“Lo… pura-pura lamar gue.”
Haqi tidak langsung menjawab. Tiba-tiba, sebuah hentakan kepalan tangan di tembok balkon tepat di samping kepalaku. Namun, sedetik kemudian, Haqi tampak tersentak oleh reaksinya sendiri. Ada rona penyesalan yang melintas cepat di wajahnya. Ia tidak bicara, tapi matanya berteriak: “Gue bukan marah sama lo. Gue cuma... Gue cuma benci fakta kalau mereka bikin lo sampai seputus asa ini.” Ia seolah ingin meruntuhkan dunia yang patriarkis itu dengan tangannya sendiri agar aku bisa bernapas lega lagi.
Ia membuang muka, menatap tajam ke arah kegelapan jalanan di bawah balkon, seolah sedang mengincar sosok-sosok yang terus-menerus membayangi rumahku dengan standar ganda mereka itu. Haqi kembali menatapku. Kali ini matanya tidak lagi berkilat tajam, melainkan meredup penuh kekhawatiran yang menyesakkan, seolah berkata: “Lo berharga buat gue. Jadi jangan pernah tawarin diri lo buat sandiwara apa pun hanya karena lo ngerasa terpojok. Bahkan buat gue sekalipun.”
Tiba-tiba, sebuah toelan jahil mendarat telak di pucuk hidungku. Mencoba menarikku kembali dari jurang kesedihan.
“Curut! Gue udah bukan anak TK lagi! Jangan noel-noel!” seruku sambil mengusap hidung.
Haqi santai, tapi matanya mulai sedikit rileks. “Lo sadar nggak sih, ide lo ini bakal bikin reputasi gue sebagai jomblo berkelas hancur seketika?”
Aku nyengir. Haqi menghela napas panjang sambil menyandarkan punggungnya ke tembok.
“Oke,” kata Haqi pendek. Aku tertegun. Ia setuju. “Tapi ada syaratnya,” lanjut Haqi serius. “Lo harus beresin semua kekacauan sandiwara ini. Deal? Termasuk ke Nisa.”
Mendengar nama itu, tawaku meredup. Ada rasa tidak enak yang menyelusup. Aku tahu Haqi dan Nisa dekat, dan ada rencana serius ke arah sana.
“Qi… soal Nisa,” suaraku melunak. “Gue beneran nggak enak sama dia. Gue nggak bermaksud jadi penghalang atau bikin hubungan kalian rumit. Gue cuma… bingung sama diri gue sendiri.”
Haqi menatapku sebentar, lalu mendengus pelan, berusaha mencairkan suasana. “Udah, santai aja. Nisa biar jadi urusan gue. Yang penting lo pegang janji lo.”
“Deal!”
***
Atmosfer ruang tamu terasa lebih padat dari biasanya. Di sisi ruangan, sebuah cermin besar dengan ukiran huruf E besar memantulkan bayangan simetris, menampilkan siluet simbol Double E yang samar namun magis.
Umi yang biasanya selalu antusias harus hadir di setiap acara pentingku, kali ini benar-benar datang karena "hasutan" halus Haqi. Entah bagaimana caranya, si ksatria gila itu berhasil membuat Umi bertamu tanpa tahu agenda besar hari ini. Ayah, Bunda, Keera, Nina, dan Ustazah Key sudah duduk dengan wajah penuh antisipasi yang tertahan.
Awalnya Umi masih belum sadar karena keasyikan mengobrol. Beliau bahkan sempat melontarkan candaan ringan, “Umi hanya main seperti biasa, kenapa pada tegang begitu? Suguhannya lengkap sekali, seperti akan ada tamu penting saja. Seperti kalau ada yang mau melamar atau taaruf dengan Ilma.”
Haqi hanya menyenggol lengan Umi pelan. Senyum di wajah cowok itu sulit diartikan.
“Umi, sudah tahu kan hari ini akan ada yang mau datang, bertaaruf sama Ilma?” tanya Ayah ramah, namun terselip nada heran. Sedari tadi Umi belum menunjukkan tanda-tanda mengetahui apa pun, tidak seperti biasanya ketika beliau bersiap menjadi saksi resmi.
“Loh, iya? Umi tidak diberi tahu Haqi. Siapa?” tanya Umi tulus.
Di tengah kebingungan itu, Haqi tiba-tiba berdehem. Suaranya berat, seketika memotong keriuhan kecil di ruangan tersebut.
“Sebelumnya maaf memotong, Umi, Ayah, dan Bunda. Haqi izin melamar Ilma. Haqi hanya menyampaikan niat yang sudah lama Haqi pendam.”
Deg. Ruangan itu seketika senyap.
Umi sempat tertawa kecil, menganggapnya sebagai lelucon rutin kami. “Haduh anak Umi, lelucon apalagi ini?” Umi menatap Haqi, mencari binar usil yang biasanya ada. “Kamu nggak serius, kan? Haqi, kamu ada-ada aja. Kamu dan Ilma kan sudah seperti saudara.”
“Haqi serius, Umi.”
Semua orang melongo. Keheningan yang mencekam langsung menyergap ruangan itu. Detak jarum jam di dinding terdengar begitu nyaring, seperti suara palu yang menghantam paku tepat di atas kepala kami. Bahkan cermin besar Double E di sisi ruangan itu seolah ikut membeku menjadi saksi. Umi yang tadi sedang memegang cangkir teh, tangannya mematung di udara. Ayah dan Bunda saling berpandangan dengan mata membulat sempurna.
“Haqi... kamu bicara apa?” suara Umi lirih, nyaris berbisik. Ada nada tidak percaya sekaligus syok yang amat sangat.
Namun, Haqi tidak menunduk. Ia menatap Ayah dengan sorot mata paling serius yang pernah kulihat seumur hidup. Tidak ada lagi binar jenaka yang biasanya ia tunjukkan saat menggodaku. Yang ada hanyalah ketegasan seorang lelaki yang sudah selesai dengan keraguannya.
“Haqi ingin menjaga Ilma dengan cara yang lebih benar, Yah. Bukan lagi sebagai ksatria di balik bayangan, atau sekadar teman masa kecil,” lanjut Haqi. Suaranya kini lebih stabil, memenuhi setiap sudut ruang tamu yang mendadak terasa sempit.
Nina yang duduk di samping Bunda secara refleks menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia menoleh ke arahku, mencoba mencari jawaban di wajah sahabatnya ini.
Sedangkan aku? Aku justru sedang tertawa dalam hati. Akting Haqi GILA! pikirku.
“Haqi…” Ayah akhirnya bersuara, nadanya berat dan penuh pertimbangan. “Ayah kira kamu membawa seseorang untuk Ilma. Ayah tidak menyangka... kalau 'seseorang' itu adalah kamu sendiri.”
Aku masih berusaha menahan tawa, tapi perlahan-lahan hawa keseriusan di ruangan ini membuat tengkukku merinding. Tatapan Haqi... kenapa tidak goyah sedikit pun? Dia tidak melirikku sama sekali untuk memberi kode sandiwara. Aku mulai ketakutan sendiri. Haqi nggak beneran serius, kan?
Umi perlahan meletakkan cangkirnya kembali ke tatakan dengan denting yang pelan. Matanya mulai berkaca-kaca, merasa benar-benar dijebak oleh putranya sendiri.
“Jadi ini alasan kamu memaksa Umi datang hari ini? Kamu ingin Umi jadi saksi keberanian kamu, atau saksi kegilaan kamu, Qi?”
Haqi menoleh sedikit ke arah Umi, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum yang terasa sangat pahit. “Dua-duanya, Mi. Haqi lelah melihat orang lain datang dan pergi mencoba mengambil tempat di samping Ilma, padahal Haqi yang paling tahu bagaimana cara menjaganya.”
Tunggu. Apa ini? Kalimat itu rasanya seperti hantaman ombak besar yang menghancurkan logikaku. Jantungku berdegup begitu kencang sampai telingaku berdenging. Aku mulai kehilangan kemampuan untuk membedakan mana sandiwara dan mana yang sungguhan.
Duniaku mendadak berputar. Aku teringat semua momen di mana Haqi menjagaku, melarangku melakukan hal bodoh, dan menjadi ksatria pelindung imperiumku. Pikiran itu menghantamku telak: Ternyata, selama ini Haqi tidak sedang menjagaku untuk orang lain. Haqi sedang menjagaku... untuk dirinya sendiri?
“Ilma,” panggil Haqi dengan tatapan yang tak bisa kuartikan.
Sedetik kemudian, tepat setelah Haqi melakukan manuver gila yang membuat jantungku nyaris copot, deru mesin mobil terdengar berhenti di depan rumah. Aku tersentak, mendadak ditarik kembali ke realitas. Rasa lega langsung merayapiku saat menyadari waktu kedatangan tamu yang asli sudah tiba.
Haqi menepati janjinya. Dia berjanji untuk selalu membangun benteng terakhir untukku, dan kali ini dia bersandiwara agar tamu taaruf hari ini merasa gentar dan mundur. Dia adalah The Last Gatekeeper-ku.
Tapi justru tepat saat itu, Haqi menoleh ke arah pintu dengan senyum miring yang aneh. Seolah dia sudah mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui.
“Assalamu’alaikum.”
Seorang Ustaz paruh baya melangkah masuk. Tepat saat itu, Haqi tiba-tiba berdiri dari duduknya.
“Sebelumnya maaf, saya hanya pura-pura melamar Ilma karena saya ingin mengamankan posisi seseorang yang lebih layak.”
Aku mematung. Apa maksudnya? Dia membongkar sandiwaranya secepat itu?
Haqi tertawa kecil. Suara beratnya yang tadi terdengar begitu sakral mendadak berubah kembali menjadi nada usil yang sangat kukenal.