Di salah satu sudut ruang multimedia SMANSA yang sudah sepi, sebuah kamera diletakkan di atas tripod. Sebuah kursi kosong bergantian diisi oleh orang-orang yang selama ini mengitari orbit hidup sang tokoh utama, Ilma. Ini bukan wawancara formal, melainkan sebuah rekaman jujur tentang bagaimana dunia luar mendefinisikan gadis kita dari sudut pandang mereka masing-masing.
1. Haqi (Haqi Tsabit Muhammad)
Yang pertama adalah Haqi, selaku sahabatnya sendiri yang udah kayak kembarannya Ilma. Keduanya emang udah kayak satu jiwa yang terbelah jadi dua raga. Kamera menyala. Stand by. Haqi duduk menyandar dengan gestur santai, satu tangannya memutar-mutar pulpen dengan sangat mahir. Sorot matanya lurus menatap lensa.
Author/Interviewer: "Halo Haqi. Menurut kamu, Ilma itu kayak gimana sih, kalau dari kacamatamu sendiri?"
Haqi : (Terdiam sejenak, menatap langit-langit ruangan sebelum kembali menatap kamera) "Ilma itu… enggak akan ada selesainya kalau ngomongin dia. Tapi dia juga enggak bisa digambarin cuma bermodal dua atau tiga kata doang." (Haqi jeda lagi, senyum tipisnya muncul) "Tapi, gue punya sebutan simpel untuk dia."
A/I : “Apa tuh?”
H : “5P.”
A/I : “Waduhh, kayak gimana tuh 5P.”
H : “Perhatian, Peduli, Peka, Perasa, Pengertian.”
A/I : (Tertarik, mencondongkan tubuh) "Wah, menarik banget nih. Apa kamu bisa ceritain, jelasin 5P itu, atau mungkin kasih contoh spesifiknya?"
H : (Menghentikan putaran pulpennya, menatap datar dengan ekspresi lempeng tanpa dosa) "Nggak. Gue lagi pengen nyebut dia 5P doang."
A/I : "Ouh... oke. Gitu doang?"
H : "Ya, gitu doang." (Haqi langsung berdiri, merapikan tasnya, dan melenggang keluar dari frame kamera begitu saja, menyisakan keheningan di studio).
2. Nina
Oke, sekarang kita lanjut ke Nina. Kamera fokus pada Nina. Dia tersenyum manis, namun gurat matanya memancarkan kedewasaan yang dalam setelah melewati badai di keluarganya.
Nina: "Bagi aku, Ilma itu seperti matahari yang terlalu terang menyinariku. Di saat duniaku gelap, sinarnya yang paling pertama datang. Tapi, dia juga seperti pot untukku." (Nina menepuk kedua lututnya perlahan).