Pencarian besar-besaran untuk menemukan Bilal segera dimulai esok harinya. Namun setelah berjam-jam menyisir jalanan, Nonem kembali ke hadapanku di sudut gang dengan kondisi yang mengenaskan.
Napasnya memburu parau, suaranya serak, dan kepalanya menunduk dalam-dalam di depan tubuhku. Seluruh keangkuhannya sebagai penguasa jalanan runtuh tak bersisa. "Gue udah muter-muter, Il... Gue udah cek semua tempat, semua sudut wilayah... tapi Bilal tetap nggak ada. Gue... gue nggak tahu lagi harus cari ke mana," ucapnya, nyaris putus asa di ambang keputusasaan yang absolut.
Aku tetap berdiri tegak dengan tenang. Dari balik hijabku, aku menatap lurus ke arah gurat frustrasi di wajahnya. "Lo sudah mencari ke seluruh daerah di kota ini, Nonem... tapi lo lupa mencari di satu tempat."
Nonem mendongak dengan mata memerah. "Di mana?! Gue udah ke mana-mana!"
"Di lubuk hati lo, Nem, pikirkan. Dimana tempat yang mungkin disinggahi Bilal. Koneksi hati. Mengakulah... bahwa di balik semua penolakan lo, lo merindukan suara anak itu lebih dari siapa pun di dunia ini," jawabku telat, menghantam langsung ke inti sukmanya.
Nonem mencengkeram kepalanya sendiri, meremas rambutnya dengan frustrasi. "Gue cuma nggak mau dia jadi sampah yang diinjak-injak orang kayak gue, Il! Gue nggak punya cara lain untuk melindunginya selain mengusirnya ke jalanan yang keras!"
Melihat pemandangan itu, Haqi yang berdiri di samping Nina hanya bisa melipat tangannya di dada, lalu berbisik pelan ke arah Nina. "Gue liat Nonem, preman yang biasanya bikin orang segedung gemetar, sekarang malah gemetar hebat di depan Ilma. Ilma nggak perlu teriak atau main otot. Dia cuma perlu menyebut satu hal tentang 'rasa sayang yang salah', dan Nonem langsung tumbang begitu saja. Itu bukan sihir, Nin... itu cuma Ilma yang lagi memegang kendali penuh atas hati seseorang."
Berbekal petunjuk terakhir, kami berempat mulai menyusuri gang-gang sempit yang sepi dan remang di wilayah pinggiran kota. Petang mulai merayap naik, menyisakan keheningan yang mencekam di antara dinding-dinding batako tua.
Sret!
Tiba-tiba, sesosok bayangan kecil melesat keluar dari kegelapan sempit. Tanpa aba-aba, sosok itu merangsek maju dan langsung menodongkan sebuah pisau lipat yang berkarat tepat ke arah perutku.
"Bilal?!" seru Nonem tak jauh di belakangku.
Napas seolah tertahan di tenggorokan, namun aku berusaha sekuat tenaga menjaga wajahku agar tetap tenang. "Bilal... ini kamu?"
Anak laki-laki di depanku memiliki mata yang memerah dan sekujur tubuh yang gemetar hebat. Suaranya terdengar sangat parau dan liar. "Kasih tasnya, Mbak! Cepat! Jangan banyak tanya! Aku butuh uang sekarang!!"
"Bilal, stop!!"
Nonem melangkah maju dengan wajah murka, membuat Haqi segera memasang posisi siap bertindak, sementara Nina mundur selangkah dengan raut ketakutan.
Mendengar suara itu, Bilal tersentak hebat. Fokusnya terpecah dari perutku. "Kak *****? M-maksudku, Bang Nonem?!"
"Gue bilang jangan panggil gue dengan nama itu lagi!" bentak Nonem.
Drama reuni itu terputus seketika. Dari arah kegelapan di belakang Bilal, sekomplotan preman dewasa berbadan kekar perlahan keluar, mengacungkan balok kayu dengan seringai licik di wajah mereka. Mereka adalah bos jalanan yang selama ini memanfaatkan Bilal.
Sebelum preman-preman itu sempat melayangkan pukulan pertamanya, aku langsung mengambil inisiatif beraksi. Tanpa ragu, tubuhku bergerak gesit mengecoh lawan, melayangkan sebuah tinjuan telak ke rahang preman terdekat, disusul dengan tendangan memutar yang kuat hingga membuat senjatanya terlepas.
Bugh! Duakh!
Melihat pergerakanku, Nonem dan Haqi tidak tinggal diam. Mereka langsung merangsek maju, ikut menghajar sisa komplotan preman itu dengan kombinasi pukulan yang brutal dan taktis.
"Ilma?! Sejak kapan lo bisa bela diri?!" seru Haqi di sela-sela baku hantam.
Semua orang di sana—termasuk Haqi yang notabene adalah pelindungku sejak kecil—dibuat syok setengah mati melihat gerakanku yang begitu bersih.
Aku memutar tubuh, bersiap memasang kuda-kuda baru. "Beberapa hari lalu, gue diam-diam belajar olahraga Muay Thai dari Clafia!" jawabku lantang.
Dalam hitungan menit, sebagian besar preman jalanan itu sudah jatuh tersungkur di atas tanah, mengerang kesakitan. Kini, hanya tersisa satu orang saja—sang bos komplotan yang bertubuh paling besar.
Aku menurunkan tanganku, lalu menoleh ke arah Haqi sambil mengibaskan jemariku pelan. "Haqi, nanti tangan gue kotor. Bagian yang terakhir ini... adalah tugas lo, Kesatria Imperium."
Mendengar frasa lambang 'Kesatria Imperium' yang kuangkat kembali dari memori bawah sadar, semangat di dalam dada Haqi langsung membuncah hebat. Matanya berbinar tajam penuh determinasi tinggi.
"Hiyaaaaatt!!"
Dengan satu lompatan kuat dan pukulan lurus yang presisi berkecepatan tinggi, Haqi menghantam telak dada sang bos preman hingga pria besar itu terpelanting ke belakang dan lari kocar-kacir menyelamatkan diri bersama anak buahnya yang tersisa.
Setelah area gang kembali sepi dan aman, aku berjalan perlahan mendekati Nonem yang masih mengatur napasnya yang memburu.
"Lo muak dipanggil dengan nama asli lo, kan?" tanyaku pelan, memecah keheningan. "Karena setiap kali nama asli itu disebut oleh orang-orang, itu selalu mengingatkan lo pada kenyataan pahit bahwa lo sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Akui... kalau lo sebenarnya rindu dipanggil dengan nama lo yang dulu... sebelum lo memilih untuk menjadi iblis di jalanan... Hilal."
Nonem—atau Hilal—terbelalak sempurna. Tubuhnya menegang. "Lo... lo udah gak apa-apa manggil nama asli gue yang memalukan itu lagi, Il?"
Aku tersenyum tipis, lalu menggelengkan kepalaku dengan lembut. "Itu bukan nama yang memalukan, Lal. Itu adalah nama asli lo yang sangat berharga."
Aku kemudian membalikkan tubuh, menatap lekat-lekat ke arah Bilal yang masih tertunduk di sudut dinding. "Di mana gitar mungilmu, Bilal? Kenapa sekarang tangan kecilmu justru memegang besi dingin yang tajam ini?"
"Gitar nggak bikin kenyang, Kak," ucap Bilal, air matanya mulai luruh membasahi pipi. "Bang Nonem benar! Dunia yang kejam ini cuma buat orang-orang yang berani memegang pisau!"
"Lo boleh panggil gue Kak Hilal mulai sekarang, Bil! Dan sejak kapan... sejak kapan gue pernah ngajarin lo kalimat kayak gitu?!" protes Hilal dengan nada suara yang bergetar menahan perih.
Aku menatap Bilal lagi, menuntut jawaban jujur. "Bilal... sekali lagi aku tanya, di mana gitar mungilmu?"
Bilal perlahan menundukkan kepalanya, seluruh keberanian buatannya menguap, menyisakan suara yang nyaris hilang di telan angin sore. "Udah dipatahin sama Kak Hilal, Kak... Katanya... tanganku jauh lebih cocok memegang besi daripada memegang kayu gitar."
Mendengar pengakuan itu, aku memutar tubuhku menghadap Hilal. Cowok itu kini menunduk dalam-dalam, tidak berani membalas tatapan mataku.
"Lo sengaja mematahkan gitar itu karena lo muak mendengar suaranya, kan, Hilal?" ujarku dengan nada yang menguliti hatinya kembali. "Karena setiap kali Bilal memetik senar gitar itu, suaranya selalu mengingatkan lo pada semua mimpi-mimpi lo sendiri yang telah gagal di masa lalu. Lo ingin Bilal menjadi iblis, supaya lo punya teman di dalam neraka jalanan ini. Lo muak melihat wajah polosnya... karena di wajah anak itu, lo dipaksa melihat satu-satunya bagian dari hati lo yang sebenarnya masih ingin menjadi orang baik."
Mendengar kebenaran yang telanjang itu, benteng terakhir Hilal hancur seutuhnya. Sang presiden kelas itu berbisik parau penuh penyesalan yang mendalam.
"...Gue minta maaf, Bil. Gue minta maaf."