First E: The Joublee

Rizasa Vitri
Chapter #13

BAB 11

Blup.

Aku mengerjapkan mata berkali-kali, mencoba menyesuaikan penglihatanku dengan cahaya lampu neon UKS yang terasa menusuk retinaku. Kepalaku terasa sangat berat dan pening luar biasa. Aku tahu aku baru saja melewati sebuah labirin mimpi yang sangat panjang, melelahkan, dan dipenuhi emosi yang campur aduk. Namun, begitu kelopak mataku terbuka sempurna, seluruh bayangan itu menguap begitu saja tanpa sisa. Aku tidak berbohong—aku benar-benar lupa apa yang baru saja mampir di dalam tidurku.

Di tengah kesadaran yang baru terkumpul, sudut mataku menangkap sosok Haqi yang sedang terduduk lesu di samping kasurku. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, menyembunyikan gurat lelah dan kepanikan yang luar biasa.

"Jangan kayak gini, Il... gue gak sanggup kalau harus nunggu lo bangun lebih lama lagi," bisik Haqi lirih, suaranya bergetar hebat memecah keheningan ruang UKS yang mencekam. "Gue... belum selesai jagain lo."

"Haqi..." panggilku pelan dengan suara yang masih serak dan lemah.

Mendengar suaraku, Haqi langsung mendongak dengan mata membelalak sempurna. Ada binar lega sekaligus cemas yang terpancar dari tatapannya. Namun, belum sempat cowok itu meluapkan rasa leganya atau menginterogasiku, aku justru langsung menyibak selimut UKS. Mengabaikan rasa pening yang masih berputar di pelipis, aku segera turun dari kasur dengan tergesa-gesa. Pikiranku saat ini hanya tertuju pada satu nama: Nonem.

Haqi melongo di tempatnya duduk, benar-benar gak habis pikir dengan jalan pikiranku yang ajaib. Bagaimana bisa seorang Ilma, baru saja siuman dari pingsan akibat dihipnotis, malah nekat langsung melompat turun untuk mencari orang yang jelas-jelas telah membuatnya tumbang di gudang tua?

"Il! Mau ke mana lo?! Ilma, lo baru bangun!!" seru Haqi frustrasi di belakangku, namun aku tetap melangkah lebar keluar menembus pintu UKS.

Sayangnya, usahaku hari itu sia-sia. Aku sama sekali tidak menemukan batang hidung sang presiden kelas di sudut sekolah mana pun.

Di hari-hari berikutnya, mencari Nonem rasanya seperti berburu angin; dia benar-benar seperti terlanjur tertelan bumi. Cowok itu mendadak menerapkan taktik gerilya tingkat tinggi untuk menghindariku secara konsisten.

Ada anomali besar yang terjadi: Nonem yang biasanya hobi bolos dan kabur ke kantin atau taman, kini mendadak jadi sangat rajin duduk manis di dalam kelas setiap kali jam pelajaran Matematika berlangsung. Dia fokus pada papan tulis, seolah menjadikannya tameng agar aku tidak punya celah untuk mengajaknya bicara.

Namun, begitu bel istirahat atau bel pulang berdering sekencang apa pun, set!—Nonem langsung melesat kabur secepat kilat. Dia menghilang dari koridor sebelum aku sempat mengemas buku atau melangkahkan kaki mendekati meja pojok belakangnya. Dia benar-benar membangun benteng tak kasat mata, sengaja menyusun strategi matang agar tidak harus bertatap muka atau berpapasan denganku lagi setelah insiden itu.

***

Belum sempat drama kejar-kejaran dan misi melabrak Nonem membuahkan hasil, kelasku kembali diguncang oleh sebuah interupsi besar. Hari itu, sesosok siswi baru melangkah masuk ke dalam ruang kelas dengan aura yang langsung menyedot perhatian seisi ruangan. Penampilannya benar-benar mencolok—bergaya kasual cenderung seksi dengan pilihan pernak-pernik dan jaket kulit yang serba hitam, sangat kontras dengan aturan seragam sekolah yang kaku.

Siang harinya saat jam istirahat, aku sedang berjalan di koridor sekolah bersama Nina ketika siluet anak baru itu kembali melintas tidak jauh di depan kami. Aku langsung menyenggol lengan Nina pelan.

"Itu, Nin... anak baru yang kemarin sempat aku ceritakan ke kamu," bisikku sambil menunjuk ke arah koridor depan menggunakan dagu.

Nina menoleh, namun sedetik kemudian langkah kakinya mendadak terkunci. Matanya membelalak sempurna dan mulutnya langsung melongo lebar, menatap siswi baru itu seolah-olah baru saja melihat hantu di siang bolong.

"Jurotul?" teriak Nina dengan nada suara riang yang setengah tidak percaya.

Mendengar nama itu disebut dengan logat yang sangat lokal, siswi baru itu langsung menoleh cepat. Wajahnya yang tadi memasang ekspresi ketus mendadak berubah masam sekaligus panik. Suasana koridor yang tadinya tegang seketika berubah menjadi kocak. Anak-anak yang kebetulan lewat langsung memperlambat langkah dan mulai saling berbisik-bisik geli mendengar nama baptis sang anak baru yang terdengar sangat kontras dengan penampilan gotik seksinya.

"Zuro! Nama gue Zuro!!" ralat gadis serba hitam itu dengan nada ketus yang tertahan, wajahnya memerah karena malu. “Ikut gue!!”

Tanpa membuang waktu, Zuro langsung melangkah lebar mendekat, lalu dengan agresif menarik lengan Nina menjauh dari kerumunan koridor. Mereka berdua berjalan cepat menuju sudut tangga yang sepi untuk berbicara empat mata. Aku hanya berdiri diam di tempat semula, memandangi punggung mereka dari kejauhan. Aku benar-benar tidak tahu apa yang mereka bicarakan, dan aku juga tidak berniat sama sekali untuk menguping urusan orang lain.

Tidak lama kemudian, Nina kembali berjalan menghampiriku dengan raut wajah yang masih tampak sedikit syok dan bingung.

"Ada apa, Nin?" tanyaku penasaran begitu dia sudah berdiri di sampingku.

Nina berdehem canggung, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya. "Ah... t-tidak apa-apa, Ilma. Cuma salah paham sedikit."

Aku hanya mengangguk-angguk kecil, meski di dalam hati aku tahu ada sesuatu yang besar di masa lalu mereka. Namun, kejutan dari Zuro tidak berhenti sampai di situ. Hanya dalam hitungan hari, pergerakan anak baru itu mulai terlihat mencurigakan. Di kantin dan area koridor tengah, Zuro mulai terlihat sering mencoba mendekati lingkaran Trio OSIS. Dari caranya menatap dan melempar senyuman manis, sangat kentara bahwa gadis itu memiliki sebuah tujuan terselubung. Dan yang paling mengejutkan, target utamanya adalah Krisbil.

Zuro berkali-kali mencoba melancarkan aksi pendekatan, mulai dari berpura-pura menanyakan ruang pertemuan hingga mencoba ikut nimbrung saat Trio OSIS sedang berdiskusi. Beruntung bagi Krisbil, pertahanan dirinya tidak mudah ditembus. Setiap kali Zuro mencoba merangsek maju untuk tebar pesona, Sahna selalu berdiri di garda terdepan sebagai pembatas yang kokoh. Dengan tatapan matanya yang tajam dan ketegasan khas OSIS, Sahna berhasil menjaga jarak aman agar Krisbil tidak terganggu oleh manuver agresif Zuro.

Menyadari bahwa jalurnya menuju Krisbil diblokade rapat oleh Sahna, Zuro mendadak mengubah taktik penyerangannya. Sore itu, saat aku sedang menata buku di meja piket, langkah kaki Zuro berbelok lurus menuju ke arahku.

"Hai, Ilma, kan? Salam kenal ya," sapa Zuro dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat ramah dan manis, lengkap dengan senyuman lebar yang tampak begitu bersahabat.

Aku sempat mengerutkan dahi, agak terkejut dengan perubahan sikapnya yang tiba-tiba melunak padaku. Di balik senyuman ramah itu, aku tidak tahu bahwa otak Zuro sedang bekerja dengan penuh perhitungan. Baginya, bersikap ramah kepadaku adalah kunci strategis yang baru. Berdasarkan pengamatannya selama beberapa hari ini, Zuro menarik kesimpulan sepihak bahwa titik lemah terbesar dari seorang Krisbil... adalah diriku.

***

Aku memilih untuk ikut masuk ke dalam skenario 'baik' yang sedang dimainkan Zuro. Aku tidak mau berburuk sangka. Kepolosan dan rasa empatiku mendikteku untuk merangkulnya sebagai sesama siswi yang dinilai "berbeda" oleh lingkungan sekolah.

Momen pertama terjadi saat upacara bendera hari Senin. Karena tubuhku yang selalu segar bugar di bawah terik matahari, seperti biasa aku didepak oleh teman-teman kelasku sendiri. Namun, kali ini bersama Zuro. Kami berdiri di paling depan—posisi yang paling panas dan melelahkan. Selesai upacara, aku berjalan bersisian dengannya sambil menyeka keringat di dahi, merasa prihatin karena nasib kami yang sama.

"Besok kita harus gantian berdiri di belakang ya, Zur," ucapku santai, mencoba mencairkan suasana.

Namun, entah kenapa, Zuro hanya diam. Wajahnya mendadak mendung dan ia tidak menjawab kalimatku sama sekali hari itu.

Meski begitu, di hari-hari berikutnya, Zuro justru berbalik menjadi sangat ramah kepadaku. Modusnya mulai gencar diluncurkan. Sore itu, saat bel pulang berdering, dia menghampiri mejaku dengan kunci di jarinya.

"Il, ayo pulang bareng gue," ajaknya manis, menawarkan tumpangan menggunakan mobilnya.

Aku tersenyum tipis. "Gue pamit dulu sama Haqi, ya."

Hari-hari berikutnya berjalan semakin intens. Zuro bahkan rela meluangkan waktunya untuk duduk di tribun, menemaniku latihan softball. Setelah keringatku mengering, dia mengajakku pergi ke minimarket depan kompleks sekolah untuk membeli minuman dingin.

Melihat dia bersiap merogoh kunci mobil, aku menahannya. "Daripada bawa mobil, mending kita pakai motor aja, ya?"

Zuro awalnya sempat mau menolak karena gengsi, tapi melihatku yang sudah bersiap, akhirnya dia terpaksa mau. Aku segera berbalik menoleh ke arah tribun tempat Haqi duduk. "Qi! Gue pinjem motor ya!" seruku lantang.

Sore itu sebenarnya tidak ada jadwal latihan basket. Tapi semenjak berbagai insiden yang terjadi menimpaku, cowok itu akan tetap setia duduk di tribun. Menungguku dan menemaniku latihan hingga selesai tanpa mengeluh sedikit pun.

Sesampainya di minimarket, aku turun dari motor dan secara refleks membawa helmku masuk ke dalam toko. Melihat tindakanku, Zuro langsung protes keras di depan pintu kaca.

"Ngapain sih dibawa masuk? Malu-maluin aja," cibir Zuro ketus.

"Nggak apa-apa, Zur. Gue udah biasa begini sama Haqi," jawabku jujur, karena Haqi selalu mengingatkanku untuk menjaga barang berharga.

"Di sini aman, Il! Gak ada maling! Gue gak mau ya berteman sama orang yang bawa-bawa helm ke dalam minimarket kayak orang udik!" tegas Zuro dengan nada meremehkan.

Karena tidak enak hati dan ingin menghargai ajakan pertemanannya, aku akhirnya mengalah. Aku menuruti kata-katanya dan mengaitkan helm itu di spion motor Haqi. Namun sial, keputusan itu langsung berbuah petaka. Begitu kami selesai membayar di kasir dan melangkah keluar, helm kesayanganku—yang kubeli dari uang tabungan hasil jerih payahku sendiri—sudah raib digondol orang.

Aku dan Haqi—yang langsung datang ke lokasi setelah kukabari segera menyusut area sekitar. Hasilnya nihil. CCTV minimarket mendadak dinyatakan rusak, pegawai toko memasang wajah tidak mau tahu, dan warga sekitar dengan santai hanya bilang, "Biasanya di sini aman, Neng."

Rasa kecewa membuat dadaku sesak. Aku sudah terlanjur muak dengan ketidakpedulian di sekitar hingga rasanya tidak peduli lagi untuk marah. Dan Zuro? Aku hanya bisa berharap di dalam hati bahwa dia merasa bersalah atas gengsi konyolnya yang membuatku rugi. Tapi entahlah, wajah luarnya tidak menunjukkan penyesalan yang berarti.

***

Urusan parkiran sekolah kami selalu punya cerita tersendiri. Di area parkir siswa, Haqi sebenarnya adalah sosok yang sangat ringan tangan. Dia selalu sukarela membantu anak-anak cewek yang kesusahan menggeser motor atau mengeluarkan kendaraan mereka saat parkiran sedang padat-padatnya. Jika Haqi sedang sibuk atau tidak tahu ada yang butuh bantuan, aku yang akan berbisik padanya, "Qi, tolongin cewek itu." Dan tanpa banyak tanya, Haqi akan langsung maju membantu—murni karena sifat penolong, tanpa ada embel-embel kegenitan sama sekali.

Ngomong-ngomong soal motor, aku sempat menyadari sebuah fakta unik dari sahabatku, Nina. Suatu siang, aku menyeletuk saat melihatnya memarkirkan kendaraan.

"Nin, motor bebekmu kok gonta-ganti terus sih tiap minggu?" tanyaku heran.

Nina tersenyum canggung, lalu berbisik pelan di dekat kupingku. "Iya, Il... sebenarnya semua motor bebek itu bukan milikku pribadi. Motor-motor itu cuma dititipkan bergantian di rumahku oleh orang-orang. Yang kupakai hari ini, mungkin besok sudah gak ada lagi di rumah dan diganti motor lain. Tapi aku dibolehkan memakainya untuk ke sekolah." Sebuah informasi yang aneh, namun aku memilih tidak memperpanjang rasa ingin tahuku.

Hingga suatu sore, pemandangan berbeda terlihat di parkiran. Zuro—yang entah angin apa tumben sekali hari itu memilih membawa sepeda motor ke sekolah—tampak kesusahan setengah mati menarik standar dua motornya yang terselip di antara barisan kendaraan lain. Tubuhnya yang mungil kewalahan.

Melihat itu, aku langsung menyenggol lengan sahabatku. "Qi, tolongin Zuro."

Haqi melangkah maju untuk membantu, namun belum sempat tangan Haqi menyentuh setang motor, Zuro sudah mendongak dan menatapku dengan sorot mata yang teramat sinis.

"Gak usah sok baik lo, Ilma!" ketus Zuro tajam, menolak mentah-mentah bantuan kami.

Namun karena emosi yang meluap, Zuro kehilangan keseimbangan. Motornya oleng dan tubuhnya hampir saja limbung jatuh ke aspal jika saja tidak ada Nina yang dengan cekatan langsung menangkap lengannya dari belakang. Bukannya berterima kasih, Zuro justru menepis kasar tangan Nina dengan wajah masam, lalu segera menyalakan mesin motornya dan pergi melesat meninggalkan area sekolah.

Aku hanya bisa menghela napas panjang melihat punggungnya yang menjauh. Dari semua rangkaian kejadian ini, aku mulai menyadari satu hal: Zuro tampaknya frustrasi karena tidak berhasil menemukan titik lemah di dalam diriku. Baginya, aku terlalu sulit untuk digoyahkan lewat drama pertemanan cewek.

Dan tahu apa yang terjadi keesokan harinya di sekolah?

Zuro mendadak mengubah total haluan targetnya. Dengan pakaian seksinya, dia mulai gencar mendekati dan menggoda Haqi secara terang-terangan di depan kelas. Ya, logika liciknya telah merumuskan sebuah kesimpulan baru: jika Ilma tidak bisa dihancurkan secara langsung, maka Haqi adalah titik lemah terbesar yang harus ia rebut dariku. Dia pikir, Haqi adalah kelemahanku.

Lihat selengkapnya