FIRST LOVE NEVER TRULLY ENDS

hadi wiyono
Chapter #4

BAB 3 - MENEMBUS BATAS

BAB 3


“Akhir bukanlah berhentinya sebuah kisah

Namun permulaan dari rangkaian perjalanan panjang meniti jembatan kehidupan mencari kebahagiaan.”


“Sudah siap, Nak?” Dua lapis roti tawar dimasukkan ke dalam tasku. Mamah tidak pernah letih menyiapkan segalanya. Setiap pagi. Padahal aku berjanji untuk mengambil alih tugas-tugas mamah. Tapi hari ini aku kesiangan.

“Siap, Mah.” Aku memasukkan spidol berwarna merah yang kemarin kubeli di toko buku dekat rumah. Mamah melirikku. Hanya dehem saja yang keluar dari bibirnya. Tetapi tak lama kemudian beliau tersenyum dengan sudut bibirnya yang mulai mengeriput.

Aku merajuk manja di depan mamah. “Ini sekali seumur hidup, Mah. Waktu kelulusan SMP kan aku ngga coret-coret."


"Iya Mamah ngerti kok. Makanya Mamah siapin baju seragam SMA kamu yang jelek aja. Sayang kalo yang masih bagus buat coret-coretan,” ujarnya tersenyum, lalu menggigit selapis roti tawar berselai mentega dan meses. “Yang bagus kamu kasih ke yang membutuhkan ya. Ingat yang almarhum papah ajarin ke kita”

Aku mengiyakan saran mamah. Memang tidak baik melakukan sesuatu yang berlebihan. Dan aku anak tunggal, baju seragamku yang masih bagus-bagus tidak akan terpakai kalau aku tidak sumbangkan.

Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Aku menunggu dua sahabatku yang sedang berjalan ke rumah. Kami memang akan berangkat bareng naik taksi online. Kami semua–satu sekolah, sebenarnya sudah dinyatakan lulus. Tapi ada perpisahan kecil-kecilan dari guru-guru untuk kami. Kami dibebaskan berekspresi tapi hanya dilingkungan sekolah saja.

Yang kutunggu baru datang. Lewat sepuluh menit dari waktu janjian kita. Lantas kupasang saja wajah jutekku. Bukannya merasa, teman-temanku malah mencandaiku.

“Tuh bibir panjang amat. Kalah bajaj cute,” ledek Rini padaku.

“Emang bajaj cute monyong, Rin, setahu gue ngga deh," timpal Maya. Temanku yang satu ni memang dikenal rada-rada ‘pintar’. Daya pikirnya suka out of the box. Beda sendiri. Aku pun tersenyum menanggapi ocehannya.

“Bajaj cute bukan monyong lagi May, tapi tonggos,” balas Rini. Aku ngakak sekeras-kerasnya. Ada-ada saja dua temanku ini.

“Yuk ah kita berangkat. Gue pengen kita sampe sekolah duluan. Ini kan hari terakhir. Gue mau meresapi hari terakhir kita di sekolah.” Aku sangat antusias menjalani hari kelulusan.

“Elu mau meresapi hari terakhir di sekolah, apa meresapi Fajar?" Rini dengan suaranya yang cempreng berhasil membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Aku kadang menyerah dengan gaya bicaranya. Tetapi dia selalu menghiburku di kala aku terpuruk. “Sialan lu!" sergahku.

Kami berpamitan pada mamah. Berpamitan untuk mengucapkan salam perpisahan pada teman-teman. Inilah hari dimana kami akan bertemu untuk terakhir kalinya. Inilah hari segala perasaan berkecamuk di dada. Hari yang akan menentukan kemana arah tujuan kami, remaja yang akan beranjak dewasa ini. Karena di fase ini, kami sudah harus bisa memilih mana yang terbaik untuk hidup kami nantinya. Dan kami harus bertanggung jawab atas keputusan yang kami ambil sendiri.

Perjalanan ke sekolah hanya kami tempuh tak lebih dari tiga puluh menit. Sudah ada banyak siswa yang berkumpul di lapangan. Bergerombol, tidak lagi mementingkan dari kelas mana kami berasal. Tidak peduli berasal dari kelas ekonomi atas, menengah atau bawah. Semua melebur menjadi satu. Karena inilah momen kami. Momen untuk melepas beban setelah berjibaku selama tiga tahun lamanya. Seragam putih abu-abu yang kami kenakan akan menjadi seragam SMA terakhir kami.

Ah, masa SMA ini tidak akan pernah terulang. Belum apa-apa, aku sudah kangen.

Aku teringat, kala kami terlambat ke sekolah. Pintu gerbang sudah ditutup. Jam pelajaran sudah dimulai. Ada saja hukuman yang kami terima. Dari lari mengitari lapangan. Dijemur dengan sikap hormat melihat bendera merah putih. Atau kami tidak boleh masuk hingga berganti jam pelajaran. Atau ingatanku beralih ke siswa-siswa yang tawuran namun disambut bak pahlawan saat kami kembali. Ya, bak pahlawan. Ketika sekolah kami diserang oleh sekolah tetangga –berkisar jarak seratus lima puluh meter dari sekolah kami. Guru-guru justru membukakan pintu gerbang, agar siswanya keluar dan menyerang balik. Ini dilakukan agar sekolah kami tidak hancur dilempari batu oleh siswa-siswa provokator itu. Jadilan ruas jalan yang berjarak dekat antar sekolah menjadi ramai. Batu sebesar bola tenis atau bola pingpong melayang di udara. Menyasar lawan. Dan saat siswa-siswa itu kembali, kami siswi-siswi berbaris di belakang gerbang menyambutnya. Disinilah aku sering melihat Fajar, diteriaki oleh siswi-siswi yang berbaris. Dia magnet dari banyaknya siswa di sekolah ini.

Angkatanku terdiri dari sepuluh kelas. Lima kelas jurusan IPA, empat kelas jurusan IPS dan satu kelas jurusan Bahasa. Dan angkatanku menjadi angkatan terakhir yang masih menggunakan jurusan-jurusan itu sebelum kurikulum Merdeka diberlakukan–kurikulum tanpa jurusan untuk SMA.

Segerombolan siswa siswi mulai berdatangan. Memenuhi lapangan. Kami tak lagi memasukkan baju seragam ke dalam celana ataupun rok. Sudah tidak ada aturan yang mengikat. Aku celingak celinguk mencari keberadaan Fajar. Belum kutemukan. Aku kembali bergabung dengan teman-temanku. Jam sembilan pagi, semua siswa siswi sudah hadir dan berkumpul dalam barisan seperti sedang upacara bendera. Kali ini dikelompokkan sesuai dengan kelas kami. Dan ini terakhir kalinya kami berkumpul dengan teman sekelas.

Acara dimulai. Kepala sekolah naik ke atas mimbar. Memberikan kata sambutannya. Sedikit nasehat terselip didalamnya untuk kami yang akan mengarungi fase kehidupan baru.

“… Perjuangan kalian semua akan dimulai hari ini, setelah kalian keluar dari sekolah ini. Itu adalah perjuangan yang sesungguhnya. Pesan kami para pengajar. Kalian harus pintar mencari teman, karena teman akan menjadi motivasi dan gambaran masa depan kalian sendiri. Jangan mudah terbawa arus pergaulan yang tidak baik. Teman itu bisa  menjerumuskan dan bisa membawa kita ke arah yang lebih baik .…”

Masuk akal sekali apa yang disampaikan oleh Bapak Kepala Sekolah. Teman akan menentukan masa depan. Karena pengaruh teman dalam pergaulan itu besar sekali dari pada pengaruh keluarga.

“… Kalian sudah harus berpikiran mandiri. Berusaha sendiri. Mengerjakan apapun sendiri. Jangan tergantung pada orang lain. Karena dalam masa perkuliahan nanti, semuanya dilakukan sendiri ....”

Sedikit menakutkan. Tapi yang kudengar dari tetanggaku yang sedang menjalani masa perkuliahan memang seperti itu. Semuanya serba dilakukan sendiri. Tidak bergantung pada siapapun. Apakah ini juga gambaran dunia kerja nanti. Entahlah. Aku tidak membayangkannya sama sekali. Imajinasiku tidak sampai ke sana. Hanya yang di depan mata saja yang akan kujalani. Dan rencana jangka pendekku tentunya.

“… Akhir kata Bapak berpesan pada kalian semua.  Sayangi orang tua kalian. Minta doa restu padanya. Tanpa doa restu orang tua, semuanya akan terasa berat. Selalu cium tangan orang tua kalian begitu pergi atau pulang. Itu adalah bakti kalian pada mereka .…"

Riuh tepuk tangan bergemuruh. Teman-teman seangkatan sangat respek pada kepala sekolah kami-dia sosok pemimpin yang baik. Yang meninggalkan kesan mendalam bagi siswa-siswinya. Selanjutnya acara salam-salaman dengan para guru yang berdiri berjajar di samping kanan kiri bapak Kepala Sekolah. Lalu kami berbaris menyalami semua guru yang telah berjasa tak terhingga.

Lihat selengkapnya