Fragmen ingatan itu perlahan memudar, menyisakan satu kesadaran penting yang terkunci di labirin benak terdalam sang gadis: mata anak pengamen bertahun-tahun lalu itu... adalah sorot mata kaku yang sama persis dengan milik Nonem atau anak kecil yang menodongkan pisau lipat berkarat di halte tempo hari.

***

Lorong waktu itu kembali bergeser, membawa ke fragmen memori lain di tahun yang sama. Skenario masa kecil yang hangat namun penuh kepolosan itu kembali berputar di bawah sudut pandang yang merekam segalanya.

Saat itu bagi Ilma, kata "sakit" adalah momok yang mengerikan—sebuah garis tipis yang posisinya teramat dekat dengan kematian. Oleh karena itu, ketika untuk pertama kalinya Ilma mendengar kabar bahwa ada seseorang di lingkaran terdekatnya yang jatuh sakit, dunianya langsung dilanda kepanikan hebat.

Orang itu adalah Umi, ibunda dari Haqi.

Sore itu, Kak Usman—kakak laki-laki Ilma—mendapat tugas untuk mengantarkan rantang makanan yang baru saja dimasak oleh Bunda Ilma. Melihat Kak Usman bersiap ke samping rumah, Ilma kecil dengan wajah penasaran menghampirinya.

"Kak Usman mau ke mana?" tanya Ilma polos.

"Mau mengantarkan ini untuk Umi, Umi sedang sakit," jawab Kak Usman lembut.

Sebenarnya, Kak Usman memang berniat mengajak Ilma ikut serta. Sudah menjadi tradisi yang mendarah daging bagi kedua keluarga ini untuk saling mengunjungi saat ada yang tertimpa musibah. Kak Usman ingin memanfaatkan momen ini untuk melatih Ilma kecil agar terbiasa berbudi luhur dan peduli pada sesama sejak dini.

Namun, Kak Usman belum sempat mengutarakan ajakannya ketika melihat reaksi Ilma. Begitu mendengar kata "Umi sakit", mata bulat Ilma langsung melebar, digenangi air mata yang siap tumpah. Tanpa aba-aba, gadis kecil itu langsung membalikkan tubuhnya dan berlari kencang sekuat tenaga menembus halaman, mendahului langkah kaki Kak Usman menuju rumah Haqi.

"Umiii...!" tangis Ilma pecah begitu ia menghempaskan pintu kamar yang tidak terkunci.

Ilma kecil berlari terseok-seok, lalu langsung menghambur naik ke atas tempat tidur, memeluk tubuh Umi yang sedang bersandar lemah di tumpukan bantal. Isak tangisnya terdengar begitu pilu dan kencang, membuat suasana kamar yang tadinya tenang mendadak heboh.

Di samping tempat tidur, Haqi kecil yang sedang memegang mangkuk kecil berisi bubur hangat terkejut setengah mati. Sendok yang dipegangnya hampir saja terlepas melihat kedatangan Ilma yang tiba-tiba histeris. Haqi mengira telah terjadi sesuatu yang buruk pada sahabatnya itu di luar sana.

Haqi kecil meletakkan mangkuknya dengan tergesa-gesa, lalu memegang pundak Ilma. "Ilma! Kenapa kamu menangis? Apa kamu terluka?!" tanya Haqi panik, berpikir bahwa Ilma sedang berlari ke kamar Umi untuk mengadukan seseorang yang baru saja menyakitinya di lapangan bermain.

Ilma menggelengkan kepalanya kuat-kuat di dalam pelukan Umi, air matanya membasahi kain daster yang dikenakan wanita paruh baya itu.

"Bukan begitu! Akulah yang salah, Haqi! Aku yang salah karena tidak menjaga Umi dengan baik!" seru Ilma di sela tangisnya yang sesenggukan. Sifat kebaikan, empati, dan rasa tanggung jawab yang tinggi rupanya sudah melekat kuat di dalam diri Ilma, bahkan jauh sebelum Kak Usman atau orang dewasa lainnya sempat memberikan petuah tentang budi pekerti.

Umi yang melihat tingkah polos Ilma hanya bisa tersenyum lemah namun sangat tulus. Tangan kurusnya bergerak perlahan, mengelus rambut Ilma dengan penuh kasih sayang, mencoba meredakan tangis gadis kecil yang mengkhawatirkan keselamatannya itu.

Haqi kecil yang berdiri di samping kasur seketika terpaku. Kedua matanya berbinar tulus, menatap sosok Ilma yang masih sesenggukan memeluk ibunya. Ada rasa heran yang bercampur dengan rasa takjub dan terpesona yang mendalam di hati kecil Haqi. Selama ini, mereka hanya sering bermain peran bersama di halaman—permainan klasik di mana Haqi bertindak sebagai kesatria gagah berani dan Ilma menjadi putri kerajaan yang harus diselamatkan.

Namun melihat momen ini, Haqi tersadar akan satu hal.

Pantas saja semua orang sayang sama Ilma, pikir Haqi kecil dalam hati sembari menatap lekat-lekat wajah sahabatnya itu. Termasuk Umi... ternyata dia sebaik itu.

Rasa takjub itu perlahan menumbuhkan sebuah tekad yang mengakar kuat di dalam dada Haqi kecil. Sumpah kekesatriaannya yang biasa ia teriakkan dalam permainan fiksi di halaman rumput, kini berubah menjadi janji yang nyata dan sakral di dalam benaknya.

Aku harus jadi kuat. Mulai sekarang dan sampai kapan pun, aku yang akan selalu berdiri di depan untuk melindungi Ilma, biar dia gak perlu nangis ketakutan kayak gini lagi.

***

Sore itu, di tengah asyiknya permainan kesatria dan putri, Ilma kecil sempat menjeda langkahnya. Ia berdiri di bawah rindangnya pohon, menatap punggung Haqi kecil yang sedang mengayunkan pedang ranting pohon dengan penuh semangat. Di dalam hati kecilnya yang murni, sebuah letupan rasa syukur muncul begitu saja.

Aku beruntung memiliki Haqi. Aku ingin terus bersamanya sampai kapan pun, pikir Ilma kecil saat itu. Sebuah senyuman manis dan tulus terukir di wajahnya.

Melihat Ilma tersenyum, Haqi kecil berbalik dan ikut menyunggingkan senyum khasnya yang hangat. Namun, senyuman itu tidak bertahan lama. Detik berikutnya, kelopak mata Haqi tampak memberat, keseimbangan tubuhnya goyah, dan bruk! Tubuh mungil Haqi mendadak ambruk, pingsan di atas hamparan rumput hijau.

Ilma kecil tersentak hebat. Rasa panik langsung menyergap dadanya, dan air matanya seketika tumpah ruah. Ia berlari menghambur, berlutut di samping tubuh sahabatnya yang mendadak terasa sangat panas saat disentuh. Tak disangka, Haqi ternyata terkena demam yang sangat tinggi.

Padahal aku selalu bersamanya setiap hari... kok aku bisa nggak tahu kalau dia lagi sakit? batin Ilma kecil menyalahkan diri sendiri di tengah tangisnya yang semakin pecah.

Di dalam ketidaksadarannya karena suhu tubuh yang membakar, bibir pucat Haqi kecil tampak bergerak-gerak samar. Dengan suara yang teramat lirih dan bergetar, ia memanggil satu nama. "Umi... Umi..."

Mendengar racauan Haqi yang mencari ibunya, tangis Ilma justru semakin menjadi-jadi. Ia menggenggam erat tangan Haqi yang panas, terus menangis di sampingnya sampai beberapa lama kemudian kelopak mata Haqi perlahan bergerak terbuka, terbangun dari pingsan singkatnya.

Melihat Haqi yang menatapnya dengan pandangan sayu, penyesalan yang teramat dalam justru berkecamuk di dalam batin Ilma kecil.

Dia selalu menahannya, isak Ilma di dalam hatinya yang paling dalam. Haqi berusaha keras untuk selalu jadi kuat, gak mau manja, dan gak mau dicap sebagai 'anak mami' hanya demi bisa menjagaku sepanjang waktu. Dasar Ilma egois... aku egois karena terus berharap dia selalu melihat ke arahku dan menemaniku main sampai dia sendiri kelelahan dan terkena demam seperti ini.

Rasa bersalah anak usia tujuh tahun itu mendadak tereskalasi menjadi perasaan mengutuk diri sendiri. Dasar Ilma egois… Tidak, ini bukan sekedar keegoisan. Bisa-bisanya aku menyiksa anak berumur tujuh tahun yang seharusnya dilindungi, bukan malah dibebani. Padahal dirinya sendiri berusia tujuh tahun.

Haqi kecil yang baru mengumpulkan kesadarannya menatap Ilma dengan dahi berkerut lemas. Di dalam kepalanya yang pening, ia bingung. Kenapa dia nangis lagi? Kenapa lagi-lagi gadis di depanku ini meneteskan air mata?

Sebelum Haqi sempat bersuara, Ilma kecil mendongak dengan wajah yang sudah basah kuyup oleh air mata penyesalan. Kata-kata yang keluar dari mulut mungilnya sore itu terdengar sangat berat, terlalu dewasa dan kelam untuk diucapkan oleh seorang anak kecil.

"Maaf, Haqi... aku bahkan tidak bisa menjadi sandaran bagimu," ucap Ilma dengan suara bergetar hebat. "Bukan berarti aku ingin kamu memaafkan perbuatanku. Aku tidak bisa menjagamu dan Umimu, dan sekarang... aku malah membuatmu sakit dan memisahkan kalian berdua."

Ilma meremas jemari Haqi, menunduk dalam-dalam. "Maafkan aku karena tidak bisa mengisi kekosongan hatimu. Aku bersumpah, aku tidak akan pernah melukaimu lagi. Akan kubuat duniamu dan Umimu bisa bahagia, hingga akhir hayatku. Karena itu... jika kelak aku menjadi seorang sahabat yang hina dan melanggar janji ini... bencilah aku. Kalo perlu… bunuhlah aku."

Napas Haqi kecil seketika tercekat. Kalimat ekstrem dari mulut Ilma sukses membuat seluruh persendian tubuhnya menegang. Ia menatap wajah Ilma yang menangis sesenggukan di depan matanya.

Ilma... aku pasti akan melindungimu, batin Haqi kecil bersumpah di dalam hatinya sendiri.

Saat melihat wajah Ilma yang menangis sekencang itu, ingatan Haqi kecil mendadak terlempar pada sosok Umi. Ada kemiripan yang aneh di sana. Ilma... dia sedang memikul beban yang teramat berat. Dia memikul beban emosional yang besar demi orang lain, bukan demi dirinya sendiri. Saking beratnya beban itu, ekspresi yang ditunjukkan Ilma saat itu tampak begitu menyakitkan untuk dilihat.

Namun, di balik rasa takjubnya, ego seorang anak kecil di dalam diri Haqi memicu sebuah kesalahpahaman yang besar.

Demi siapa dia memikul beban seberat itu? Demi aku? Tidak, itu tidak mungkin, pikir Haqi kecil, mulai meragukan arah ketulusan Ilma.

Lihat selengkapnya