FIRST LOVE NEVER TRULLY ENDS

hadi wiyono
Chapter #5

BAB 4 - BIARLAH SEMUA BERJALAN SESUAI KEHENDAK-NYA

“Kamu tidak bisa memaksakan semua orang untuk tetap berteman baik padamu

Kamu hanya perlu melonggarkan waktu sedikit saja, untuk mengetahui siapa yang akan tetap memilihmu untuk selalu berada di sisimu.”


Menjelang senja di sore ini, aku menelusuri jalan dari rumahku keluar komplek, kemudian melurusi trotoar jalan. Memakai sendal jepit karet, celana pendek dan t-shirt putih membuat penampilanku jadi pusat perhatian para kaum pekerja keras di jalanan. Tidak kurang seperti sekuriti, tukang parkir hingga driver ojol sekali pun tak berhenti menatapku. Hiburan tersendiri untuk mereka yang sedang menepi di pinggir jalan dengan cuaca yang masih sama seperti jam dua siang. Teriknya tak terkalahkan. Rumah Maya terletak di sisi kanan jalan begitu keluar dari portal komplek. Jadi aku tidak perlu menyeberang jalan. Beda dengan rumah Rini yang letaknya di seberang jalan depan komplek.

Aku Sudah sampai di depan rumah Maya. Kutekan bel yang terletak di atas pintu pagar dan menempel di dinding beberapa kali. Tak menunggu lama, Maya keluar menemuiku. Cukup terkejut temanku saat aku bertamu.

“Ada apa, Amara?” Kujawab dengan mengangkat makanan yang kubawa, lalu aku berucap sudah mengirimkan pesan padanya tapi tidak dibalas. “Eh i-ya itu, e-e gue baru pulang. Tadi konvoi sama anak-anak.”

"Lu kok ngga ajak gue sama Rini, May?”


“Tadi gue dadakan aja. Gue juga ditarik gitu sama anak-anak naek mobil bak terbuka.”

Kuperhatikan bola matanya tidak berani menatapku. Dan kedua tangannya bersedekap–sikap defensif sambil menggenggam handphonenya. Aku bisa jelas merasakan kalau Maya sedang berbohong. Sedang menutupi sesuatu. Aneh. Hari ini benar-benar tidak kumengerti. Kenapa kedua temanku bersikap tak wajar. Mereka sedang menyembunyikan sesuatu yang tidak kutahu tentang apa.

“Ya paling ngga, lu bisa bales lah chat gue.”

“Hp gue lobet, jadi gue ngga bisa bales chat lu.”

Kalau memang daya baterai handphonenya tersisa sedikit, kenapa pesanku bisa diterima, bahkan kulihat sudah dua centang biru. Itu artinya dia sudah membaca pesanku.

“Ya udah May. Nih ...” Aku kembali memberikan makanan yang kubawa. Maya menerimanya dengan terpaksa, aku tahu itu. Kuputuskan pulang setelah berpamitan padanya, pada temanku sejak kecil dengan sikapnya yang acuh. Tak bersahabat.

Baru berjalan beberapa langkah dari rumahya, aku berinisiatif kembali. Aku penasaran, karena firasatku berkata tidak baik. Pelan kumelangkah, sampai di depan rumahnya aku mengintip dari sela-sela pagar kecil. Benar saja firasatku, makanan yang kuberikan dibuang ke tempat sampah di halamannya. Melihat kejadian itu, aku hanya bisa menahan kegeramanku pada Maya. Aku sudah susah-susah membawa makanan untuknya, tetapi dia buang begitu saja. Maya tidak menghargai pemberianku. Bahkan dia tidak menghargai pertemanan kami sejak duduk di bangku SMP–kami selalu bertiga disekolah yang sama. Hingga perjalanan persahabatan kami hari ini.

Lalu aku bergegas cepat meninggalkan rumahnya.

Salah aku apa sama Maya. Aku tidak pernah mengucapkan hal yang menyinggung perasaannya. Aku tidak pernah berlaku tidak sopan padanya. Malah, aku yang paling pendiam diantara kami. Aku yang paling menjaga ucapan agar tidak melukai perasaan teman-temanku. Pelajaran hidup itulah yang selalu kedapatkan dari almarhum papah.

“Kalau kamu tidak mau disakiti orang lain. Jangan pernah sekalipun kamu menyaktinya. Ingat, Nak, lidah itu tidak bertulang. Satu kata yang keluar dari mulutmu menyakiti perasaan orang lain, akan sulit dilupakan oleh orang tersebut. Selamanya. Mungkin kamu bisa meminta maaf, tapi gimana dengan mentalnya. Apa bisa sembuh seketika. Ingat teori gelas pecah. Mungkin kita bisa menyatukannya kembali, tapi ada retak yang tidak bisa disatukan."

Aku ingat betul wejangan papah saat kami bersantai di balkon rumah sambil memakan pisang goreng buatan ibu. Setiap akhir pekan, agenda meminum teh di sore hari ditemani gorengan adalah sesuatu yang wajib kami lakukan. Setidaknya ada peraturan tidak tertulis jika kami sedang bersama di rumah.

Kenapa hatiku sakit kembali merasakan ini, hancur atas perlakuan teman yang sudah kukenal lama. Walaupun rasa sakitnya tidak sesakit ketika kehilangan papah. Salahku adalah menganggap semua orang akan baik padaku karena aku sudah baik padanya. Tapi itu kan salah satu yang diajarkan papah.

“Tidak masalah jika kebaikan pada orang lain tidak berbalik padamu. Ingat, Nak, kasih Tuhan dan semestanya itu jauh lebih besar dan luas dari yang kamu bayangkan."

Aku kangen papah yang selalu memotivasiku dengan kata-katanya Yang bijak. Aku belum datang lagi ke rumahnya. Belum kusampaikan berita gembira kalau aku sudah lulus SMA. Seragam putih abu-abu sudah kutinggalkan. Mungkin ini teguran semesta untukku, agar aku berkunjung ke rumah almarhum papah. Aku ingin membersihkan rumahmu yang kuyakini sudah tertumbuhi rerumputan hijau. Aku juga ingin memeluk nisanmu yang sudah terganti dengan nisan permanen, yang terbuat dari batu pualam yang kupesan dari Sulawesi. Aku ingin bercerita tentang muramnya dunia setelah engkau pergi.

Pah, aku merindukanmu.

"Amara ... Amara ....” Suara panggilan menyadarkanku. Belum sempat kutepis sebulir air mata yang jatuh, Rini sudah berada di depanku.

"Eh lu kenapa. Kok nangis?” Aku memeluknya. Menangis dipinggir jalan, tak peduli banyak mata yang memperhatikanku. “Amara lu kenapa, hah?”

Setelah kukuasai keadaan, aku menceritakannya pada Rini. Dan tanggapan Rini justru menyalahkanku, “Kan udah gue kasih tau, lu udah ngga usah cari dia lagi. Lu sih kadang ngeyel, terlalu baik sama orang.“ Aku heran dengan perkataan Rini, sepertinya ia tahu sesuatu. Tapi kenapa tidak mau bercerita.

“Emang kenapa sih Rin?”

“Udah sekarang lu ngga usah pikirin itu. Lu pikirin buat ujian masuk PTN. Inget cita-cita bokaplu. Dia pengen lu dapetin kampus terbaik.” Tutur kata Rini sangat lembut seperti mamah. Memotivasiku. Aku yakin dia tahu sesuatu, dan dia tidak mau memberitahuku. Dia tidak ingin aku bersakitan-sakitan terus setelah papah pergi. Dia ingin aku bisa masuk PTN ternama. Terbaik di negeri ini.

Rini menyuruhku pulang, menenangkan pikiran dan fokus pada pembelajaran menjelang ujian masuk PTN.

Dan tanpa sepengetahuanku, Rini datang ke rumah Maya. Melabraknya dan mengatakan kalau ia tahu sesuatu. “Jejak itu lu buang di tong sampah toilet sekolah kan, May. Gue yang nemuin.” Maya pucat seketika saat Rini mengetahui boroknya. “Dan asal lu tau, May. Amara liat lu buang makanan yang dibawanya dari rumah, khusus buat lu!! Malah lu sia-siain. Keterlaluan lu, May. Lu ngga hargain Amara sama sekali!” Rini berapi-api memborbardir Maya dengan nada yang keras. Tidak memberikan kesempatan sekalipun pada Maya untuk bicara. “Lu udah ngorbanin persahabatan kita May. Bye!” Dengan kesalnya Rini meninggalkan Maya yang tertunduk malu, lalu masuk ke dalam rumahnya.

Senja menyambutku begitu aku sampai di depan rumah. Semburat merah jambu berpadu dengan jingga tersenyum manis padaku. Gradiasi warna senja yang indah merasukku dengan kesedihan pilu. Senja hari ini tak membuatku tertarik memandang lebih lama. Sekali lagi, inilah senja yang kembali membuatku merasakan sesak yang mendalam. Memikirkan yang baru saja terjadi. Aku masih heran, kenapa bisa terjadi demikian. Kenapa aku lagi yang mengalami.

Ah, indahnya senja belum bisa kunikmati sejak kepergian papah. Dan sejak menghilangnya cinta pertamaku-Fajar. Lirih kusebut namanya.


-)(-


Lihat selengkapnya