"Gue tahu lo mandiri, Il. Tapi inget, jangan dipikul sendirian. Lo punya gue yang bisa lo repotin setiap saat dan kapan pun," ucap Haqi pelan, menepuk pucuk kepalaku sesaat sebelum kami terpisah di depan barisan armada bus.
Ya, takdir perjalanan ini memaksa kami untuk berbeda bus. Pihak sekolah sengaja mengacak tempat duduk lintas jurusan demi keakraban, dan di sinilah aku berakhir: duduk di kursi tengah Bus 3, tepat di sebelah Riri—siswi kelas Bahasa dengan kondisi Autism Spectrum Disorder (ASD) tingkat sedang.
Perjalanan ini resmi menjadi ladang ujian kesabaranku. Tubuh Riri yang sedikit gemuk memilih posisi di dekat jendela. Masalahnya, setiap kali dia ingin keluar ke toilet, dia harus merangsek melewati tubuh mungilku dengan canggung. Sepanjang jalur tol, tangannya tidak berhenti membuka berbagai macam makanan ringan. Jajannya tumpah-ruah di sekitar kursi, menempel di seragamku, dan puncaknya adalah ketika kepalanya tiba-tiba terkulai dan tertidur pulas di bahuku.
Belum lagi soal panggilan 'sayang' darinya yang salah sasaran.
"Ilman, gak apa-apa? Ririn kasih kripik ini," ucapnya dengan artikulasi khasnya, menyodorkan sebungkus keripik yang sudah remuk. Dia menyebut dirinya Ririn, dan entah korsleting dari mana, dia bersikeras memanggilku 'Ilman'.
Aku mengembuskan napas panjang, mencoba tersenyum selembut mungkin. "Enggak, makasih Riri. Btw, nama gue Ilma."
"Ok, Ilman," sahutnya polos lalu kembali mengunyah. Aku hanya bisa mengelus dada di balik hijabku.
Saat bus berhenti di rest area tempat makan untuk istirahat setengah perjalanan, aku mengira bisa bernapas lega. Namun, baru saja aku menuntun Riri turun, sosok Krisbil—sang Bapak Rival—sudah berdiri di dekat pembatas jalan. Senyum tebar pesonanya kembali setelah sekian lama absen akibat drama Zuro.
"Eh, Bapak Rival. Apa kabar nih?" sapaku dengan nada yang sengaja dibuat sedatar mungkin.
Entah kenapa, suasana hatiku sedang malas meladeni konfrontasi tak penting dengannya. Aku bahkan sama sekali tidak berminat menanyakan soal penyamarannya menjadi om-om misterius yang menyelamatkan Nina. Saat ini, kepalaku terlalu penuh dengan bayangan judul tinta merah “Haqi's Death Black List” yang kulihat semalam. Tapi, jauh dari semua itu, keinginanku cuma satu—menikmati liburan ini dengan tenang.
Sesampainya di destinasi study tour, ujian dari Riri belum juga usai. Dia tetap menempel padaku seperti perangko. Meski begitu, keadaan sedikit terselamatkan karena Haqi beberapa kali sengaja memotong barisan rombongannya untuk mendekatiku, mencoba mencari celah agar kami bisa menikmati quality time berdua.
Aku bisa melihat dari gerak-gerik Haqi; dia seperti ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting—mungkin soal buku saku itu, atau soal perasaannya setelah kepergian Abi. Namun, setiap kali Haqi baru membuka mulut, Riri tiba-tiba muncul menyenggol lenganku, atau Krisbil mendadak ikut nimbrung memecah fokus kami. Ditambah lagi, takdir cuaca sama sekali tidak mendukung. Hujan deras tiba-tiba mengguyur lokasi wisata, memaksa rombongan bubar dan berlarian mencari tempat berteduh. Misi Haqi untuk bicara empat mata denganku gagal total akibat intervensi semesta.
Untungnya, dewi fortuna masih berpihak padaku dalam urusan pembagian kamar hotel. Aku tidak sekamar dengan Riri, melainkan mendapat kelompok berempat bersama Nina, Sahna, dan Clafia.
"Wah, ada yang sekalian pulang kampung nih!" seruku riang begitu kami melempar tas ke atas kasur.
Ternyata, kota tempat kami study tour ini adalah daerah asal rumah lama Clafia. Karena statusnya sebagai 'putri daerah', Clafia memiliki banyak koneksi lokal. Dia tahu persis di mana toko oleh-oleh terbaik yang menyediakan barang berkualitas dengan harga miring, jauh dari jangkauan harga turis normal.
Malam itu, suasana kamar kami berubah menjadi sangat hangat. Aku merasa jauh lebih dekat dengan Sahna dan Clafia. Di sela-sela obrolan, Clafia membuka sisi rapuhnya. Dia bercerita bahwa di masa lalu, dia sering menjadi korban perlakuan cowok-cowok brengsek, dan alasan utamanya belajar bela diri Muay Thai adalah untuk melindungi dirinya sendiri.
"Sini, gue ajarin trik instan kalau kalian dihadang penjahat di jalan," ucap Clafia, langsung memperagakan gerakan mengunci sendi di depan kasur.
Kami menghabiskan malam dengan menonton film bersama, mengunyah cemilan, hingga melakukan pesta bantal yang heboh. Tak lupa, kami juga menyusun strategi asmara untuk membantu Clafia mengejar Gopur. Sejujurnya, aku sudah muak setengah mati mendengar nama itu, tapi melihat ketulusan Clafia yang ingin menyelamatkan cowok itu dari pengaruh sekre-nya yang bermuka dua, aku dan Nina akhirnya luluh dan setuju untuk membantu menjadi makcomblang.
Walaupun ya... dalam beberapa hari ke depan, rencana comblang kami tetap saja berakhir gagal total di setiap destinasi wisata akibat kepolosan Gopur yang luar biasa.
Hari-hari berikutnya di tempat wisata dipenuhi dengan kegilaan massal: momen tawar-menawar harga yang sengit dengan pedagang lokal, gangguan dari orang asing yang menyebalkan, kejadian kocak dikejar orang gila di dekat alun-alun, hingga momen takjub saat Clafia dengan percaya diri mempraktikkan bahasa Inggris-nya yang lancar kepada turis bule. Di tengah semua itu, Riri tetap sukses membuatku ketiban sial berkali-kali karena kecerobohannya, Krisbil gencar mendekatiku, dan Haqi yang malang selalu berakhir gigit jari karena gagal mendapatkan momen berdua denganku.
Hingga pada malam terakhir di hotel, saat Clafia dan Nina sudah tertidur lelap karena kelelahan, Sahna menduduki tepi kasurku. Wajahnya yang biasa tegas selaku fungsionaris OSIS kini tampak melunak.
"Il, ada yang mau gue ceritain ke lo," bisik Sahna pelan. "Sebenarnya... gue adalah mantan tunangan Krisbil."
Aku hampir saja tersedak air liur sendiri. "Hah?!"
Sahna tersenyum tipis, memberi isyarat agar aku mengecilkan suara. "Tenang, itu cuma bisnis keluarga. Kami akhirnya sepakat jadi sahabat karena murni gak punya perasaan satu sama lain. Selama ini gue bantu dia dari masalah pelik keluarganya. Kami berdua berasal dari LAN, Il... dan kami terpaksa kabur ke SMANSA untuk cari penyamaran identitas."
Aku tertegun. Dan, sebuah fakta unik bahwa Clafia sama sekali tidak tahu identitas asli Sahna dan Krisbil; dia murni membantu mereka karena solidaritas persahabatan Trio OSIS yang kuat.
"Zuro juga berasal dari LAN," lanjut Sahna lagi, matanya menerawang. "Tujuan dia ke sekolah ini dari awal adalah untuk membongkar identitas gue dan Krisbil ke publik. Tapi ada satu hal lagi yang bikin gue respect sama lo, Ilma."
Sahna menatapku dalam-dalam. "Gue lihat lo baik banget ya sama Riri, walaupun dia sering bikin lo kesulitan dan sial sepanjang perjalanan."
"Eh? Oh... i-iya, lagian dia gak sengaja, kan?" jawabku canggung.
"Terima kasih ya," ucap Sahna tulus. "Riri itu... dia juga anak dari salah satu keluarga kaya yang bekerja sama di bawah naungan LAN Group. Tapi karena kekurangannya, dia diasingkan oleh keluarganya sendiri. SMANSA menerima dia murni karena kecerdasannya yang luar biasa di bidang bahasa."
Aku terdiam, otakku mencoba mencerna konspirasi ini. Kenapa Sahna membocorkan rahasia besar ini padaku? Dan kenapa dia berterima kasih atas kebaikanku pada Riri? Apakah hanya karena mereka sama-sama dari lingkup elit LAN Group, maka mereka saling menunjukkan empati tak kasat mata di sekolah ini?
"Gue ada pertanyaan, Sahna," bisikku penasaran. "Alasan Zuro mau membongkar identitas kalian itu apa? Dan... sekarang dia di mana?"
Sahna menggelengkan kepala lemah. "Gue gak bisa jawab soal itu, Il. Yang penting dia aman sekarang. Tenang aja.”
Lalu aku beralih pertanyaan lain soal Krisbil. “Begitu juga soal Krisbil... gue gak tahu menahu. Krisbil punya rahasia dan rencananya sendiri yang gak pernah dia bagi ke siapa pun, bahkan ke gue sekalipun."
***
Hari ini adalah agenda wajib sebelum ke destinasi wisata terakhir: berburu buah tangan di pusat grosir oleh-oleh yang super padat. Mengingat fakta-fakta gila yang baru kudengar dari Sahna semalam, aku memutuskan untuk memasang radar kewaspadaan penuh. Target utamaku hari ini adalah satu: menghindari Krisbil dalam radius berapa pun.
Aku sengaja memisahkan diri dari kerumunan, berjalan memutar melewati rak-rak besar berisi jajaran kripik tempe dan bakpia. Setiap kali melihat siluet rambut Krisbil dari kejauhan, aku langsung membalikkan badan secepat kilat, bersembunyi di balik punggung pengunjung lain atau berpura-pura sibuk membaca label kedaluwarsa stoples bumbu.
Aksi kucing-kucingan ini berjalan mulus selama tiga puluh menit, hingga aku tiba di lorong sempit bagian gantungan kunci dan kerajinan tangan kayu.
Aman, batinku lega saat melihat situasi sekitar sepi.
Aku melangkah maju dengan tergesa-gesa tanpa melihat ke depan, berniat segera menuju kasir. Namun tepat di belokan rak sudut yang tajam—
BRUK!
Tubuh mungilku menabrak keras dada seseorang hingga beberapa kotak oleh-oleh yang kupegang terlepas dari tangan.
"Aduh..." gumamku sambil memegangi dahi.
"Gak apa-apa?" Sebuah suara bariton yang terlampau familier terdengar dari atas kepalaku, disusul dengan sepasang tangan yang dengan cekatan menahan kedua pundakku agar tidak jatuh terjungkal ke lantai.
Aku mendongak, dan sedetik kemudian aku langsung merutuki kesialanku hari ini di dalam hati. Di hadapanku, Krisbil sedang berdiri tegak dengan senyuman tipisnya yang menyebalkan, menatapku lurus dari balik jarak yang terlampau dekat.
"Nyari gue sampai segitunya ya, Aklima?" tanyanya dengan nada menggoda, membuat pertahananku hampir runtuh.
***
Di sebuah kompleks candi batu tua, mendadak disergap mendung tebal tepat saat rombongan SMANSA bersiap menuju bus. Langit yang tadinya benderang, runtuh menjadi rintik hujan yang deras dalam hitungan menit. Di tengah kepanikan anak-anak yang berlarian mencari tempat berteduh, aku terpisah dari Nina, Sahna, dan Clafia. Langkah kakiku membawa diri masuk ke dalam salah satu lorong batu purbakala yang beratap—sebuah lorong sunyi yang memisahkan area pelataran luar dengan bagian dalam candi.
Di sana, dalam remang aroma tanah basah dan gemercik air yang jatuh dari sela-sela batu, aku tidak sendirian.
Krisbil berdiri di sana, menyandarkan punggungnya pada pilar batu besar. Jas OSIS-nya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung sebatas siku. Dia tidak tersenyum menyebalkan seperti biasanya di toko oleh-oleh. Sorot matanya yang menatap rintik hujan tampak begitu lelah, namun mendadak menajam begitu menyadari kehadiranku.
"Kucing-kucingannya selesai, Aklima," ucap Krisbil pelan, suaranya bergema rendah di lorong batu.
Aku menggosok pucuk hidungku yang gatal sembari mendengus kasar. "Gue gak lagi main-main, Kris. Lagian, buat apa gue nyari lo?"
Krisbil melangkah mendekat, mengikis jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma samar parfum maskulinnya yang bercampur dengan dinginnya udara hujan. Dia berhenti tepat dua langkah di depanku. Untuk pertama kalinya, tidak ada topeng bapak rival, tidak ada sarkasme.
"Gue tahu lo tahu, Il. Soal Nina. Soal penyamaran gue," bisik Krisbil, matanya mengunci manik mataku dengan intensitas yang membuat dadaku sesak. "Gue gak minta lo paham rumitnya dunia LAN Group. Tapi gue mau lo tahu satu hal... semua yang gue lakuin, termasuk menjaga orang-orang di sekitar lo, itu karena lo."