BAB 2
“Sahabat itu tidaklah seperti kentir dan cahayanya
Jika minyaknya habis, sang cahaya akan meninggalkan kentir tersebut
Sahabat tidaklah berlaku demikian
Sahabat akan selalu dekat berada di samping kita, apapun kondisinya.”
Setelah tujuh belas hari aku mengucilkan diri di rumah–termasuk dua kali sabtu dan minggu. Menyepi dari berbagai kegiatan belajar offline. Menyepi dari pergaulan dengan teman-teman. Menyepi dari hiruk pikuk dunia. Aku ingin kembali ke sekolah. Kebetulan besok adalah hari senin. Sudah dua minggu aku meliburkan diri. Memohon izin pada wali kelasku-Bu Asma. Dialah wali kelas terbaik yang pernah memayungi kelasku. Dan menjadi wali kelas terakhirku di SMA Pelita Unggul. Kurang dari lima bulan ke depan aku akan meninggalkan SMA penuh kenangan itu.
Selama dua minggu, aku selalu mengikuti kegitan belajar secara live. Guru-guru berinisiatif mengajak aku ikut kegiatan belajar dari rumah, mereka siaran langsung melalui handphonenya. Aku sangat terbantu. Kadang aku bertanya pada dua sahabatku–Rini dan Maya, mengenai pelajaran yang tak kumengerti. Maklum penjelasan live di handphone kadang membuatku ngantuk. Beda dengan menghadiri kelas offline. Lantas mamah memintaku untuk masuk sekolah saja. “Rasanya sudah cukup dua minggu kamu belajar di rumah. Kamu harus bertemu teman-temanmu. Kamu akan terhibur nanti.”
“Mamah aku tinggal sendiri ngga pa-pa?” tanyaku khawatir. Ya, aku masih mengkhawatirkan mamah. Aku takut terjadi sesuatu yang tidak kuinginkan kala mamah sendiri di rumah. Mamah memang sudah mengikhlaskan, tapi kadang kulihat masih suka melamun sendiri. Kerap kali kulihat mamah sedang memperhatikan foto almarhum papah di ruang tamu. Mengelusnya. Kadang memeluknya. Aku tahu perasaan mamah seperti apa. Tanpa sepengetahuan mamah, aku juga suka melakukan hal yang sama.
"Kamu ngga usah pikirkan. Mamah baik-baik aja.” Ya sudah, kuputuskan senin besok masuk sekolah. Bertemu teman-teman sekolahku. Teman sekelas. Dan sebangku. Aku excited sekali. Aku sudah kangen dengan canda dan tawa bersama mereka. Kangen berinteraksi dengan guru yang berhubungan dengan mata pelajaran yang tak kumengerti. Aku kangen mengenakan seragam putih abu-abu. Seragam yang akan aku kenakan beberapa bulan lagi sebelum aku meninggalkan bangku SMA. Karena kata orang–masa SMA adalah masa yang paling indah–bagiku benar sekali. Masa dimana peralihan terjadi di sini. Peralihan dari dunia remaja menuju fase awal dewasa. Peralihan menjadi individu yang mandiri–sedikit egois. Dan aku sangat menikmati berada di fase ini. Dan fase dimana aku menyukai seorang siswa. Melintas rasa ingin bertemu dengannya. Sekadar melihat wajahnya.
Nama siswa itu Fajar Alamsyah. Siswa berkacamata berwajah kalem tapi berotak cemerlang. Berbeda kelas denganku. Dia sekelas dengan sahabatku, Maya. Fajar selalu menduduki tiga besar dikelasnya dari kelas satu hingga kelas tiga. Fajar menjadi bintang di SMA-ku. Dan yang menjadi daya tariknya semakin kuat adalah Fajar rajin beribadah. Menjaga salatnya. Pembawaannya yang kalem juga menarik perhatianku. Tentu aku tak sendiri. Sainganku banyak sekali. banyak yang ingin dekat-dekat dengannya. Tapi anehnya, menanyakan mata pelajaran adalah cara yang sama yang kami gunakan untuk mendekatinya. Aku pun memakai cara yang sama.
Sampai di rumah, aku menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Mamah hanya meminta dibuatkan roti tawar diolesi selai srikaya yang menjadu kesukaan almarhum papah. Pun denganku.
Siap dengan sepiring roti berselai dan secangkir cokelat hangat. Kuhampiri mamah yang duduk sambil menggulirkan butiran tasbih di tangannya. Tasbih berwarna hitam glossy pemberian istri pak Andi sehabis pulang umroh akhir tahun kemarin. Tasbih itulah yang menguatkan mamah mengarungi kehidupan tanpa nahkoda. Dan tasbih itulah yang menemani mamah mengambil alih setir nahkoda.
Aku dikejutkan dengan kehadiran ibu-ibu tetangga yang mengetuk pintu rumah kami yang hanya tertutup setengahnya saja. Ucapan salamnya dijawab oleh mamah. Ibu-ibu yang sudah lama tidak bersua dengan mamah –karena mamah mengasingkan diri di rumah, membawa beberapa penganan untuk sekedar ngobrol. Sesuatu yang sudah lama tidak dilakukan mamah.
Aku pun mempersilahkan mereka masuk. Berjalan ke dapur membuatkan teh hangat untuk ibu-ibu tetanggaku yang banyak membantu kami. Selagi mereka ngobrol ngalor ngidul, aku membereskan buku-buku yang harus ku bawa besok. Kulihat jadwal matpel yang kutempelkan di meja belajar. Bahasa Inggris tertera di sana. Aku suka sekali dengan matpel satu ini. Dan nilai Bahasa Inggrisku sangat baik.
Tak sabar aku menunggu esok pagi.
-)(-
Aku bangun di jam lima pagi. Masih memicingkan mata kala lampu kamar kunyalakan. Seraya berdiri, aku meregangkan otot-otot tubuhku–ngulet. Melemaskan yang kaku karena tidur miringku yang tidak berubah sampai terbangun. Kebas terasa di tangan kanan. Menopang kepalaku sejak tertidur. Aku gerak-gerakkan tangan kananku. Bahkan kuputar 360 derajat dari lengan hingga ke ujung jari sambil tangan kiri memegang bahu kananku.
Selanjutnya ritual pagi yang paling aku suka. Mandi. Tujuh belas hari yang melelahkan mental, hampir tidak pernah kurasakan lagi mandi pagi di jam lima. Selama tujuh belas hari, selalu di atas jam sepuluh pagi. Bahkan kalau aku belajar online pun, aku tak pernah mandi pagi–toh aku pikir tidak terlihat oleh teman-temanku.
Segar sekali. Seluruh tubuhku merasakan curahan semangat dari aliran air yang merasuk ke sendi-sendiku. Menyuntikkan napas di nadiku. Kulitku tersapu belaian dari wangi sabun yang kupakai. Tak lupa meniupkan napasku ke telapak tangan. Sudah harum.
Aku duduk di depan meja belajar. Kupandangi wajahku sendiri. Kutarik napas panjang. Untuk pertama kalinya aku akan pergi sekolah tanpa mencium punggung tangan papah. Tangan yang selalu merestui perjalananku. Hanya punggung tangan mamah yang tersisa. Akan selalu kucium kemanapun aku meninggalkan rumah. Dan akan aku cium punggung tangan mamahku lagi ketika aku kembali.
“Kamu sudah siap, Nak?,” tanya mamah ketika aku keluar dari kamar.
“Sudah, Mah. Aku siap belajar di kelas lagi.”
“Semangat ya, Nak. Tinggal beberapa bulan lagi kamu menanggalkan seragam SMA itu,” ucap mamah dibarengi dengan senyum bangganya. Aku memeluk tubuhnya. Tubuh yang tadinya selalu memancarkan keceriaan. Sekarang telah berubah. Walaupun suram di wajahnya menghilang namun masih tersisa kegelapan yang terpancar.
Aku memastikan kalau mamah baik-baik saja ketika kutinggal berangkat sekolah. mamah mengatakan padaku untuk fokus belajar. Tidak perlu memikirkannya. Seraya memasukan roti sandwich yang dibuatnya. Mamah memelukku. “Kamu bisa melewati ini semua. Mamah yakin kamu akan menjadi orang yang sukses.” Aku mengamininya. Berjanji padanya, aku akan menjadi anak yang bisa mamah banggakan nantinya.
Lalu aku berlari keluar rumah. Tukang ojek yang selalu jadi langgananku sudah menunggu di depan rumah. “Berangkat Baaanngg ...” ucapku sambil meraih helm bututnya.
“Beres, Neng ...”
Mamah tersenyum melihatku sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku melambaikan tangan padanya. Aku lihat mulut mamah komat kamit seperti mengirimkan doa untukku. Terima kasih Mah. Aku lantas mendoakan mamah. Semoga mamah tidak terus kepikiran almarhum papah.
-)(-
Aku yang telat berangkat dari rumah–karena menunggu tukang ojek mengantar anaknya ke sekolah, hampir saja ketinggalan jam pelajaran pertama. Pak Komar yang bertugas menjaga sudah menggeret gerbangnya. Aku berteriak kencang agar Pak Komar menyisakan pintu kecil untukku.
“Loh, Nak Amara, sudah masuk?”
Kujawab dengan napas tersengal. “Sudah, Pak. Aku bosan belajar sendiri di rumah." Lalu aku berlari ke kelas. Aku mindik-mindik. Sampai di depan pintu, aku membungkukkan badanku. Mengintip melalui lubang kunci. Melihat guru matematika sudah di dalam kelas atau belum datang.
“Amara!” Aku terhenyak. Suara tegurannya mengingatkanku ketika aku tidak mengerjakan tugas matematika. Bu Nainggolan. Aku menoleh perlahan. Dan benar saja. seorang guru yang berasal dari Medan itu telah berdiri di belakangku. Sambil tersenyum. Kali ini senyum ramah, bukan senyum yang galak sepeti biasanya.
“Kamu sudah masuk?” Pertanyaan yang sama dengan pak Komar–penjaga gerbang sekolah.