FIRST LOVE NEVER TRULLY ENDS

hadi wiyono
Chapter #2

BAB 1 - MASA-MASA YANG LALU

“Raga ini terlalu baik untuk merasakan ketidakadilan

Namun ...

Jiwa ini terlalu rapuh untuk dipaksa kuat."


Aku teringat kala itu, masih terekam jelas kenangan indah dua bulan setelah kita go public tentang hubungan istimewa ini–aku dan Kak Dion. Hubungan kami sedang hangat-hangatnya. Bahkan lebih hangat dari sinar mentari pagi di musim panas, di negara empat musim. Kemana-mana kami selalu berdua. Berjalan di kampus. Pulang dari kampus. Hingga ujung gang di komplek rumahku. Saat itu aku sudah mendapat restu mamah kalau aku sudah memiliki kekasih. Seorang pemuda tampan yang menjadi senior mahasiswa di kampusku. Meskipun kita beda jurusan.

Dion namanya. Dion Aleyndra. Seorang mahasiswa tingkat akhir jurusan Teknik Komputer dengan segudang kegiatan yang menyita waktunya. Sebagai mahasiswa pecinta alam. Dia juga masuk dalam barisan Badan Eksekitif Mahasiswa sebagai Ketuanya.

Dion Aleyndra, mahasiswa berwajah tampan dengan kulit putihnya. Berhidung mancung dan bertinggi badan sekitar 180 cm. Berambut hitam pekat. Mahasiswa terkenal di kampus. Mahasiswa yang menjadi idaman bagi mahasiswi-mahasiswi untuk bisa menjadi bagian indah dalam rentetan hidupnya. Tidak sedikit mahasiswi-mahasiswi itu berlaku banyak cara untuk memenjara perhatiannya. Tetapi Dion tetaplah Dion. Pria muda yang tidak mudah terpengaruh begitu saja dengan tingkah aneh–cenderung konyol, dari cewek-cewek di kampusnya. Dion menanggapinya biasa saja. Terkesan dingin. Hingga menimbulkan gosip tidak manusiawi. Dia dianggap penyuka sejenis. Karena sejak menjadi mahasiswa di kampus ini, Dion tidak pernah terlihat menggandeng seorang gadis. Atau mahasiswi. Dia terlalu asik dengan dunianya, hingga melupakan kesenangan pribadinya.

Walaupun Dion adalah mahasiswa pecinta alam tapi gayanya tidak seperti kebanyakan mahasiswa pecinta alam dengan rambutnya yang gondrong natural. Bergelombang tak beraturan. Dicat warna cokelat terang. Dion berpenampilan sangat berbeda. Uppercut selalu menjadi pilihan untuk memangkas rambutnya setiap kali sudah tidak bisa diajak kerja sama. Rambutnya yang tebal, menjadikan cuttingan uppercut sangat cocok untuknya. Inilah yang mencuri hati para mahasiswi. Dion telah menjelma menjadi idola di kampus dengan identitas jaket almamaternya yang sangat keren menutup dadanya yang bidang.

Namun dari sekian banyak mahasiswi yang mengaguminya. Dion hanya tertarik dengan seorang mahasiswi yang cuek kala melihatnya. Mahasisiwi cantik yang awalnya tidak tertarik sama sekali dengannya. Mahasiswi berwajah kalem yang hanya fokus dengan perkuliahannya. Tapi dengan pendekatan yang masif, akhirnya mahasiswi cantik itu bertekuk lutut dengan rayuan-rayuan mautnya. Dan mahasiswi cantik itu adalah aku.

Amara Renata.

Aku seorang mahasiswi Fakultas Psikologi. Aku berkulit putih bak batu pualam terbaik dari tanah Sulawesi–menurut teman-teman kampusku, dan emak-emak dekat rumah yang bermulut julid. Tidak semua. Tapi sebagian besar seperti itu. Apalagi kalau mereka sedang berkumpul dengan ras yang sama. Bisa di tempat arisan. Atau di perkumpulan pengajian. Kalau jiwa julidnya sudah keluar, semua akan dihantam dengan lidahnya yang lentur. Racun-racun mematikan akan keluar meluncur tiada penghalang. Kalau sudah sampai di level ini. Tandanya emak-emak itu sudah lulus uji klinis dan kelayakan.

Aku adalah anak satu-satunya. Hidup hanya bersama mamahku yang menjadi sosok pahlawan luar biasa, menjadi single parent sejak papahku pergi dan tak akan kembali lagi. Tepatnya ketika aku masih duduk di bangku kelas tiga SMA.

Aku ingat kejadian yang membuatku berlarut-larut hidup dalam kesedihan. Patah hati tersakit sapanjang napasku. Saat itu, ketika aku pulang dari sekolah. Jam setengah enam sore sekitar dua puluh menit menuju perpindahan mentari ke bumi bagian utara. Aku melihat bendera kuning di jalan, di tiang listrik hitam. Aku yang berjalan bersama dua temanku–Rini dan Maya, tidak begitu memperhatikan keberadaan bendera kuning tersebut. Kami terlena dengan canda yang mengalir layaknya remaja pada umumnya. Lalu kami berpisah di depan portal komplek rumahku. Saat itu, perasaanku mulai tak enak. Firasatku mengalirkan tanda ke dalam pikiranku kalau telah terjadi sesuatu di rumah. Kulihat beberapa orang berlalu lalang berombongan. Yang wanita menggunakan kerudung. Yang pria, ada yang mengenakan baju koko atau pakaian untuk salat. Mereka menuju satu tempat. Atau dari satu tempat yang sama.

Perasaanku semakin tidak nyaman. Aku memanjangkan langkahku. Sedikit berlari. Kulihat semakin banyak bendera kuning terpasang. Dan di depan rumahku telah berdiri tenda. Banyak kursi plastik berjajar rapih. Sebagian di duduki oleh beberapa orang. Bertanya-tanya dalam hati. siapa yang meninggal. Aku sempat berdiri membeku.

Ngefreeze.

Tak tahu harus bereaksi apa.

Mendadak aku tersadar setelah seseorang menepuk lembut bahuku. Aku menoleh. Memastikan siapa orang yang berdiri di belakangku. Aku lihat bu RT berdiri dengan senyum getirnya. Canggung menyambutku. Ku lihat beberapa orang yang duduk menatap kami iba. Wajah-wajah mereka menunjukkan kesedihan tanda ikut kehilangan.

“Saya turut berduka cita ya, Amara.” Suaranya menenangkan tetapi justru membuatku terhenyak. Aku sempat memandang wajah bu RT beberapa detik. Lalu aku berlari masuk ke dalam. Sepatu yang kupakai lupa kulepaskan. Aku belum tahu siapa yang dimaksud bu RT. Wajah panik tak dapat kusembunyikan ketika aku melihat sesosok terbaring di ruang tamu tertutupi kain batik. Aku melihat beberapa orang tengah membacakan ayat-ayat suci. Beberapa lagi berbincang dengan suara berbisik. Lalu pandanganku langsung tertuju ke mamah, yang duduk di dekat wajah dari sesosok tanpa jiwa di depannya.

“Mah ...” Aku tak sanggup meneruskan. Kulihat seonggok jasad melintang kaku. Lalu aku membuka penutup wajahnya. Papah. Aku terpaku. Ternyata yanng mangkat itu papah. Kutatap wajah mamah sesaat sebelum akhirnya kupeluk tubuhnya. Tubuh seorang wanita yang setiap harinya kukenal tangguh, sekarang terduduk lemas tak berdaya. Tangan mamah berkali-kali mengelap curahan air di pipi dengan kerudung hitam bermotif bunga mawar yang dikenakannya. Aku menenangkannya. Mencium pipinya. Dan kembali memeluknya. Aku mencoba tegar walaupun hati ini hancur sehancur-hancurnya. Bagaimana tidak. Cinta pertamaku pergi untuk selamanya. Tanpa berkata sepatah katapun padaku. Tanpa tanda-tanda yang biasanya dirasakan oleh orang terdekat. Kepergian yang mendadak ini yang membuat kami kehilangan sosok panutan keluarga kecil ini.

Mamah tak berhenti menangis dipelukanku. Air matanya membasahi seragam putih abu-abu yang kukenakan. Aku berusaha menghibur mamah. Aku tidak mau ikut larut dalam kesedihan. Hanya aku yang dipunyai mamah saat ini –karena aku anak tunggal. Aku tidak mau menambah beban mamah yang perasaannya sedang kalut tak menentu. Kalau aku tidak berpikiran jernih, aku harus mengandalkan siapa. Sama halnya denganku, mamah adalah anak tunggal. Kedua orang tuanya sudah tiada berbelas tahun lalu, ketika aku masih kecil. Sementara papah, sudah putus hubungan dengan keluarga besarnya setelah menikahi mamah. Keluarganya tak setuju kalau papah menikah dengan mamah. Yang aku dengar dari mamah sendiri, karena perbedaan suku diantara kedua orang tuaku sebelum menikah. Dan papah meminta izin pada keluarganya untuk tetap menikahi mamah. Berbagai penolakan diterimanya. Termasuk pencoretan dari daftar nama keluarga besarnya. Tapi papah tetap teguh dengan pendiriannya. Papah tetap menikahi mamah. Cintanya bertahan hingga hari ini, tak berubah sedikit pun pada mamahku. Makanya, aku menyebutnya sebagai sosok panutan.

Tubuh lemas mamah masih bersandar di lenganku.

Azan magrib terdengar di mesjid yang tidak jauh dari rumah kami. Beberapa orang laki-laki berpamitan sejenak untuk salat berjamaah. Sebagian orang yang duduk di dalam juga berpamitan. Hanya menyisakan lima orang saja yang menemani kami.

Aku izin sebentar pada mamah. Memberesi kursi-kursi plastik yang tadi diletakkan berjajar di depan rumah.

Aku menatap jauh ke atas.

Warna jingga di ujung langit menandakan kesedihanku yang teramat sangat. Jingga yang seharusnya menjadi pemandangan indah mempesona, menjadi mistis menyedihkan pembawa berita kematian.

Aku merasakan hancur berkeping-keping. Inilah senja pertama yang kunikmati dalam kesedihan. Semoga menjadi senja terakhir yang berwarna kelabu di hidupku. Tak sengaja buliran air mata jatuh di pipi. Aku cepat menghapusnya. Aku tidak ingin mamah melihatku menangis. Aku harus menjelma menjadi anak yang kuat, karena akulah satu-satunya tumpuan mamah. Menjadi anak yang bisa diandalkan dalam urusan apa pun. Meski aku seorang gadis remaja.

Keesokan harinya. Banyak sekali pelayat yang datang ke rumah kami. Tak henti-hentinya. Termasuk teman sekolahku dan beberapa orang guru sebagai perwakilan. Rini dan maya, dua sahabatku sudah datang dari pagi-pagi sekali membantu menegarkan jiwaku. Membesarkan hatiku.

Hingga siang setelah salat zuhur, jenazah papah dimakamkan. Di TPU terdekat. Prosesi terberat yang aku rasakan. Tapi sekali lagi, aku harus tegar. Memeluk mamah yang sudah lemas. Tidak kuat berdiri. Prosesi itu semakin menggetarkanku tatkala jenazah papah di timbun dengan tanah merah. Dan ditaburi kembang di atas pusara. Aku pun tak kuat menahan tangis. Beberapa ibu-ibu tetangga terus menenangkan kami. Menguatkan.


Lihat selengkapnya