Di tengah kebimbangan yang terus berputar soal undangan reuni GPS, langkah kakiku dan Haqi membawa kami menaiki anak tangga menuju lantai teratas gedung sayap kanan SMANSA. Benteng pertama kami di sekolah ini—walau suara gemericik air yang konstan dari tangki penampungan besar di sudut dak beton itu biasanya dapat langsung memicu trauma masa kecil Haqi.
Namun sore ini, cowok itu melangkah dengan dagu tegak. Dia berdiri di sisi pembatas tanpa ada lagi gurat ketakutan di wajahnya. Proses kedewasaan dan duka yang dilewatinya belakangan ini tampaknya telah mengikis habis sisa-sisa fobianya terhadap bunyi air.
Aku bersandar pada pagar pembatas, memandangi layar ponsel yang masih menampilkan ruang obrolan reuni GPS. Di sampingku, Haqi tampak tidak fokus pada pemandangan lapangan sekolah. Dari gerak-gerik tubuhnya dan jarinya yang terus mengetuk pagar besi, aku tahu dia sedang menimbang-nimbang sesuatu yang sangat berat untuk dibicarakan denganku.
Daripada atmosfer di antara kami berubah menjadi canggung dan kepalaku makin pusing memikirkan masa lalu, aku memutuskan untuk memecah keheningan dengan sebuah permainan kecil.
"Qi," panggilku, membuat pergerakan jarinya terhenti. "Yuk, kita pejamkan mata sejenak."
Haqi menoleh, menatapku bingung dari balik tudung jaketnya. "Hah? Ngapain?"
"Udah, ikutin aja," ujarku sambil memutar tubuh menghadap ke depan. "Gedung tengah yang berdiri megah di hadapan kita sekarang... anggap itu sebagai gerbang masa depan kita setelah lulus dari Universitas Rodensia nanti."
Haqi tersenyum tipis, akhirnya menuruti permintaanku. "Oke. Terus?"
"Gue bakal hitung sampai tiga, terus kita merem bareng-bareng," instruksiku. "Satu... dua... tiga."
Kami berdua serentak memejamkan mata.
Seketika itu juga, dunia visual di sekitar kami lenyap. Di atas ketinggian gedung sayap kanan ini, kami tenggelam dalam keheningan sore yang magis. Hanya ada embusan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah, suara sayup-sayup kendaraan dari luar pagar sekolah, dan yang paling nyata... kenyaringan hembusan napas kami berdua yang saling bersahutan secara teratur. Dalam kegelapan batin itu, aku melepaskan semua beban tentang LAN Group, misteri masa depan, hingga keraguan soal masa lalu.
Setelah beberapa detik membiarkan ketenangan itu meresap, aku kembali bersuara. "Sekarang... hitungan ketiga, buka mata lo. Satu... dua... tiga."
Aku dan Haqi membuka kelopak mata kami secara perlahan, membiarkan cahaya sore kembali masuk ke dalam kornea. Kami langsung melemparkan pandangan lurus ke arah balkon lantai teratas gedung utama SMANSA yang berada tepat di seberang posisi kami.
Jantungku mendadak melewatkan satu detakan besar. Tubuhku tercekat seketika, dan napas yang baru saja kuembuskan terasa tertahan di ujung tenggorokan.
Tepat di seberang sana, di pembatas balkon gedung utama, sosok Krisbil sedang berdiri tegak seorang diri.
Angin sore menerbangkan ujung rambutnya yang rapi. Dia tidak sedang memakai seragam OSIS-nya, melainkan kemeja putih kasual yang mencolok di tengah remang sore. Jarak di antara gedung kami memang terpisahkan oleh halaman tengah yang luas, namun sorot matanya yang tajam dan intens terasa menembus ruang, terkunci lurus tanpa beralih sedikit pun tepat ke arah posisiku yang sedang berdiri berdampingan dengan Haqi.
Di tangan kanannya, dia tampak memutar-mutar sebuah benda bulat pipih yang memantulkan sisa cahaya matahari senja—cermin lipat metalic yang sengaja dia tunjukkan sebagai sebuah pesan tak kasat mata.
"Il..." suara Haqi mendadak berubah menjadi sangat rendah dan dingin di sampingku, merasakan perubahan drastis dari atmosfer permainanku. Cengkeraman tangannya pada pagar pembatas besi kembali mengeras saat matanya ikut menemukan objek yang sama di seberang gedung.
Gerbang masa depan yang baru saja kubayangkan secara romantis bersama tamengku, mendadak langsung dihadang oleh realitas bahwa sang rival misteriusku itu telah berdiri di sana, siap menjadi labirin terbesar yang harus kupecahkan sebelum melangkah keluar dari SMANSA.
***
Setelah menimbang-nimbang keputusan yang melelahkan di antara tumpukan latihan soal, aku akhirnya memantapkan hati untuk datang memenuhi undangan reuni GPS. Langkah kakiku kembali memijak area rumah hidroponik—sebuah tempat yang dulu menjadi saksi bisu berdiri kokoh cewek tangguh hidroponik ini sebelum badai konflik memecah belah hubunganku dengan komunitas lingkungan kesayangan SMANSA.
Begitu melewati pintu masuk, sosok Gopur langsung muncul dan menyambut kedatanganku dengan senyuman yang sangat ramah, sebuah ekspresi yang sudah lama tidak kulihat darinya setelah hubungan kami merenggang. Namun, atmosfer hangat itu seketika mendingin dalam hitungan detik. Di samping kiriku, Haqi yang menemaniku sejak berangkat langsung melempar tatapan mata yang teramat tajam dan menusuk lurus ke arah Gopur.
Haqi berdiri layaknya tameng hidup yang siap siaga menghadapi ancaman. Mendapat intimidasi visual yang begitu pekat dari cowok calon insinyur penerbangan itu, nyali Gopur langsung ciut seketika. Senyum ramahnya berubah menjadi senyum kikuk yang dipaksakan, dan dia perlahan mundur satu langkah demi memberi jarak aman dari jangkauan Haqi.
Sejujurnya, aku sudah tidak peduli lagi dengan rangkaian formalitas atau apa pun agenda inti dari acara reuni GPS ini. Fokus utamaku murni untuk bersenang-senang dan menikmati keindahan rumah hidroponik untuk yang terakhir kalinya sebelum kami semua lulus. Aku berjalan menyusuri barisan pipa PVC, menyentuh dedaunan hijau selada yang segar, dan menghirup aroma air nutrisi yang khas—menikmati ketenangan personal di tengah riuh rendah suara anak-anak lain di latar belakang.
Setelah sesi pembukaan reuni yang berlangsung cukup serius dan kaku selesai, atmosfer di sekitar rumah hidroponik perlahan mencair menjadi lebih santai. Anak-anak mulai sibuk membakar jagung dan mengobrol dalam kelompok-kelompok kecil. Di saat itulah, Gopur berjalan perlahan menghampiri tempatku berdiri yang sedang mengamati instalasi semaian baru.
"Il..." panggil Gopur pelan, suaranya terdengar tulus tanpa ada nada permusuhan lagi. Aku menoleh, sementara Haqi yang berdiri tak jauh dari sana langsung memasang mode waspada.
Gopur menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapanku. "Gue... gue mau minta maaf atas semua kesalahan dan ego gue di masa lalu yang sempat ngerusak GPS dan bikin lo susah."
Aku menatapnya sejenak, lalu mengembuskan napas panjang. Sebelum aku sempat membalas kalimatnya, Gopur mendongak dan membagikan sebuah berita terbaru yang sama sekali tidak kusangka-sangka.
"Dan... lewat momen ini gue juga mau cerita, Il. Gue sama Clafia... sekarang udah barengan," ucap Gopur dengan binar mata yang tampak jauh lebih tenang dan sehat dari sebelumnya. "Clafia yang udah berhasil nyelametin gue dari masa-masa hancur kemarin."
Mendengar pengakuan itu, rasa cemas yang selama ini sempat menggelayuti sudut hatiku mengenai nasib hubungan lingkaran pertemanan lama kami seketika menguap, digantikan oleh perasaan sedikit lega. Clafia, dengan segala ketegaran di balik kepribadiannya, rupanya mampu menjadi jangkar pelindung yang membawa Gopur keluar dari kegelapan masa lalunya.
Namun, kedamaian di sudut instalasi hidroponik itu tidak bertahan lama. Di tengah obrolan santai kami yang mulai membaik, tiba-tiba sosok si cewek genit—Bu Ben, mantan sekretaris Gopur yang sejak dulu suka mencari perhatian dan merusak suasana itu—melangkah mendekat dengan gaya centilnya yang memuakkan, siap meluncurkan kalimat-kalimat sindiran yang bisa merusak ketenangan reuni kali ini.
Sebelum cewek itu sempat membuka mulutnya untuk memprovokasi atau memecah kedamaian kami, Gopur dengan sigap langsung memotong langkahnya.
"Bisa diam gak? Jangan mulai ngerusak suasana tenang di sini," tegur Gopur dengan nada suara yang tegas dan dingin, langsung menusuk ego si cewek genit hingga membuatnya mati kutu di tempat.
Aku dan Haqi saling bertukar pandang sejenak melihat perubahan drastis pada sikap Gopur. Hari ini, di rumah hidroponik ini, sebuah babak dari masa lalu resmi menutup lembarannya dengan damai, membiarkan kami melangkah maju tanpa ada lagi dendam yang tersisa.
***
Pagi itu, koridor kelas 12 SMANSA dilingkupi aroma kecemasan yang pekat. Lembar-lembar jadwal ujian nasional dan simulasi UTBK tertempel di mading, memaksa setiap orang untuk berjalan tergesa-gesa. Di depan barisan loker besi abu-abu yang catnya sudah mengelupas di beberapa sudut, aku berdiri memasukkan beberapa diktat tebal sosiologi dan sejilid buku latihan soal Astronomi ke dalam tasku.
Haqi berada di sampingku. Cowok itu sedang merapikan beberapa perkakas gambarnya—beberapa jangka, penggaris segitiga, dan buku sketsa arsitektur yang selalu dibawanya belakangan ini. Wajahnya tampak tenang, terlalu tenang untuk seorang remaja yang beberapa minggu lagi akan mempertaruhkan seluruh masa depannya di lembar ujian digital.
Aku menoleh, membetulkan letak hijabku yang agak miring, lalu menyenggol lengannya dengan pelan. Sebuah keyakinan membuncah di dalam dadaku, sebuah takdir yang sudah kurancang matang-matang di dalam kepala sejak malam kami membahas pilihan kampus di rumahnya.
"Qi," panggilku, membuat pergerakan tangannya yang sedang mengancingkan tas terhenti. "Gue ramal, gue akan ketemu lo di Universitas Rodensia nanti. Mau lo ambil Teknik Penerbangan atau Arsitektur, dan mau gue berakhir di Komunikasi atau Jurnalistik... kita bakal tetap jalan di koridor kampus yang sama. Lo gak bakal bisa kabur dari gue."
Aku tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi atas dengan penuh percaya diri. Aku mengharapkan Haqi akan membalas kalimat itu dengan kekehan sarkasnya yang khas, atau setidaknya membalas dengan pukulan pelan di pucuk kepalaku seperti yang biasa dia lakukan sejak kami berusia tujuh tahun.
Namun, tanggapan Haqi justru di luar dugaan.
Cowok itu tidak tertawa. Dia hanya menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman tipis yang terasa amat pahit—sebuah senyuman kecut yang dipaksakan. Matanya tidak berani membalas tatapan mataku secara langsung; dia justru mengalihkan pandangannya ke dalam loker besinya yang gelap, seolah-olah ada rahasia besar yang sedang dia sembunyikan rapat-rapat di balik punggungnya.
"Gitu ya, Il?" gumamnya pelan, suaranya terdengar sangat rendah, hampir tenggelam oleh suara riuh anak-anak kelas lain yang berlarian di koridor. "Semoga ramalan lo kali ini akurat."
Dia langsung menutup pintu loker dengan bunyi klek yang nyaring, lalu berjalan mendahuluiku tanpa memberikan penjelasan apa pun. Aku berdiri terpaku di depan loker, menatap punggung tegap tamengku yang mendadak terasa begitu jauh dan penuh misteri. Ada sesuatu yang salah, sebuah potongan teka-teki yang sengaja dia simpan sendiri di dalam kegelapan.
***